KetikaRasulullah Berpuasa Asyura. Sabtu, 06 Agustus 2022 | 11:00. Kisah Guru yang Belajar dari Muridnya. Rabu, 03 Agustus 2022 | 19:57
F Zaman Penjajahan Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia (abad 15 s/d abad 19) 1. Orthodoxia di bawah Islam Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja Barat yang selalu diharapkan namun tak pernah terbukti itu, akhirnya dampaknya tak dapat dibendung lagi.
GRIYASUNNAH | TOKO BUKU MAJALAH ISLAM SALAFY d/a Perum KCVRI 2 Kencuran Sukoharjo Ngaglik Sleman Jogja 55581 Telp/sms/WhatsApp/Telegram: 089-7775--4008-1717 Web: griyasunnah.com, griyasu
Rofi M (1999) STUDI KORELASI ANTARA PENGGUNAAN METODOLOGI PENGAJARAN AGAMA (MPA) DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SD AL-HIKMAH GAYUNGSARI SURABAYA. Undergraduate thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Rofiah, Ainun (2015) Pengarusutamaan Gender (Gender Mainstreaming) dalam Kebijakan Pendidikan Islam Tahun 2010-2014.
DalamAgama Islam, Bunda Maria disebut sebagai Siti Maryam (bahasa Arab: مريم), Ibu dari Nabi Isa (bahasa Arab: عيسى بن (Inggris) Studi mengenai sang perawan yang terberkati dalam kitab suci Diarsipkan 2007-06-13 di Wayback Machine Halaman ini
MenyusuriJejak Suci. Download Menyusuri Jejak Suci PDF/ePub or read online books in Mobi eBooks. Click Download or Read Online button to get Menyusuri Jejak Suci book now. This site is like a library, Use search box in the widget to get ebook that you want. If the content Menyusuri Jejak Suci not Found or Blank , you must refresh this page
EBMzlbM. Nabi Zakaria semakin heran ketika melihat buah-buahan musim dingin berada di situ. Bahkan, buah-buahan yang namanya belum pernah diketahuinya pun ada dalam nampan tersebut. Baunya sangat harum, berwarna cerah, dan segar. Sungguh, dalam usianya yang masih sangat muda waktu itu, Maryam telah berkata penuh hikmah kepada Zakaria yang sudah berusia lanjut. “Jika berkehendak, Allah kuasa melimpahkan rezeki yang tidak terbatas...” Ya, sungguh benar apa yang telah Maryam katakan. Segalanya harus diminta dari sisi Allah. Dialah Zat yang perbendaharaan kekayaan-Nya tiada berbatas dan tidak mungkin berkurang. Sungguh, Maryam adalah putri yang mulia dengan kata- katanya yang penuh hikmah. Sebenarnya, hakikat yang didapati Maryam bersumber dari ajaran Nabi Zakaria. Kini, kepribadian mulia yang ada pada diri Zakaria telah berkembang, pecah menjadi dua. Nabi Zakaria pun mengangkat tangan untuk berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang juga berhati mulia seperti Maryam. Maryam sangat jarang bicara. Dirinya selalu bergegas untuk kembali mendirikan salat dan memperbanyak zikir kepada Allah. Nabi Zakaria yang melihat kepribadian Maryam ini tak kuasa menahan tangis. Ia berucap syukur kepada Allah dalam lantunan doa. Sungguh, Maryam memang hamba yang mulia. Dia ibarat bunga yang terjaga dengan sempurna sepanjang hari, terutama di waktu malam yang digunakannya untuk selalu bertasbih kepada Allah. 192Seandainya dirinya dikarunia seorang putra yang mulia seperti dirinya... Demikianlah suara lembut hati Zakaria untuk berdoa kepada Tuhannya.... “Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.” Maryam 19 2-6 Kemudian, Zakaria berpamitan dengan Maryam untuk kembali membuka dan menutup semua pintu seraya keluar dari mihrab. Saat Nabi Zakaria berjalan di dekat tempat pengumpulan kurban, ia kembali melihat seorang pemuda berpakaian putih yang sedang menunaikan salat. Dengan cepat, Zakaria melangkahkan kaki mendekati pemuda itu. “Mengapa di malam yang gelap gulita ini pemuda itu sudah berada di sini? Bagaimana dia bisa memasuki ruangan ini? Tidak ada orang lain di tempat itu. Lantas, bagaimana dia tiba-tiba bisa masuk?” pikir Nabi Zakaria. Saat itulah sang pemuda yang tidak lain adalah Malaikat Jibril itu berseru kepada Zakaria . 193“Hai Zakaria, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu akan beroleh seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dirinya.” Maryam [19] 7 Zakaria pun kaget seraya berlindung kepada Allah. Ia segera mengucapkan basmalah dan bergegas mendirikan salat. Suara yang baru saja didengarnya itu kini kembali berseru kepadanya. Para malaikat memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab. “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran Yahya yang akan membenarkan sebuah kalimat firman dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri dari hawa nafsu, dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” Ali Imran [3] 39 Seusai mendirikan salat, Zakaria mengangkat kedua tangannya untuk kembali berdoa dengan hati yang paling khusyuk. “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul? Berilah aku suatu tanda bahwa istriku telah mengandung.” Wahyu pun turun... Tandanya bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” Zakaria hampir pingsan tertelungkup saat bersujud. Ia pun melakukan sujud syukur atas kabar gembira itu. Kedua 194telinganya masih berdesing. Jantungnya juga berdebar-debar keras merasakan wahyu yang baru turun. Dirinya telah mendapatkan limpahan nikmat yang sangat besar. Allah telah menurunkan wahyu-Nya untuk memberikan kabar gembira yang telah bertahun-tahun dinantikannya dengan penuh harapan dan ratapan. Nabi Zakaria luluh dalam tangisan. Napasnya seakan-akan tersendat. Ia luluh dalam tangisan sampai susah bernapas dalam tangisan disertai batuk yang tidak berhenti. Beberapa saat kemudian, suara tangisannya terdengar seperti seorang yang terjepit di antara dua pintu atau tertindih batu. Doa-doa yang ia panjatkan seolah-olah telah mengeluarkan isi jantung dan hatinya. Tiba-tiba, dari dalam ruangan memancar seberkas cahaya. Pada saat yang sama, Zakaria merasakan tubuhnya ditindih sesuatu yang sangat berat. Ia pun kemudian berusaha melonggarkan ikatan pada kerah bajunya. Tubuhnya kembali tertelungkup saat mencoba berjalan menuju ruang persembahan karena lantai yang begitu dingin tersentuh kedua telapak kakinya. Nabi Zakaria pun menggigil seperti terkena malaria. Ia tidak mampu berbuat apa-apa. Tak mampu membuka mulut untuk berteriak meminta bantuan. Tubuhnya terus menelungkup dengan kedua kaki yang ia ganjalkan pada perut untuk menahan dingin yang semakin menjadi-jadi. Dingin yang luar biasa. Bibirnya kini bergetar dengan gigi- gigi yang saling berbenturan. Dalam kondisi seperti ini, tak ada yang mampu ia lakukan kecuali mengucapkan kata Allah lewat getaran di bibirnya. Entah berapa lama Zakaria berada dalam keadaan seperti itu. Ia mencoba bangkit, namun selalu kembali jatuh. 195Saat kedua matanya dapat terbuka, hari sudah menjelang pagi. Ia pun berusaha bangkit dalam keadaan sekujur tubuh kuyup oleh keringat. Perlahan, ia mencoba membenahi jubah dan syalnya, serta beranjak kembali ke rumahnya. Al-Isya sangat kaget begitu membuka pintu untuk suaminya. “Apa yang telah terjadi, bagaimana keadaan Maryam? Mengapa terlambat begitu lama?” tanya al-Isya. Zakaria tidak menjawab berondongan pertanyaan itu. Mulutnya seolah-olah terkunci dan lidahnya tidak lagi dapat berkata-kata. Seluruh kata tertelan ke dalam mulutnya. Nabi Zakaria tidak dapat berbicara. Kemudian, ia memberikan isyarat untuk diam dengan jari tangannya dan kemudian beranjak menuju kamar. -o0o- Genap tiga hari nabi Zakaria tidak keluar dari rumah. Kondisinya masih sama dengan hari pertama, terus menggigil dan menangis sambil berzikir kepada Allah. Orang-orang yang datang ke rumahnya mengira dirinya sakit parah. Mereka pun panik dan khawatir. Namun, Zakaria memberikan isyarat dengan tubuhnya agar mereka jangan sedih dan khawatir. Ia mencoba meyakinkan kerabatnya bahwa dirinya baik-baik saja. Tiga hari lamanya Zakaria dalam keadaan seperti itu. Yang keluar dari mulut Zakaria bukanlah kata-kata dan kalimat. Tidak ada seorang pun yang memahami arti suaranya dalam napas yang terengah-engah, tersedak dalam tangisan. Ia juga sama sekali tidak berkenan makan maupun minum. 196Akhirnya, al-Isya paham. Suaminya sedang menyimpan rahasia yang begitu luar biasa. Nabi Zakaria kembali jatuh pingsan setelah menyebut Yaa Rabb!’ Begitu siuman, ia segera mengambil wudu untuk mendirikan salat. Saat salat, ketika menyebut kata Ya Allah’, kedua kakinya gemetar sampai kemudian jatuh dalam sujud. Hanya isak yang sedu-sedan yang terdengar dari lafaz zikirnya. Makna dari lafaz-lafaz zikir itu, hanya Allah dan Nabi-Nya yang tahu. Nabi Zakaria tenggelam dalam lautan zikir. Lidah dan kedua matanya tidaklah berucap dan melihat selain kekuasaan Allah. Nabi Zakaria memang seorang ahli zikir. Hatinya begitu lembut. Ia telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk merawat Maryam, keponakan dari istrinya. Sungguh, ia adalah seorang nabi yang penuh pengorbanan. Alim. Zuhud. Ia sangat senang menunaikan salat. Tidak pernah sejenak pun lupa dari berzikir kepada Allah. Namun, kondisinya saat ini luar biasa. Nabi Zakaria seolah-olah seorang hamba dari alam lain. Ia tidak berbicara dan hanya mengeluarkan suara yang menandakan cintanya kepada Tuhan tanpa seorang pun mengetahui maknanya. Sama seperti wahyu yang diberitakan, Zakaria tidak mampu berbicara dengan seorang pun. Tidak bisa berkata sepatah pun dalam bahasa dunia. Ia seolah-olah telah berada dalam dimensi dunia lain. Tidak ada lagi yang bisa diperbuat kecuali senantiasa berzikir. Zikir adalah salat, doa... Zikir adalah ingat dan mengingat, membangkitkan kembali akal, membersihkan dan membuatnya menjadi kembali fokus. Dan kini ia memusatkan semua titik fokusnya kepada Allah. 197Zikir seperti pergi ke luar. Menguak, melahirkan segala yang tersimpan dan terpendam sebagaimana melepaskan ikatan kuda dari dalam kandangnya untuk dipacu sekencang- kencangnya. Bagi Zakaria, ia kini sedang berlari sekencang- kencangnya kepada Allah. Terkoyak dalam kerinduan kepada- Nya, seperti hempasan aliran sungai menerjang batu-batu besar dari ketinggian gunung. Dan zikir adalah melesat ke depan. Melesat dengan kencang anak panah doa dan munajat yang terlepas dari busurnya menuju Allah. Setelah berada dalam keadaan yang begitu luar biasa menyimpan rahasia, Zakaria akhirnya kembali dapat berkata- kata dalam bahasa sehari-hari. Setelah menceritakan apa yang telah dialaminya kepada al-Isya, sang istri pun dengan penuh kesediaan dan kesetiaan membenarkannya. “Engkau adalah hamba tercinta dari Allah yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya. Seorang yang selalu melindungi hak-hak anak yatim, yang hidup dengan kesahajaan, serta berbuat baik terhadap kerabat, tamu, dan musair. Sungguh, apa yang telah diwahyukan kepadamu adalah sesuatu yang hak. Dan diriku telah mendengar, beriman, dan taat dengan hal itu.” Betapa mulia diri al-Isya sebagai teman hidup seorang nabi. Gembira dengan penuh luapan kasih sayang Zakaria memandangi kedua mata istrinya yang memancarkan keimanan dan kesetiaan. Mereka pasangan yang baik, sahabat yang mulia, sempurna, dan senantiasa bersyukur kepada Tuhannya. -o0o- 198Setelah hari ketiga, Nabi Zakaria kembali berdoa kepada Allah. “Duhai Allah, jika bukan sebuah kewajiban yang telah ditindihkan di atas pundakku, niscaya diriku tidak akan mencoba berzikir kepada-Mu. Sungguh, diriku tidak mungkin kuat berzikir sesuai dengan keagungan-Mu. Jadi, bagaimana mungkin diriku akan mencoba melakukan hal seperti itu? Sungguh, dapat bertasbih kepada-Mu dengan sebenar- benarnya adalah kemuliaan yang paling agung. Semoga Engkau berkenan melimpahkan nikmat itu, duhai Allah! Dan sungguh, limpahan nikmat agung yang telah Engkau anugerahkan kepada kami tidak lain adalah mengalirkan lafaz-lafaz zikir kepada-Mu dalam lidah kami karena Engkau telah memperkenankan kami bertahmid, tasbih, bermunajat, dan memanjatkan doa ke haribaan-Mu. Sungguh, beribu syukur hamba haturkan ke hadirat-Mu, duhai Allah! Duhai Rabbi, semoga Engkau berkenan menyempurnakan limpahan nikmat-Mu atas diri kami. Karuniailah kami anugerah untuk selalu dapat mengingat-Mu, baik ketika sendiri maupun dalam keramaian, saat siang atau malam, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dalam kenyamanan maupun kesusahan. Jadikanlah kami seorang yang selalu beramal dengan hati yang bersih tanpa mengharapkan apa-apa. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Janganlah Engkau menimbang kesalahan- kesalahan kami dengan neraca timbangan yang terlalu jeli! Duhai Allah! Para hamba-Mu yang berhati bersih selalu terikat dengan cinta dan kasih-Mu. Sungguh, hati hanya akan mendapati ketenangan dan mencapai kedalaman dengan mengingat-Mu. Demikian pula rasa dan nafsu hanya akan mendapati kepuasan, bahkan mencapai kemuliaan, ketika 199mencapai diri-Mu. Engkaulah Zat yang akan membuat setiap makhluk senantiasa bertasbih di mana pun dan kapan pun. Engkau juga yang disembah pada setiap masa. Tidak ada awal dan akhir bagi keberadaan-Mu. Engkaulah Yang Mahaawal dan Mahaakhir. Tuhan yang dipinta dalam setiap bahasa, dalam setiap pujian dan doa. Ya Rabbi! Jika sampai saat ini diriku pernah menyangka adanya hal yang lebih menyenangkan dan menggembirakan selain dari berzikir mengingatMu, jika saja diri ini pernah merasa adanya ketenangan pada hal selain diri-Mu, pernah mencari kedekatan selain dari mendekatkan diri kepada-Mu, pernah menyibukkan diri dari taat kepada-Mu maka sungguh diri ini bertobat atas semua itu. Sungguh, diri ini tobat seraya memohon ampunan dari sisi-Mu!” Luluh Sang Nabi yang setia dalam linangan air mata... -o0o- Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, al-Isya pun mengandung. Nama bayi yang dikandungnya telah ditetapkan jauh sebelum sang bayi berada dalam kandungan Yahya. -o0o- 20020. Lngt pn Bergerk Peristiwa yang terjadi dengan Maryam ikut disaksikan langit dengan sebuah kejadian yang besar. Para ahli astronomi di Harran menyatakan hal tersebut. Saat itu, langit menunjukkan kejadian luar biasa. Yupiter muncul dari sebelah timur rasi bintang Aries. Pada waktu yang bersamaan, bulan juga berada pada lingkaran rasi bintang Aries, yang kemudian bergerak menuju ke arah Yupiter. Namun, secara tiba-tiba, Yupiter juga bergerak mengarah ke rasi bintang Aries. Setelah menetap selama beberapa hari, Yupiter bergerak mendekati bulan. Keadaan seperti itu tentu saja menggemparkan. Menurut perhitungan para ahli astronomi, posisi bulan dan Yupiter yang seperti itu akan menyebabkan tabrakan dahsyat. Kiamat pun bisa terjadi. Sungguh tidak aneh jika mereka merasa khawatir. Apalagi, Matahari dan Saturnus juga secara mengejutkan telah berada pada lingkaran Aries. Namun, saat para ahli astronomi memperkirakan tabrakan dahsyat antara bulan dan Yupiter akan terjadi, secara tiba- tiba Yupiter berbalik arah menuju belakang lingkaran bintang 201Aries sehingga hati para ahli astronomi dipenuhi kelegaan. Pada akhirnya, Yupiter kembali kepada garis edarnya di antara planet-planet. Namun, sebuah peristiwa yang dialami ilmuwan muda dari madrasah Harran yang bernama Keldani Urpinasy telah menimbulkan desas-desus dan gunjingan di mana-mana. Pada saat Yupiter mengalami pergerakan kembali pada garis edarnya, Urpinasy bersama dengan sahabatnya dari Arab yang bernama Ismail Alawi dan Efridun Hurmuzi yang dari Persia sedang menggambar peta angkasa. Entah apa yang telah terjadi, kedua mata Urpinasy tiba-tiba buta. Meski seorang dokter bernama Revaha Nejrani telah menyampaikan bahwa kebutaan itu bersifat sementara, gosip dan gunjingan tetap menyebar ke mana-mana. Para guru dari madrasah ilmu astronomi berkata bahwa kejadian itu adalah bentuk hukuman akibat melampaui batas saat ingin mengetahui sesuatu. Wajarlah jika ilmuwan muda itu mendapatkan kutukan dari roh jahat. Sementara itu, para ustaz yang berpegang teguh pada itikad dan keimanan yang hanif menyatakan bahwa hanya Allah yang menjadi satu-satunya penguasa untuk memberikan hukuman, sedangkan setiap makhluk, seperti roh jahat, sama sekali tidak memiliki kewenangan menghukum. Lebih dari itu, melihat kejadian luar biasa di angkasa dan juga peristiwa yang dialami Urpinasy, mereka yakin bahwa semua itu merupakan tanda-tanda hari kiamat telah semakin dekat. Bukankah memang demikian? Ilmu sudah tidak lagi dihargai, kemaksiatan dan dosa merajalela, serta orang-orang suci dan tidak bersalah diusir dengan paksa dari tanah kelahirannya. Bahkan, para nabi 202yang menyeru dan membimbing umat manusia kepada jalan kebenaran pun mereka bunuh. Semua kejadian itu telah membuat seorang ustaz bernama Berra bin Urkusyi yang telah berusia seratus tahun lebih menyendiri atau beruzlah di balik jeruji besi. Sungguh, semua tanda itu telah menggambarkan hari kiamat semakin dekat, mungkin tinggal beberapa saat lagi. Di sisi lain, Ismail Alawi, Efridun Hurmuzi, dan Urpinasy sangat tahu bahwa yang membuat mata mereka buta karena terkena cahaya menyilaukan adalah pergerakan bintang berekor. Menurut Alawi, sesuai dengan kisah Arab kuno, bintang berekor itu dinamakan Bintang Betlehem meski seorang kepala madrasah ilmu astronomi bernama Hezarfen Taki Rafeti yang terkenal skeptis telah menolak mentah-mentah pendapat ini karena dapat mengganjal upaya-upaya penelitian akademis. Hurmuzi kemudian mengingatkan perihal ujian lisan di bulan depan sehingga menyarankan sahabatnya tidak pernah menyinggung tentang cerita-cerita kuno. Hal itu dapat membuat para ustaz yang menguji tes lisan naik pitam. Ismail Alawi pun setuju sehingga cerita kuno tentang bintang Betlehem hanya menjadi rahasia di antara mereka bertiga. Meski buta sementara yang diderita Urpinasy telah sembuh, pengaruh khayalan selama sakit tidak juga kunjung lenyap dari angan-angannya. Selama sakit, Urpinasy mendengar seruan tentang kedatangan seorang raja yang dapat menyembuhkan orang-orang sakit, memulihkan orang buta, menyembuhkan kusta, hingga kemudian dirinya akan diangkat ke langit. Ia juga mendengar bahwa dirinya harus mengikuti pergerakan bintang berekor itu ke arah Betlehem untuk mengikuti jejak sang raja. 203Setelah menyelesaikan ujian akhir tahun, ketiga pemuda itu memutuskan mengikuti jejak bintang berekor itu. Mereka menghadap para ustaz di madrasah ilmu astronomi dan meminta izin mengadakan perjalanan ke arah Suriah untuk mengunjungi saudaranya. “Kita semua harus menyuguhkan dalil berupa hadiah kepada sang raja yang ditunjukkan bintang ekor itu,” kata Urpinasy. Ini adalah adat, kebiasaan kuno yang sangat penting dalam kelahirannya di tempat para penyembah api. Teman- temannya yang lain juga menerima pemikirannya ini. Saling memberikan hadiah adalah hal mulia. Sesuai dengan mimpi Urpinasy Hurmuz Efridun akan memberikan emasnya’; Urpinasy Hovhannes membawa tanaman murrusafi; dan Ismail Alawi mengajukan kendir untuk diberikan kepada raja yang akan dilahirkan sebagai sebuah dalil dan penghormatan. Hurmuz berkata, “Karena dia adalah tuan bagi semua manusia, seorang yang paling terkemuka dan mulia, aku akan memberikan hadiah yang paling mulia pula, yaitu emas.” Tak ketinggalan, Urpinasy berkata “Karena sang raja ini akan menyembuhkan banyak orang sakit, memulihkan kembali penglihatan orang buta, aku memilih tanaman murrusafi yang mengandung banyak khasiat dan cepat menyembuhkan luka. Ini sebagai dalil dariku.” Ismail Alawi menambahkan, “Karena sang raja akan diangkat ke langit, aku akan memberikan hadiah berupa kandir, yang ketika dibakar asapnya paling cepat terangkat ke langit.” 204Sang raja yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Isa . Mereka tidak tahu dan hanya sebatas mengejar rasa ingin tahu. Mereka terus berjalan menyusuri arah bintang yang mereka amati dengan teropong. Setelah tiga bulan kemudian, mereka telah sampai ke kota al-Qudds. Pakaian dan logat bicara yang sangat berbeda membuat semua orang memerhatikan mereka. Lebih-lebih, mereka berdialog menggunakan bahasa Latin. Tak pelak, para penjaga keamanan langsung membawa mereka ke hadapan sang raja untuk memastikan kemungkinan mereka adalah utusan raja dari Roma. Kini, mereka telah berada di depan penguasa al-Quds, yaitu Raja Herodes. “Yang mulia. Kami adalah ahli astronomi yang datang ke kota Anda dari Harran dengan melewati Damaskus. Kami sedang mengikuti arah pergerakan bintang berekor. Orang- orang Arab menamakannya bintang Betlehem. Sesuai dengan kitab suci yang kami pelajari di madrasah Harran dan juga dari kitab suci yang diyakini karya Nabi Danial, pada masa yang dekat akan lahir raja yang memiliki kelebihan ruhani luar biasa. Kedatangan kami ke sini adalah untuk mencari jejak raja itu,” kata Efridin Hurmuzi mengawali diplomasinya dengan keulungan gaya Persia. 205Setelah menyimak penuturan itu, perhatian sang raja tertuju kepada Zakaria dan keluarganya. Selama ini, Zakaria dianggap masyarakat sebagai nabi dari kaum Bani Israil. Dalam diri dan keluarganya sering terdengar hal-hal luar biasa yang mendekati apa yang telah disampaikan para ahli astronomi itu. Sang raja pun tak luput dari ingin memanfaatkan para pemuda ahli astronomi itu untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan mengusut keberadaan seorang bayi yang disebut-sebut akan lahir sebagai raja itu. Herodes berencana secepat mungkin mengakhiri nyawa bayi itu. Herodes lalu menerima dan menyambut ketiga pemuda ahli astronomi itu dengan baik. Ia berharap mereka dapat segera menunjukkan jejak seorang bayi yang nantinya akan menjadi lawan posisinya sebagai seorang raja. “Silakan makan dan minum sepuasnya. Anda sekalian adalah tamuku,” kata Herodes. “Jika nanti kalian telah menemukan sang raja yang dimaksud, segera beritahuku sehingga kami dapat segera memberikan penghormatan dan pengabdian yang semestinya dilakukan. Dengan demikian, rakyat kami dapat mengambil manfaat dari keahlian dan ilmu Anda sekalian.” Setelah bicara untuk beberapa lama, Herodes segera kembali ke dalam ruangannya tanpa sedikit pun ikut makan. 206Ketiga ahli astronomi itu memang diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengadakan perjalanan dan penelitian tanpa mengalami sedikit pun hambatan dan larangan. Namun, di balik semua itu, tanpa mereka sadari, sang raja juga telah menyebar mata-mata untuk selalu mengikuti setiap gerakan mereka. -o0o- 20721. nugerah uar Bisa Dalam waktu yang singkat, Maryam telah memikat hati setiap orang. Ketakwaan dan doa-doa yang senantiasa ia panjatkan telah menebar kasih sayang kepada semua orang. Setiap malam Maryam mengunjungi orang-orang yang menderita sakit untuk berbagi penderitaan bersama dengan mereka. Maryam menyeka kening mereka dengan kain yang dibasahi air hangat dan tak lupa mendoakan kesembuhannya. Anak-anak yatim juga selalu menunggu-nunggu kedatangan Maryam. Mereka akan saling berebut memegangi tangannya dan tidur di atas pangkuannya. Maryam juga sangat mencintai mereka. Maryam akan membelai dan menyisiri rambut mereka, membasuh muka mereka, serta berbagi segala yang ia miliki, seperti roti kering maupun setandan anggur. Maryam seakan-akan menjadi seorang perawat bagi masyarakat miskin dan lemah. Ia selalu mendatangi rumah setiap orang yang membutuhkan ketenangan jiwanya yang begitu luas. 208Selama tinggal di dalam mihrab, Maryam selalu mendapatkan berbagai anugerah luar biasa. Ia kerap mendengar suara-suara, yang tak lain adalah suara malaikat yang sedang berbicara dengan Maryam untuk menyampaikan perintah Allah. Nabi Zakaria juga seorang yang sering mendengar suara seperti itu. Perbedaannya, karena Zakaria seorang nabi, malaikat dapat berbicara dengan wujud seorang manusia, sementara Maryam hanya mendengar suara. Kemampuan Maryam mendengar suara para malaikat inilah telah menjadikan dirinya dijuluki Muhaddasa. Para rasul dan nabi mampu melihat malaikat yang membawa wahyu atau bermimpi bersama para malaikat yang membawa wahyu. Sementara itu, para muhaddasa mampu mendengar suara para malaikat yang membawakan wahyu kepadanya. Suara itu berkata seperti demikian... “Wahai Maryam! Allah telah memilihmu.” Suara ini terdengar semakin menggema memenuhi mihrab tempat Maryam berada. “Allah telah memilihmu, dengan menciptakanmu begitu suci. Ia telah memilihmu di antara semua wanita di dunia!” “Wahai Maryam. Taatlah kepada Tuhanmu.” “Sujud dan hormatlah kepada Tuhanmu!” “Terhadap orang-orang yang rukuk kepada-Nya, ikutlah kamu rukuk.” 209Suara ini kian hari kian menggema. Cahaya nurani yang dipancarkannya memenuhi seisi mihrab. Setiap kali menggema, suara itu memantul begitu harmonis ke arah dinding-dinding mihrab sehingga menjadikan hati Maryam hanyut dalam perasaan yang begitu lain. Sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Karena itu, dalam diri Maryam muncul keringanan untuk segera melaksanakan apa saja yang diperintahkan wahyu itu dengan penuh semangat dan penghambaan. Peristiwa yang dialaminya pada akhir-akhir ini telah membuat Maryam semakin rajin beribadah. Maryam makin berlama-lama diri, rukuk, dan sujud dalam salat sehingga pergelangan kakinya mulai bengkak. Anehnya, ia sendiri tidak merasakan kelelahan sama sekali. Sering Maryam tidak bangkit dari sujud sampai berjam-jam. Seolah-olah kening Maryam semakin luas, meninggi menggapai percikan cahaya Ilahi. Kening Maryam yang terangkat luas dan tinggi... Kedua tangan Maryam yang terangkat luas dan tinggi... Adalah tanda awal dari seorang anak yang dikurbankan kepada Tuhannya... Demikianlah kening dan tangan Maryam menjadi begitu terang bercahaya karena terus bersujud. Dalam perintah “Terhadap orang-orang yang rukuk kepada Tuhannya, engkau juga ikut rukuk”, Maryam memahami kalau dirinya harus ikut berdoa dan mendirikan salat dengan para alim di Baitul Maqdis. 210Sehari menjelang Hari Raya Mawar, dengan sembunyi- sembunyi Maryam ikut salat bersama dengan para alim. Ia berada di barisan paling belakang di kubah Sahra Suci. Sebagaimana perintah wahyu yang ia dengarkan, keinginan Maryam semata-mata hanya untuk dapat rukuk dan sujud bersama dengan para alim. “Sujud bersama dengan orang- orang yang sujud....” Namun, sesuai dengan perintah para rahib Baitul Maqdis, wanita dilarang memasuki kubah Sahra Suci yang terletak di sebelah timur tempat amanah-amanah suci disimpan. Jangankan masuk, mendekat saja kaum wanita dilarang keras. Dengan perintah Ilahi, Maryam telah mendirikan salat berjamaah di Kubah Suci itu seraya mengakhiri larangan dan hal yang dianggap tabu oleh peraturan selama ini. Para rahib yang melihat Maryam berada di sana menjadi marah besar. Mereka dengan tega mengusir dan menyiksa Maryam dengan tindakan yang sangat kejam. Maryam telah diputuskan menerima hukuman yang berat. Semua orang yang tidak terima dengan apa yang dilakukannya ini telah meminta agar hukuman yang diberikan adalah mati. Begitu mendengar keributan, Zakaria langsung berlari menuju tempat para rahib berkumpul untuk memutuskan perkara. Saat Nabi Zakaria menyampaikan bahwa Maryam telah mendengar suara yang telah memerintahkannya untuk beribadah secara berjamaah, kemarahan dan penghinaan semakin bertambah. 211“Apa? Mungkinkah seorang wanita, apalagi masih bocah, mendengarkan suara dari Ilahi? Mungkinkah ia mendapatkan wahyu dari Allah? Mungkinkah malaikat memberikan ilham kepadanya? Mungkinkah semua ini terjadi? Ketika ada begitu banyak orang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya di jalan Allah sampai rambut janggutnya memutih semua, bagaimana mungkin malaikat memberikan wahyu kepada seorang bocah? Belum cukupkah Zakaria yang menyatakan dirinya sebagai nabi sampai-sampai Maryam juga menerima wahyu? Keributan semakin meluas. Semua orang bicara dengan nada keras penuh kemarahan, seolah-olah sudah tidak kenal kata ampun lagi. “Apakah engkau sadar dengan apa yang engkau ucapkan wahai Zakaria? Mungkinkah Allah berirman kepada wanita?” “Apakah kamu sekarang ingin menyatakan persamaan antara wanita dan laki-laki, wahai Zakaria?” “Bukankah engkau mengetahui syariat Musa wahai Zakaria?” “Bagaimana engkau bisa lupa bahwa dalam syariat Musa wanita dilarang memasuki Kubah Suci?” “Sungguh, engkau adalah orang yang telah keluar dari syariat. Hukuman yang layak bagimu adalah mati.” Demikianlah mereka menghina dan mengancam Zakaria. “Semua ini,” kata Nabi Zakaria “adalah syariat milik kalian dan bukan syariat Musa !” “Tapi... syariat ini telah selama bertahun-tahun menyatukan kita dan mengatur kehidupan kita!” sergah Mosye “Syariat kamu sekalian telah jatuh untuk berbuat kezaliman,” lanjut Zakaria. 212“Selalu saja kalian berkata syariat. Padahal, yang seharusnya adalah melihat hati kalian, wahai saudara dan para putra pamanku. Sungguh hati, kalian sudah berkarat, sudah tidak ada lagi rasa belas kasihan dan iba. Kita saksikan rakyat berada dalam kemiskinan, kelaparan, sakit, dan menderita beban pajak yang begitu berat. Coba sekarang tolong kalian katakan, di mana syariat yang kalian sebut-sebutkan itu? Dengan mengatasnamakan syariat, kalian mengumpulkan harta dari kurban dan persembahan. Namun, apa yang kalian lakukan selain hanya menyalakan perapian suci? Inikah yang kalian semua sebut-sebut sebagai syariat? Padahal, tidakkah Yahova telah berkata dalam Taurat? Aku mencintai kasih sayang dan kedekatan, bukan daging kurban. Aku menginginkanmu agar mengenal Allah bukan bagaimana memegang api obor peribadatan.’ Lalu, sekarang apa yang telah terjadi dengan hati kalian? Tidakkah kalian mendengar apa yang telah Yahova katakan? Aku menginginkan masyarakat yang kesadaran mereka senantiasa mengalir di dalam jiwa sebagaimana air mengalir. Keadilan mengalir seperti aliran sungai yang tidak pernah mengering.’ Anak-anak yatim dan para wanita janda terpaksa harus meminta-minta untuk dapat mengisi perut mereka. Kaum fakir miskin tidak mampu mendapatkan pakaian. Sampai, orang-orang telah mulai meninggalkan al-Quds untuk mencari daerah yang dapat memayungi kehidupan mereka dengan keadilan. Namun, kalian masih juga menikmati kehidupan yang penuh dengan kenyamanan serta terus mendakwahkan syariat. Sungguh, aku khawatir sekali dengan jiwa kasih sayang yang telah hilang dari dalam jiwa kalian. Dan sungguh, kalian telah merugikan diri kalian sendiri.” 213Seisi Baitul Maqdis masih bergema dalam seruan lantang Nabi Zakaria. Namun, hati mereka membisu dan tuli sebagaimana bisu dan tulinya bebatuan. Bahkan, mereka telah meminta Maryam dan Zakaria dihukum dengan kematian... Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Maryam akan tetap bertahan di Baitul Maqdis? -o0o- 21422. Malakt Trn kpada Marym Tirai Ketika mulai tumbuh dewasa, Maryam menyelimuti seisi mihrabnya dengan tirai. Tirai itu pula yang membatasi Zakaria dan Yusuf sang tukang kayu saat berkunjung dan berbicara dengannya. Padahal, sewaktu kecil, Maryam selalu menantikan kedatangan Yusuf. Tukang kayu itu kerap membawakan mainan dari tempurung kemiri yang dicat warna-warni oleh Merzangus. Bahkan, Yusuf juga membawakan anak kucing atau burung yang menjadi kesukaan Maryam. Ia akan menyimpannya rapat-rapat di dalam keranjang untuk dibawa ke dalam mihrab. Bersama dengan Maryam, Yusuf membawakan kendi untuk diisi air pancuran dari pelataran masjid. Yusuf juga sering membawakan mainan berbentuk mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga kering atau rajutan benang. Tidak pernah Yusuf datang ke mihrab tanpa membawa sesuatu yang dapat mengambil hati Maryam. 215Saat tirai itu menyelimuti seluruh ruangannya, terbesit dalam benak Yusuf bahwa Maryam telah menginjak usia remaja. Ini bukan semata-mata tirai. Ini juga menunjukkan perjalanan rohaniah Maryam yang membedakannya dengan manusia lain untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Semakin kuat penghambaan Maryam, semakin terpisah jauh dari himpitan-himpitan benda dan segala yang berbau dunia. Maryam pun mampu menyusup dan lolos darinya. Maryam adalah seorang yang berlari kepada Allah. Bagi manusia umum, tirai tampak sebagai sebuah penghalang. Bagi Maryam, ia adalah sebuah jalan, tataran yang akan mengantarkannya kepada ketinggian kedudukan yang lebih mulia. Maryam adalah pejalan yang telah mengarungi perjalanan menuju Allah. Tirai adalah isyarat bagi manusia yang berada di belakangnya. Ia ibarat lentera, cahaya penunjuk jalan. Tirainya adalah isyarat bagi Maryam. Tapak kedua kakinya adalah tanda penunjuk jalan bagi setiap manusia yang akan mengikuti jejak di belakangnya. Laksana sebuah mercusuar cahaya yang memberi petunjuk arah bagi kapal yang sedang mengarungi lautan kelam. Begitulah tirai Maryam. Ia akan menunjukkan jalan bagi setiap pejalan Rabbani, pemberi tanda bagi arah dan tujuannya. Dan tirai adalah busana, hijab, bagi Maryam. 216Tirai busana yang memberi tanda seorang Maryam. Tanda akan jalan yang dilaluinya, tanda ketakwaannya. Tirai bukan sebuah penghalang. Ia adalah papan petunjuk. Pedoman yang memberikan pemahaman, saran, dan anjuran mengenai lika- liku dan kesulitan sebuah perjalanan. Demikianlah arti tirai Maryam. Dan Maryam adalah seorang pemalu. Semakin tirai di depannya tergelar, dirinya akan semakin berselimut dengan tirai baru di belakangnya. Semakin ia mendekatkan diri kepada Sang Kekasih, semakin semangat dirinya dalam khusyuk yang membuai, tersungkur dalam sujud, bersimpuh dalam penghambaan, malu dalam limpahan kelembutan yang tercurah dari Tuhannya. Malu dalam buaian rahasia Ilahi yang diperuntukkan baginya sehingga menutupi diri seperti dekapan erat seorang ibu kepada bayinya. Semakin menyelimuti diri, Maryam semakin terbuai dalam kekhusyukan penghambaan. Lewat tirai itulah Maryam menapaki tatarannya, terpelihara dan terjaga dirinya dalam kemuliaan. Inilah dasar yang akan menyangga kehidupan yang akan dipikulnya di masa datang. Tirai Maryam bukan sebuah penghalang. Ia hadir demi semangat kekhusyukannya yang ingin mengutarakan isi hati. Dialah seorang yang begitu memelihara dan melindungi segala yang ada pada dirinya. Sosok yang mengejawantahkan dirinya di balik tirai. Seakan-akan tirai itu memelas hati 217manusia dengan mengatakan Mohon lepaskanlah diriku, jangan engkau sentuh aku, janganlah halangi langkahku.’ Tirai Maryam juga sebuah ijazah, tanda kelulusan dalam pendidikan kehidupannya, karena tirai itu menunjukkan kesempurnaannya. Tirai yang menyelimuti Maryam ini di kemudian hari telah menjadi risalah, wasiat berhijab bagi kaum wanita ahli tauhid. Demikianlah, para muwahhidah adalah tanda bagi hijab yang dikenakan Maryam. Hijab adalah kaum hawa, isyarat yang menjadikan mereka seperti Maryam. Dan hijab Maryam adalah kehormatan. Bahkan, Zakaria dan juga Yusuf sang tukang kayu memahami hijab itu sebagai benteng kokoh lagi perkasa saat melihatnya. Maryam adalah bendera tauhid, yang mengibarkan panji kehormatan dengan berhijab memasuki mihrab. Maryam telah menginjak dewasa. Maryam telah memasuki alam barzakh dunia baru... Tirai tipis yang melintang membatasi masa kecil dengan usia dewasanya. Hijab yang menjadi tanda kedalaman alam barzakh ini sudah bukan lagi sebatas tabir, melainkan hijabnya dan perangainya yang baru, adalah pembiasan dari kedalaman rohaninya. Tirai hijab Maryam adalah penyimpan, pembungkus, sebagaimana ia juga merupakan penguak dan pengingat akan apa yang terkandung dalam rohaninya. 218Tirai dan hijab Maryam ibarat cangkang bagi mutiara. Cangkang yang menutup diri serapat-rapatnya setelah meneguk air hujan di bulan April. Perjuangan, pengorbanan doa, dan penghambaan yang dengan tetesan air hujan yang sama akan melahirkan mutiara. Tirai dan hijab Maryam laksana sayap yang telah siap terbang, mengepak penuh dengan kencang. Tirai inilah yang menyiapkan Maryam kepada Jibril. Jibrillah yang mengepakkan sayapnya kepada Maryam, sementara Maryam kepada putranya. 17. lalu dia memasang tabir yang melindunginya dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. 18. Dia Maryam berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pemurah terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” 19. Dia Jibril berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu, seorang anak laki-laki yang suci.” 20. Dia Maryam berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah orang laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” 21921. Dia Jibril berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda kebesaran bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang sudah diputuskan.” Maryam [19] 17-21 Agar tidak merasa takut dan memahami apa yang diwahyukan, malaikat diturunkan kepadanya dalam wujud manusia. Kesamaan dimensi sebagai manusia tentu akan mempermudah Maryam sehingga mereka berbicara dalam bahasa yang dimengerti. Malaikat Jibril juga guru yang sempurna sebagaimana halnya sebagai malaikat yang menurunkan wahyu. Dengan perkataan yang penuh hikmah dan tutur kata yang sopan, Jibril telah menjadi guru besar dan pendukung Maryam dalam memikul tugas yang ditumpukan kepadanya al-Baqarah [2] 87. Setelah penyampaian wahyu selesai, Maryam merasakan embusan sampai ke bulu kuduknya. Hawa dingin terasa di sekujur tubuhnya. Hati Maryam dipenuhi perasaan khawatir saat malaikat menampakkan dirinya dalam wujud pemuda yang begitu tampan. Embusan hawa ketenangan pun akhirnya merasuk ke dalam jiwanya sebagai kuasa Ilahi yang telah membuat Maryam rela kepada takdirnya. -o0o- 220Saat Yusuf sang tukang kayu menyapu di sekitar mihrab, ia melihat bayangan Maryam di balik tirai yang kian hari berubah- ubah. Ia pun mencoba untuk tidak memerhatikannya. Dan lagi, ketika suatu hari Yusuf hendak menyalakan lentera untuk membersihkan sekitar mihrab, bayangan tampak dari balik tirai Maryam yang sedang terbaring. Saat itu, ia memerhatikan keadaan tubuh Maryam yang terlihat seperti seorang ibu yang sedang mengandung. Yusuf tergetar menyaksikan hal itu. Lentera yang ada di tangannya pun terjatuh. Suara itu membuat Maryam kaget. Namun, begitu melihat Yusuf sedang bersih-bersih, Maryam pun menyapanya. Saat itu, suara Yusuf tidak seperti biasa, seolah-olah bukanlah sosok yang dikenal Maryam. Basah kuyup sekujur tubuh Yusuf oleh keringat dingin. “Pasti setan telah mengembuskan desas-desus kepadaku. Apa yang aku lihat tadi tentu hanya sebuah khayalan,” demikian kata Yusuf pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Maryam dapat hamil? Bukankah mihrabnya telah dikunci berlapis tujuh? “Tidak... tidak mungkin hal itu terjadi!” kata Yusuf meyakinkan diri. Meski demikian, penglihatannya seperti tidak mau percaya pada kata hatinya. “Tidakkah matamu benar-benar melihat bahwa dia hamil?” “Tidak... tidak mungkin!” kata hatinya, kembali meyakinkan diri. “Maryam adalah seorang suci. Dia hamba yang secara khusus telah dipilih oleh Allah.” Yusuf pun menunduk sekali lagi untuk mengambil lentera yang terjatuh. 221“Oh... benar!” kata Yusuf di dalam hati. Ternyata benar, pandangan matanya tidak menipu. Ia melihat tubuh Maryam seperti seorang hamil yang sedang memegang tasbihnya dan berzikir. “Tapi.... Bukankah dirinya selalu melewatkan siang dan malam hanya untuk beribadah kepada Allah? Tidak! Tidak! Tidak” Yusuf pun kaget dan bingung. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Ia pun tidak kuasa menahan diri untuk tidak bertanya kepada Maryam. “Wahai Maryam. Aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu hal apakah kamu sedang luang?” “Tentu saja. Semoga saja aku bisa menjawab apa yang akan kamu tanyakan.” Tetap terjaga. Keduanya bersimpuh mengindahkan tata krama dalam ruangan yang berbeda, di antara tirai tipis namun begitu kokoh membatasi. Luaplah keduanya dalam linangan air mata saat yang satu bertanya dan yang satu menjawabnya. “Wahai Maryam! Mohon katakan kepadaku, mungkinkah pohon dapat tumbuh tanpa benihnya?” Maryam memahami apa yang dimaksud oleh pertanyaan itu. “Mungkin...,” jawab Maryam dalam tangis. Kali ini, Yusuf pun ikut luap dalam tangis seraya bertanya kembali, “Bagaimana mungkin?” “Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang pertama tanpa benih. Persemaiannya tanpa benih dan begitu pula benihnya tanpa persemaian. Tidakkah engkau juga mengetahui hal ini? Namun, jika engkau masih 222terusik dalam pertanyaan, jika saja benih tidak dijadikan oleh- Nya, Ia pun tidak mensyaratkan persemaian.” “Sungguh, diriku berlindung kepada Allah dari berkata yang demikian. Namun mohon katakan, mungkinkah pohon dapat tumbuh tanpa siraman air, tanpa curahan hujan?” Kembali Maryam tertegun menelan ludah.... “Ah, Yusuf.... Benih diturunkan dari tumbuhan yang diciptakan pertama kali oleh-Nya tanpa benih. Lebih dari itu, biar menjadi ingatanmu bahwa Allah pertama kali mencipta tumbuhan tanpa curahan hujan. Kemudian, setelah terjadi penciptaan seperti ini, Allah pun menjadikan hujan sebagai syarat tumbuh pepohonan. Dalam keadaan seperti ini, akankah engkau menyatakan, jika saja tiada hujan, kuasakah Allah menciptakan pepohonan?” Maryam menuturkan semua ini dalam kata-kata dari dalam jiwanya yang penuh dengan kepedihan. Apa yang telah terjadi kepadanya adalah suatu kejadian yang tidak pernah diujikan kepada seorang wanita mana pun di dunia. Ia mengandung seorang bayi tak berayah. “Hasya...,” kata Yusuf. Setelah beberapa saat, Yusuf pun mencoba menyembunyikan tangisnya. “Diriku berlindung kepada Allah dari berkata yang demikian. Dan sungguh, diriku sangat takut melukai perasaanmu. Namun, seperti inilah keadaanku yang tetap juga tidak paham. Memang, apa yang terlihat oleh mata tidak bisa dicerna oleh hati ini. Mohon berkenan menjelaskan kembali kepadaku mungkinkah seorang bayi ada tanpa ayah?” Inilah pertanyaan yang dinantikan. Maryam menepukkan tangannya ke ulu hatinya dalam-dalam dengan penuh kepedihan. Akhirnya, pertanyaan pahit yang dinanti-nantikan pun datang. 223Dalam kepedihan itu Maryam menata diri untuk tetap teguh dan tegar. “Bukankah engkau tahu bagaimana Allah telah mencipta Nabi Adam, wahai Yusuf? Lalu, bagaimana dengan Ibunda Hawa? Allah yang Mahakuasa untuk menciptakan mereka tanpa seorang ayah dan tanpa seorang ibu. Sungguh Dia kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan memerintahkan jadi’ maka jadilah. Ataukah engkau tidak meyakini hal yang seperti ini?” Kembali Yusuf berkata, “Hasya....” “Mungkinkah diriku tidak beriman dengan hal ini? Namun, mohon Anda bercerita tentang keadaan diri Anda, wahai Maryam!” pinta Yusuf dengan begitu pedih menahan guncangan dahsyat dalam perasaan khawatir seraya bersimpuh erat-erat dalam tata krama seolah-olah dirinya tertindih besi berat di atas punggung dan pangkuannya.. Dan Maryam pun berkata, “Allah telah memberi kabar gembira kepadaku seorang Kalamullah yang menyandang sanjungan al-Masih, bernama Isa, sebagai putra Maryam. Di adalah seorang hamba yang senantiasa dimuliakan di dunia dan juga di akhirat. Yang dimuliakan dengan ketaatan kepada- Nya. Demikianlah, wahai Yusuf. Segala apa yang telah terjadi kepadaku adalah atas perintah Allah sebagai rangkaian takdir- Nya. Sekarang terserah, engkau boleh mengadili keadaan diriku dan bayi yang telah berada dalam kandunganku.” “Mengadili diri Anda? Tidakkah Anda juga tahu bahwa diriku telah mengabdikan hidup ini untuk selalu membantu Anda? Anda akan selalu mendapati diriku sebagai seorang yang senantiasa mengorbankan diri untuk melindungi dan menjaga keamanan Anda. Bukankah Anda pula yang mendapati diri ini selalu menjadi pendukung dan juga pengabdi dalam perjalanan 224Anda? Sungguh, pada hari-hari penuh dengan ujian berat ini, diriku juga akan senantiasa mengabdi dan menyimpan rahasia Anda.” Malam itu, Yusuf sang tukang kayu sama sekali tidak membuka mulut kepada siapa pun. Namun, Nabi Zakaria yang senantiasa mengasihi Yusuf seperti putra kandungnya sendiri mendapatinya tidak bicara dan paham bahwa telah terjadi sesuatu. Untuk itu, setelah makan, Nabi Zakaria memanggilnya untuk suatu urusan penulisan kitab. Saat itu, Yusuf sama sekali tertunduk, tidak pernah mengangkat pandangannya. Ia tidak bisa fokus pada tugas yang sedang diberikan kepadanya. Sampai-sampai, Yusuf menumpahkan tinta karena pena yang ia pegang tidak tercelupkan tepat pada botol tintanya. Nabi Zakaria pun angkat bicara. “Wahai anakku, apa yang sebenarnya telah terjadi? Permasalahan apakah yang telah sedemikian membuatmu terbebani seperti ini?” “Tidak ada apa-apa, wahai Paman. Saya hanya terlalu lelah.” “Namun, hal ini masih juga selalu seperti ini sejak engkau keluar dari mihrab. Apa yang sebenarnya telah terjadi?” Mendapati pertanyaan seperti itu, Yusuf tidak kuasa menahan tangis seraya menceritakan satu per satu apa yang telah dapati di dalam mihrab kepada nabi yang juga pamannya itu. Sejak saat itu, ia menuturkan keinginannya tidak lagi mengabdi di dalam mihrab. Ia takut masyarakat akan memitnahnya. Yusuf pun memohon izin kepada pamannya untuk menjauh ke suatu tempat. Nabi Zakaria sangat tahu pengabdian tulus Yusuf kepada Maryam. Bahkan, sebagian masyarakat juga ada yang berpendapat mengenai kecocokan Yusuf dengan Maryam. 225“Kedua pemuda ini sudah bertunangan,” demikian kata masyarakat. “Ah... masa muda,” kata Nabi Zakaria. “Coba dengarkan apa yang telah disampaikan Yusuf,” kata Nabi Zakaria memanggil istrinya untuk datang ke ruangannya. Al-Isya yang sedang dalam kandungan tua dan telah menunggu hari-hari kelahiran putranya dengan perlahan mendekat ke ruangan kemudian duduk bersandar pada dinding pintu. “Puji dan salam kepada Zat yang telah melimpahkan anugerah ke dalam kandungan ini. Sungguh, Maryam adalah seorang yang suci dan ahli zuhud. Bayi yang telah dititahkan Allah dengan nama Yahya dalam kandungan ini selama tiga bulan berucap salam kepada bayi yang saat ini berada dalam kandungan Maryam. Inilah yang diriku rasakan. Sungguh, hal ini telah membenarkan berita yang engkau ceritakan wahai Yusuf. Semua ini semata-mata atas kehendak Allah. Allah Mahakuasa untuk menciptakan seorang manusia tanpa ayah dan ibu. Zat yang telah menciptakan Nabi Adam pasti memiliki kuasa menciptakan bayi yang akan lahir dari kandungan Maryam.” “Demikianlah seorang wanita saudara Harun . Sungguh, betapa dia selalu bertutur kata mulia lagi pintar dalam kata- katanya,” kata Nabi Zakaria. “Untuk sementara, biarlah berita ini terjaga kerahasiaannya di dalam rumah ini dan jangan sampai ke luar dari rumah ini. Semoga Allah senantiasa menjadi wakil dan penolong kita semua,” tambah Nabi Zakaria. -o0o- 22623. Nabiyulah Yahya Lair Begitu al-Isya merasakan sakit, Merzangus langsung berlari memanggil Tujuh Dukun Bayi terdekat di kota al-Quds. Orang pun beramai-ramai memadati halaman depan rumah, taman, dan kebun zaitun. Mereka hendak menjadi saksi akan mukjizat berita gembira yang telah disampaikan kepada seorang nabi di akhir usianya. Saat itu, Ham, Sam, dan Yafes juga ikut menjadi saksi dengan membawa daun siklamen dari Kampung Rempah- Rempah yang dipercaya dapat membantu proses kelahiran dengan cara direbus dan diminum airnya. Doa-doa dan puji-pujian yang dipanjatkan para tamu ikut menciptakan suasana tegang saat-saat menunggu kelahiran sang bayi. Nabi Zakaria memang terkenal dengan ketekunan dalam berzikir. Hatinya begitu bersih dengan selalu berizikir kepada Allah. Ia yakin bahwa hanya dengan berzikir hati menjadi tenang. Dalam suasana yang cukup menegangkan ini, ia masih juga berseru kepada kaumnya, “Perbanyaklah berzikir kepada Allah, perbanyaklah zikir. Ingatkanlah hati kalian.” Lalu, datanglah saat-saat yang dinanti. Benih Nabi Yahya yang ditanam ke dalam rahim ibundanya kini telah lahir ke dunia. 227Dialah seorang nabi dan putra nabi yang disanjung dengan kebaikan. Demikianlah seorang bayi yang baru saja dilahirkan. “Ya Yahya, bersikap baiklah kepada ayah dan ibumu. Dia bukanlah seorang yang membangkang. Semenjak dilahirkan, saat kematian, dan saat kebangkitan dari alam kubur, salam terucap untuknya.” Banyak sekali kisah yang menuturkan Nabi Yahya sebagai seorang yang memiliki keutamaan dengan telah dikabarkan dalam berita gembira seperti berikut. “Setiap anak Adam akan kembali kepada Allah dengan dosa yang telah diperbuatnya. Dalam keadaan seperti ini, jika Allah menginginkan, Ia akan mengazab atau memberi rahmat kepada hamba tersebut, kecuali Nabi Yahya, putra Nabi Zakaria.” Demikianlah kemuliaan Nabi Yahya. Dia adalah nabi terpilih yang sejak kecil memiliki akhlak mulia dan sikap dewasa. Ketika anak-anak sebayanya sibuk bermain, Yahya kecil selalu menyampaikan kepada mereka kalau dunia bukan tempat untuk bermain, seraya mengajak teman-teman sebayanya untuk berdoa dan berzikir. Atas perilakunya yang seperti itu, Alquran pun menerangkan “Wahai Yahya! Berpegang teguhlah kepada kitab Allah dengan sekuat tenaga. Saat dia masih kecil pun Kami telah memberikan ilmu dan hikmah kepadanya.” -o0o- 22824. Sift-Sift Yahya Yahya adalah saudara sepupu Maryam. Putra dari bibinya. Sementara itu, Isa adalah cucu dari kakak ibundanya. Yahya adalah salah satu dari tiga orang yang diberitakan sebagai berita gembira. Yang pertama adalah Ishak, putra Ibrahim , yang kedua adalah Maryam, dan yang ketiga adalah Yahya, putra Zakaria . Mereka lahir di saat sang bunda telah berusia lanjut sebagai berita gembira yang dikabarkan oleh Allah. Semoga salam dan kesejahteraan dari Allah senantiasa terlimpah atas mereka. Mengenai Nabi Yahya.... Dia adalah seorang sayyid... Seorang yang tidak pernah marah, tidak pula suka tergesa- gesa Qatadah Berakhlak mulia Dahhak Hamba yang bertakwa Salim Seorang yang mulia Ibn Zaid Seorang alim, fakih Ibn Musayyab Seorang yang tidak memiliki sifat hasud Sawri Hamba yang selalu rela dengan ketetapan Allah Ahmad bin Asim Seorang yang taat, mulia dari teman-teman sebayanya Halil 229Ahli tawakal Abu Bakrinil Warrak Yang memiliki cita-cita mulia Tirmizi Dermawan, selalu lebih dalam kebaikan Abu Ishak Yang menyerahkan dua dunianya kepada Tuhan Junaid Bagdadi Seorang hasur... Yang tidak menikah meskipun mampu... yang menghindarkan diri dari segala keinginan dan lintasan untuk berhubungan badan. Yang sejak kecil telah bersikap teguh bahwa Diriku bukan diciptakan untuk bermain’. Dialah seorang Hasur, yang terjaga, yang terlindungi dengan perisai baja sifat haya. Dialah seorang nabi.... Seorang yang menjadi utusan dan juru bicara Allah. Seorang nabi yang menyeru kepada hidayah, menjadi penuntun bagi kehidupan ummat manusia. Seorang yang saleh. Nama yang mencakup semua kebaikan, Saleh. Martabat manusia yang paling tinggi; kedudukan yang paling mulia, dengan kehidupan luar dan dalam yang selalu sesuai dengan syariat, bersih-suci. Seorang yang murni, terang- benderang.... Seorang yang sering menangis. Sejak kecil selalu menyendiri di lereng gunung, duduk di samping sumur, sendiri menangis pilu.... -o0o- 230ya25. Btng Bereor di Btleem Malam itu... Sebuah bintang berekor bersinar terang di atas kota al- Quds. Ia memancarkan cahaya sangat terang cukup lama sampai kemudian bergerak menuju selatan dan menghilang. Beberapa orang pemuda ahli astronomi segera bangkit dari tenda yang didirikana di lereng Bukit Zaitun. Mereka memacu kuda seraya mengejarnya. Mereka mengejar dan terus mengejar ke arah yang sama sekali belum pernah diketahui. Pada waktu yang bersamaan... Maryam yang dijatuhi keputusan hukuman mati karena mendirikan salat secara berjamaah di padang pasir suci telah hampir genap sembilan bulan menyendiri di balik tirai penutup jendela mihrab. Kandungan Maryam yang beberapa lama ini tenang tiba-tiba mulai bergerak-gerak dengan kencang. Saat itulah, sebagaimana yang telah disepakati bersama dengan Nabi Zakaria, Maryam menyalakan lentera di dalam mihrabnya. 232Begitu lentera menyala, mulailah Nabi Zakaria, Yusuf, dan Merzangus berangkat menuju masjid dengan sembunyi- sembunyi. Sesampai di mihrab, setelah pintu terbuka, Zakaria dan Yusuf berucap salam kepada Maryam sambil keluar dengan sembunyi-sembunyi. Perlahan mereka menuruni tangga sampai akhirnya bertemu dengan Merzangus yang telah menunggu di samping tangga dengan sebilah pedang terhunus di tangan. Merzangus langsung mendekap Maryam yang begitu lemas dan gemetar. Pertama-tama, mereka memutuskan segera pergi menemui al-Isya. Namun di tengah-tengah perjalanan menuju rumah sang bibi, mereka dikagetkan kedatangan beberapa orang pemuda ahli astronomi. Kuda-kuda tunggangan mereka tampak terengah-rengah. Mereka bertiga “Sang raja sudah lahirkah!?” tanya mereka berulang-ulang dengan tergesa. Bintang berekor telah melaju kencang dari tangga Masjid Aqsa menuju tempat ini sampai kemudian menghilang. Merzangus yang juga kaget dengan kedatangan mereka melirik ke arah Nabi Zakaria dan Yusuf dengan pandangan bertanya, sambil menghunus pedang dan mengacungkannya ke arah tiga pemuda tersebut... Ia angkat cadar wajahnya sampai menutupi bagian hidung seraya berteriak, “Jangan mendekat!” Para pemuda ahli astronomi ini pun kaget dengan tindakan Merzangus. Mereka bahkan sampai kewalahan menghentikan kudanya dan lekas turun untuk bersimpuh dan berucap salam. Dengan singkat dan cepat mereka menuturkan maksud kedatangannya dan langsung bertanya, “Apakah sang raja sudah lahir?” 233Mendapati keadaan seperti ini, Merzangus pun memasukkan kembali pedang ke dalam kerangkanya. Sebenarnya, ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti itu. Satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya adalah secepat mungkin meminta ketiga orang asing tersebut segera meninggalkan tempat itu karena Maryam telah sedemikian pedih merasakan sakit. “Aku dapat menunjukkan kepada kalian tempat sang raja yang kelahirannya Anda sekalian nantikan. Ikutilah diriku,” ujar Merzangus. Merzangus segera loncat ke atas punggung kudanya yang bernama Suwat sambil memberi isyarat dengan pedangnya agar ketiga orang asing tersebut mengikutinya. Saat itulah Yusuf baru menyadari mengapa Merzangus melakukan hal tersebut. Kemudian, mereka pun segera melanjutkan perjalanan membawa Maryam yang gemetar kedinginan ke suatu tempat yang lebih terang dan aman. Hanya saja, Maryam sudah tidak lagi mampu berjalan. Fase pembukaan telah dimulai. Darah pun terlihat. Pedih beribu pedih ia rasakan. Pada saat itulah lagi-lagi datang seorang penjaga bersama dua temannya karena mendengar suara kuda yang dipacu. Saat mendapati mereka berjalan mendekat ke arah Nabi Zakaria dengan membawa kayu pemukul berujung besi, sang Nabi itu pun berkata kepada rombongannya, “Kalian pergilah. Biar aku yang meyakinkan mereka agar mau kembali.” Yusuf pun segera menuntun Maryam yang terlihat begitu letih dan lemas. Badannya berselimutkan pasmina. Maryam pun berjalan pelan menuju rumah al-Isya. Namun, belum beberapa lama, Maryam menyampaikan kepada Yusuf tentang ilham yang didapatkannya dari Allah. 234“Yusuf,” katanya... “untuk saat ini cukup sampai di sini engkau menemaniku. Dalam hatiku terdetak perasaan yang begitu kuat kalau aku harus sendirian menempuh perjalanan ini untuk pergi ke tempat yang jauh. Malam hari ini, ke mana saja Allah menghendaki diriku pergi, ke tempat itulah aku akan pergi menjauh dari keramaian. Berdoalah untukku dan untuk bayiku yang akan lahir. Aku tidak bisa membayar hak- hakmu atas diriku, mohon dimaafkan.” Meski Yusuf telah berusaha meyakinkan Maryam, tetap saja ia tidak mampu. Bahkan, Maryam telah beranjak untuk memikul, menunaikan perintah, dan mengikuti ilham yang telah diberikan oleh Allah. Demikianlah, salah satu nama lain dari Maryam adalah “Asra”, yang berarti seorang yang berjalan pada waktu malam. Bersama dengan sang bayi yang berada di dalam kandungannya, ia menyendiri ke tempat yang jauh. Ilhamlah yang telah Maryam dapatkan dan memandunya untuk terus berjalan dan berjalan dalam penuh kepedihan menuju Betlehem yang terletak di sebelah selatan al-Quds. Maryam menyendiri ke suatu tempat yang teramat jauh. “Tempat yang jauh” itu telah menjadi takdir bagi Maryam. Seperti sebatang tunas yang dirawat langsung oleh Zat Yang Maha Mencipta, Maryam telah disimpulkan dengan kata “jauh” dalam kehidupannya. Jauh.... Demikianlah Maryam hidup dalam perintah “uknut!” di sepanjang kehidupannya. “Taatlah...!” Saat ia berlama-lama berdiri tegak berdoa dalam salat, di saat ia berteguh dalam ketaatan, bahkan saat merebahkan diri dalam istirahat, kehidupannya selalu 235berlangsung dalam ikatan perintah uknut. Begitulah guratan takdir yang telah ditentukan baginya. Kini, perintah taat telah membuatnya berjalan ke tempat yang jauh. “Diri sendiri” adalah ringkasan singkat hidupnya. Takdir yang akan ditempuhnya merupakan contoh bagi setiap kaum hawa di masa setelahnya. Tidak pernah ia merasa gentar dengan kesendiriannya. Dengan ketegaran dan keteguhannya inilah ia akan berbisik bahwa bersama dengan Allah merupakan kekuatan yang tidak mungkin ada yang menandingi. Dalam ujian yang teramat sangat berat inilah Maryam akan bercerita apa saja yang mampu dipikul oleh seorang wanita yatim. “Jiwa kesatria adalah sebuah sifat. Dengan jiwa itu ada beberapa kaum wanita telah menunjukkan diri sebagai seorang kesatria.” Demikianlah yang terpekik dalam ujian hidup yang dialami Maryam, yang api ujian itu masih terus membara, terus membakar jiwa sebagian kaum wanita. -o0o- 23626. Marym di Btleem Setelah berpisah dengan Merzangus, kemudian Zakaria dan Yusuf, Maryam melangkahkan kakinya berjalan ke arah barat daya al-Quds. Ia terus melangkahkan kakinya menembus rimbun perkebunan zaitun. Maryam dengan teguh melangkah seolah-olah di depannya terdapat anak-anak kecil memanggil-manggilnya dengan riang sambil melambai- lambaikan tangan. Saat Maryam mencapai ujung kebun zaitun, tiba-tiba jalan telah menanjak menuju atas bukit. Napas Maryam pun tersengal. Ia bersandar pada pematang kebun untuk beristirahat sejenak sembari memandang ke arah Danau Luth. Embusan angin malam menyapu wajah Maryam bersama aroma kepekatan garam. Saat itulah jerit pedih dan tangisan kaum Luth yang ingkar bersama dengan istrinya yang tenggelam di dasar danau seolah-olah terdengar. Mereka adalah kaum Luth yang tidak mengindahkan seruan nabinya. Allah pun mengutus dua malaikat untuk menyelamatkan Nabi Luth bersama dengan anak-anaknya dari kaumnya yang zalim. 237Pada keheningan malam, kota kaum Nabi Luth diluluhlantakkan amblas ke dalam tanah. Hantaman air deras lalu memusnahkan tempat itu hingga tenggelam. Gambaran seperti itulah yang sedang terbayang nyata dalam pandangan Maryam saat melihat ke arah hamparan air Danau Luth pada malam itu. Maryam tiba-tiba terperanjat akibat suara gemeretak dedaunan dari ketinggian bukit. Saat mengarahkan pandangan ke arah suara itu, ia makin kaget karena ada penampakan dua orang berpakaian putih menyala menuruni lereng-lereng bukit. “Mungkinkah ini hanya ilusi dari kelelahan yang aku rasakan?” Perasaan Maryam masih belum tenang. Selama ini, kehidupannya selalu berlangsung di dalam mihrab dan diawasi Nabi Zakaria. Maryam tidak pernah berada di jalanan, apalagi di dalam keheningan malam, seorang diri. Meski pernah beberapa kali Maryam mengunjungi rumah para fakir miskin dan anak-anak yatim di keheningan malam, saat itu dirinya dipandu Yusuf sehingga ia tidak terlalu risau. Apalagi, saat ini kedua telapak kakinya memar dan penuh luka. Ia sama sekali tidak memiliki alas kaki. Berjalan Maryam tanpa alas kaki. Berjalan seorang diri dalam keheningan malam. Berjalan tanpa mengenali arah dan jalur perjalanan. Dalam rasa sakit yang memilukan. Maryam berlumuran darah. Runcing bebatuan dan tajam duri-duri jalanan tidak hanya melukai kedua kakinya tapi juga menusuk pedih jiwanya. Terus berjalan dalam keheningan malam... 238Berjalan mengikuti lambaian tangan anak-anak yang memanggilnya dengan penuh keriangan, menyusuri jejak dua orang berpakaian putih yang menyusup dari ketinggian puncak bukit. Pada saat itulah terdengar seruan di dalam telinganya, “Jangan pernah berhenti untuk berzikir kepada Tuhanmu.” Maryam menahan rasa sakit yang dideritanya untuk tetap berjalan dan berjalan. Sejak kecil Maryam menjadikan lafaz-lafaz zikir sebagai napasnya. Seperti menimba air dari dalam sumur, Maryam pun menarik napas zikir dari dasar kedalaman hatinya. Namun, pada malam ini isi sumur hati Maryam seakan- akan membeludak. Terlebih dengan sakit yang dideritanya, yang telah membuat hati, lidah, dan segenap jiwanya dipenuhi semangat untuk khusyuk dalam untaian zikir. Seolah-olah kehidupan di dalam mihrab yang penuh kekhusyukan berdoa dan berzikir telah membimbingnya untuk semakin bersemangat mengungkapkan isi hatinya. “Ya Rabb Ya Allah, Ya Fattah Ya Allah, Ya Shamad Ya Allah, Ya Wahhab Ya Allah, Ya Shabur Ya Allah... Engkaulah al-Fattah. Hanya kepada-Mu diri ini mengadukan keadaanku. Sungguh, Engkaulah Zat Yang Maha Menggenggam kunci keluar dalam setiap derita dan kesusahanku.” 239Engkaulah tidakpernahbutuhkepada siapa pun. Engkau tidak berputra, tidak pula diputrakan. Sementara itu, diri ini adalah hamba yang senantiasa butuh kepada-Mu. Sungguh, rasa sakit ini semakin menjadi dan keheningan malam membuat diri ini merasa sendiri sehingga hanya kepada-Mu diri ini memohon dihindarkan dari kepedihan hati dan dan badan. Engkaulah al-Wahhab. Zat yang Maha Melimpahkan. Engkau telah melimpahkan nikmat-Mu kepadaku sebagai seorang yang yatim. Engkau tumbuh kembangkan diriku hingga dewasa dalam limpahan nikmat yang tiada terhingga. Saat ini, aku memohon Engkau berkenan menyingkap keadaanku yang penuh dengan kesusahan dan kepedihan ini untuk dipertemukan dengan kelapangan dan keamanan. Sungguh, Engkau adalah Mahakuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu, hamba memohon dengan sangat, keluarkanlah diriku dari kegelapan sebagai limpahan dari nikmat-Mu. Ya Shabur, Ya Allah! Limpahkanlah diri ini kekuatan dari-Mu. Jadikanlah diri ini menjadi hamba yang senantiasa mampu bersabar menghadapi musibah dan kesusahan dengan kekuatan iman kepada-Mu. Ya Tuhan! Limpahkanlah kepadaku kekuatan untuk dapat tetap bertahan!” Setelah sampai ke puncak bukit, Maryam pun melihat ke sekelilingnya. Dari kejauhan, sorot remang lampu perkampungan Betlehem terlihat. Redup sorot cahaya lentera itu seakan- akan sedikit meredakan sakit yang Maryam rasakan. Ia pun menenangkan diri dan mengarahkan wajahnya ke arah embusan angin yang bertiup semilir. Hati Maryam seolah-olah merintih memandangi redup cahaya lentera dari rumah-rumah itu. 240Dalam keheningan malam, semua orang tentu sedang dalam keadaan yang begitu nyaman, sementara dirinya menyusuri rimba jalanan yang dia sendiri tidak tahu ujungnya. Tersayat hati Maryam dalam pandangan sorot cahaya lentera itu sehingga wajah ibundanya hadir dalam bayangan. Wajah itu seolah-olah nyata seperti yang ia jumpai di dalam mimpi. “Oh ibu!” katanya. Ibu... Betapa indah kata itu. Kata yang penuh dengan muatan doa. Seolah-olah lafaz zikir. Mengucapkannya, hati manusia menjadi tenang. Seakan-akan seseorang telah datang mengulurkan tangannya dan hamparan langit menjadi cerah dibuatnya. Dada manusia pun menjadi lapang dalam keberadaannya. “Duhai ibu!” kata Maryam, “Sungguh, jika saat ini masih ada, engkau tidak akan mungkin membiarkanku sedirian di sini.” Maryam merasa heran dengan dirinya saat mengucapkan kalimat itu. Dirinya sejak kecil telah ditempa dengan kehidupan yang penuh dengan kesabaran. Tidak pernah ia mengungkapkan keyatimannya. Namun, entah apa yang telah terjadi dalam kesendiriannya di keheningan malam itu? Maryam merasa bahwa sakit dan kepedihan yang dirasakan dalam kesendirian dan keheningan akan menghimpit manusia ke dalam kerapuhan serta menggerogoti kesabarannya seperti bubuk kayu. Demikianlah yang terlintas dalam pikiran Maryam. Namun, sudah tidak tersisa tenaga untuk merenunginya saat kepedihan baru menusuk jiwa Maryam sehingga ia pun lebur sehalus debu. 241
10. eika Marym Baru dalm Bera Usia Hanna lanjut sudah. Masa suburnya telah lewat menurut perhitungan sebagai seorang wanita. “Mungkinkah,” katanya di dalam hati, “mungkinkah takdirku meninggalkan dunia ini tanpa pernah menjadi seorang ibu.” Bukanlah sebuah penentangan apa yang terbesit di dalam lubuk hatinya yang terdalam ini. Ia tahu bahwa Allah Maha Memberi sehingga tidak ada hak bagi hamba untuk mengeluhkan-Nya. Bahkan mengeluhkan dirinya. Namun, seperti itulah keadaan setiap wanita! Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Cenderung mengait- ngaitkan kejanggalan dalam hidupnya. Mulai dari angin yang tak berembus, hujan yang tak kunjung tiba meski sangat dinanti-nantikan, pintu rumah yang tidak juga diketuk seorang tamu, sampai keadaan yang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semuanya selalu menjadi alasan untuk mencari kekurangan pada dirinya sendiri. Demikianlah wanita! Mungkinkah dirinya telah menjadi penyebab sehingga tampil untuk merasa bertanggung jawab ketika ada hal-hal yang tak seorang pun mau peduli? 92Dalam penantiannya selama berpuluh-puluh tahun untuk dapat menjadi seorang ibu, Hanna juga selalu menelisik kekurangan dirinya. Mungkinkah ada seekor semut yang tanpa sengaja diinjaknya, mungkinkah ada sehelai daun zaitun yang ia lukai, atau seorang yatim yang tidak ia belai rambut kepalanya? Mungkinkah ada seorang tamu Allah yang mengetuk pintu namun tidak ia bukakan karena tertidur lelap, atau mungkinkah ada sangkar burung yang tanpa tanpa sengaja telah dirusak olehnya? Atau mungkinkah ada aliran sungai yang tanpa sengaja telah menjadi sedikit keruh airnya saat ia mengambilnya? Semua ini selalu ia tuliskan satu demi satu di dalam buku hariannnya. Ia baca ulang semuanya seraya mencari kesalahan yang bersumber dari dirinya. Hanna pun selalu berbicara pada diri sendiri. “Cukup tua sudah diriku,” katanya dalam linangan air mata membasahi kedua pipinya. Ia menyangka telah berakhir sudah masa suburnya. Tertutup sudah kemungkinan untuk dapat melahirkan seorang bayi. Hampir sampai sudah waktu banginya untuk dikubur dan membusuk di dalam tanah. Hanna kembali menyendiri di taman di belakang rumahnya setiap kali merasa sedih. “Wahai sahabatku yang berwarna cantik abu-abu!” katanya. “Wahai sahabatku yang selalu setia menjaga rahasia,” katanya kepada pohon-pohon zaitun di kebunnya. “Orang-orang telah ramai menggujing tentang diriku. Kata-kata mereka sungguh telah membuat sakit hatiku, melukai jiwaku. Ah...!” Jika saja di masa lalu, niscaya tidak akan begitu peduli dengan apa yang mereka gunjingkan. Namun, untuk saat ini sangat berat. Begitu dalam luka yang digoreskan. Hati, jiwa, dan wajah bersih Hanna seolah-olah tercabik-cabik. 93“Mereka memitnah diriku dengan tuduhan wanita mandul terlaknat.” Wajahnya mengarah ke genangan air, mencari tanda, noda, dan guratan pada di sana. “Menjadi seorang wanita yang dilaknat Tuhan.” Sungguh betapa pedih dakwaan itu bagi seorang wanita... Gemetar ia merenungi. Menunduk. Berkaca ke atas air. Mencari pertanda pada wajahnya. Sesaat terlintas sang suami dalam pikirannya. Kembali ia tertunduk. Imran, seorang alim agung keturunan Harun . Seorang ahli kitab, haiz, pembimbing masyarakat. Ia merasa dirinya sebagai seorang istri yang telah dilaknat Tuhan, seorang yang telah diusir dari tempat ibadah dengan tuduhan laknat mandul.... Begitu pedih Hanna meratapi keadaannya. Sementara itu, setan seolah-olah telah siap mencari mangsa; siap berbisik dengan lidah ularnya. Mengembuskan desas-desus. “Engkau adalah seorang mandul. Seorang terlaknat....” Setan terus berbisik... dan berbisik.. Saat api desas-desus begitu berkobar dari mulut setan, saat Hanna hampir saja terbuai oleh bisikannya, terdengarlah suara Imran membuyarkan buaian setan. “Hidup adalah sebuah ujian. Tuhan kita akan menguji kita dengan berbagai macam kepedihan, kepapaan. Bukankah selalu berzikir menyebut Ya Wakil’ adalah yang terbaik bagi kita?” 94Kembali Hanna menarik dirinya dari tertunduk di bibir sumur. Al-Quds. ah, al-Quds.... Engkau tidak lagi seindah dulu. Bahkan, penghulu alim Baitul Maqdis pun seolah telah berganti. Baru saja seminggu berlalu dari perbincangan di antara Imran dan Nabi Zakaria mengenai “kemandulan”, keduanya telah menuai cercaan yang bukan-bukan. Hal ini berawal dari watak alim muda bernama Mosye yang selalu terbelenggu jiwa serakahnya untuk menjadi pemimpin para ulama. Memang, sejak kecil Hanna telah mengenal Mosye. Saat pertama kali belajar di rumah Imran. Tidak segan-segan Mosye melahap apa saja dalam jamuan makan yang dihidangkan Hanna. Dengan persetujuan Nabi Zakaria pula Mosye dapat diterima di sekolah agama di Baitul Maqdis. Tahun-tahun telah berlalu dan telah membuat seorang Mosye begitu banyak berubah dari masa lalunya, saat ia menghapuskan begitu saja perjuangan dan kebaikan banyak orang kepadanya. Padahal, keturunan Bani Israil telah terkenal dengan kekuatan ingatannya. Mereka juga terkenal tidak pernah lupa dengan janji-jani yang telah diucapkannya. Mungkin karena ketidaktahuan balas budi yang telah sedemikian merambah di zaman akhir sehingga manusia dapat begitu mudah lupa, masa bodoh dengan segala perjuangan dan kebaikan yang telah diperbuat untuknya. Dan Mosye adalah bagian dari mereka, seorang yang kini telah menentang Imran dan Zakaria yang telah menjadi pengasuhnya. “Akhir zaman....,” kata Hanna kepada pohon-pohon zaitun yang diajaknya bicara. “Akan datang hari akhir... akan datang hari penghujung, yang kesetiaan dan sikap tahu balas 95budi akan hilang bersamanya. Kesetiaan akan terangkat dari al-Quds sehingga seorang akan menjadi mangsa bagi yang lainnya….” Demikianlah kata para leluhur. Betapa pedih hati Imran dan Nabi Zakaria saat kembali ke rumah di malam itu. Meski keduanya sama sekali tidak menunjukkan kepedihan hati, di pagi hari berikutnya Hanna maupun al-Isya telah mendengar desas-desus yang begitu memerahkan telinga. Sesak serasa jiwa dibuatnya. Semua orang telah ramai menggunjing. “Mandul, laknat ilahi!” seru Mosye dan orang-orang yang mengikutinya. Penghinaan itu cepat merambah ke seantero kota. Bahkan, penghinaan menyakitkan sampai juga ke dalam rumah tangganya. Dicap sudah keluarganya oleh semua orang yang tidak punya hati. Tercabik-cabiklah hati Hanna dan al-Isya. “Dua orang ini adalah wanita terlaknat yang menjadi mandul. Huh....” Mendengar ini, Nabi Zakaria sampai-sampai mengeluhkan orang yang menebar hinaan itu. “Inikah wujud persaudaraanmu? Sungguh keji sekali perbuatanmu wahai orang yang kami telah anggap sebagai saudara. Inikah hal sebaliknya yang engkau lakukan kepada kami? Inikah persahabatan, inikah balas budi? Bukankah engkau adalah seorang yang telah mengabdikan diri di jalan Tuhan, mengabdi untuk membimbing, memberi contoh kepada masyarakat? Lalu, mengapa engkau tega menyebar itnah yang sedemikian keji kepada kami? Apa tujuanmu sehingga kami khawatir dengan masa depan keluarga sepeninggal kami lantaran perbuatan kejimu!?” 96Gunjingan para wanita begitu pedas terdengar di telinga Hanna dan al-Isya. “Bukankah Imran dan Zakaria adalah para alim agung? Mungkinkah keduanya memiliki kekurangan? Pastilah kalian para istri yang lemah. Ah.... Jika saja kalian berdua lebih perhatian kepada suami, pasti akan tercapai keinginan mereka untuk memiliki anak. Namun, rupanya para istri mereka tidak begitu mampu memberikan cinta!” Dan malam itu, al-Isya menangis tanpa henti. Hatinya koyak karena sedih sehingga ia pun mengadu kepada suaminya. “Mengapa engkau tidak meninggalkan diriku yang telah menjadi wanita terlaknat ini?” Nabi Zakaria yang secara usia lebih tua menenangkan hati istrinya dengan penuh kasih sayang. “Engkaulah satu-satunya pendukungku di dunia yang luas ini. Satu-satunya belahan jiwa tempat berbagi derita. Lalu, mengapa engkau berkata begitu? Tidak engkau tahu kalau permasalahan ini adalah kuasa Allah dan takdir-Nya? Meski tahu dan mengimani semua ini, mengapa engkau masih menyalahkan diri dan juga membuatku bersedih hati, wahai Isya!?” Nabi Zakaria bertutur dengan lembut meyakinkan sehingga hati sang istri menjadi tenang. Dan memang demikianlah selalu luka di dalam hati al-Isya terobati. “Kehormatanku paling mulia di dunia ini adalah dirimu, menjadi istri seorang nabi!” kata al-Isya seraya bersimpuh 97dalam pangkuan sang suami. Nabi Zakaria pun segera menarik tanggan untuk berdiri seraya mencium lembut kening istrinya. Betapa kejam orang yang berkata “mandul” untuk mereka. Gunjingan ini sebenarnya sudah lama dan menyeruak sejak ada perebutan supremasi di antara para alim Baitul Maqdis. Imran yang berasal dari keturunan Nabi Harun dan Zakaria yang berasal dari keturunan Nabi Daud sebagai alim agung hampir saja dihardik dari dalam Baitul Maqdis. Lebih-lebih dengan kenyataan bahwa Zakaria telah diutus sebagai nabi. Hal itu membuat para pengasuh Baitul Maqdis yang secara usia dan jabatan lebih tinggi semakin tidak kenal ampun. Mereka merasa telah banyak beribadah, mengabdikan hidup di jalan agama sampai rambut kepala memutih, berzikir, berpuasa, dan menempa spiritual. Namun, mengapa yang justru terpilih di antara mereka untuk menjadi seorang nabi adalah Zakaria? Mereka menyangka diri mereka lebih layak untuk menjadi seorang nabi. Demikianlah, sikap serakah dan sombong telah mengobarkan api kemarahan dan permusuhan... Bahkan, dua lembaga terbesar di Baitul Maqdis, yaitu pesantren akhlak dan hattat, telah dirambah api permusuhan itu. Sebagian dari para ahli tulis kitab berada dalam asuhan Imran dan Zakaria. Mereka adalah ahli takwa, kelompok yang menjaga diri dari politik wali Romawi. Sementara itu, kelompok tablig menyibukkan diri untuk ikut campur ke dalam politik Romawi untuk menjaga keselamatan Baitul Maqdis. Bahkan, mereka tega menandatangani peraturan pemungutan pajak yang sangat membebani warga, sesuatu 98yang ditentang Imran dan Zakaria. Demi mendapat simpati politik dari Romawi, para pengikut kelompok tabligh setuju dengan penerapan pajak karena mereka tidak terkena aturan itu. Perbedaan seperti inilah yang kian hari meruncing. Apalagi, kondisi kesejahteraan masyarakat al-Quds semakin menurun. Tingkat kemiskinan bertambah. Banyak orang sakit, kelaparan, dan hukum yang tidak adil untuk setiap warga. Sudah lama para pengasuh Baitul Maqdis tidak lagi mengindahkan syariat Nabi Musa demi ekonomi dan politik. Sepuluh ajaran tauhid yang diperintah Nabi Musa sudah lama ditinggalkan. Bahkan, mereka telah jauh tersesat dengan mengumpulkan emas dan harta dalam pemotongan hewan kurban dan persembahan. “Dunia bersama dengan politik dan harta kekayaannya harus berada di bawah kendali bangsa Yahudi,” kata mereka. Sejatinya, yang ada dalam pikiran mereka hanya harta dan keselamatan pribadi. Imran telah mengatakan, “Tidak dibenarkan bergabung dengan orang zalim bersama dengan kezalimannya.” Namun, mereka malah berbuat sebaliknya. Mereka semakin asyik terjun ke dalam dunia politik dan menjalin hubungan dengan Romawi dengan alasan masa depan Baitul Maqdis. Tak heran jika mereka mendapatkan status khusus sebagai kasta paling tinggi dengan menjadi pemimpin agama di tempat peribadatan dan dibebaskan dari berbagi tanggungan dan beban. 99Orang-orang yang menghuni tempat peribadatan sebenarnya hanya berkuasa dalam lingkup yang sempit. Karena itulah mereka menerima pemerintahan Romawi karena menjanjikan status khusus di masyarakat, meski harus dengan mengorbankan banyak kepentingan rakyat dan bertentangan dengan ajaran tauhid. Siatuasi ini membuat Mosye selalu tampil memanfaatkan keadaan dengan menyinggung masalah “perubahan zaman”; suatu masa ketika orang-orang fakir, pengangguran, dan wanita diusir dari tempat ibadah. Tidak hanya itu! Dengan dukungan wali Romawi, tempat ibadah juga diawasi para penjaga keamanan untuk mengusir sekelompok orang berpakaian lusuh model lama jauh di luar kota. Rupanya, mereka kerap menentang kebijakan para pengasuh tempat ibadah. Seiring dengan semakin banyak warga miskin yang meminta-minta di pintu gerbang Baitul Maqdis pada setiap Jumat, wali juga memerintahkan pemberhentian bantuan kepada mereka. Tertutup sudah pintu Baitul Maqdis bagi warga. Sayangnya, para pengasuh Baitul Maqdis juga tidak juga bicara barang sepatah kata. Desas-desus gunjingan lain menyangkut Hanna dan al- Isya. Tujuan sebenarnya untuk mematahkan kekuatan suami mereka. Gunjingan pun menyebar seolah-olah Imran dan Nabi Zakaria telah memberi hukuman kepada Hanna dan al-Isya. Atas semua kejadian inilah Hanna mengungkapkan isi hatinya kepada pohon-pohon zaitun yang ada di kebun halaman belakang rumahnya. Akhirnya, ia pun mendengar suara Merzangus yang mendekatinya. “Dengan siapakah Anda berbicara?” “Oh, kamukah Merzangus?” 100“Apakah pohon-pohon zaitun ini bisa mendengar Anda bicara?” “Tentu saja. Allah yang menciptakan pohon-pohon zatun ini, yang telah menciptakan Gunung Tur, dan juga seluruh penduduk Palestina pastilah mendengar suaraku.” “Mengapa Anda begitu sedih?” “Oh tidak... tidak ada apa-apa, anak kecilku.” “Anda adalah seorang wanita yang mulia, Ibunda Hanna. Anda menjamu setiap tamu yang datang mengetuk pintu, menafkahi anak yatim dan fakir-miskin, hormat kepada para alim, dan juga selalu menunaikan kewajiban kepada sanak-keluarga serta tetangga. Semoga Allah berkenan menghilangkan kepenatan di dalam hati Anda, mengabulkan segala doa yang dipanjatkan kepada-Nya.” “Ah, anak kecilku yang manis! Sungguh baik sekali perkataanmu!” “Saya sering membaca suhuf Nabi Idris bersama dengan Kakek Zahter pada malam-malam hari saat saya tidak bisa tertidur di tengah-tengah perjalanan di padang pasir. Dalam suhuf itu dijelaskan tentang para hamba yang terpilih. Mereka adalah para hamba yang cerdas, sederhana, namun kaya akan ilmu dan hikmah. Dan Anda dengan seizin Allah adalah salah satu dari mereka. Mohon Anda jangan terus bersedih!” “Apakah kamu bisa baca tulis Merzangus?” “Tentu saja. Saya bisa membaca dan juga menulis. Sedikit tahu geometri dan juga astronomi.” “Ah, Merzangus putriku! Sudah dua tahun para pemuka agama melarang wanita membaca kitab. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kalau kamu bisa membaca dan menulis!” 101“Tapi, semua ini adalah hal yang sangat bodoh! Lucu! Mengapa wanita tidak boleh membaca kitab?” “Panjang sekali sejarahnya. Sudahlah, lupakan saja. Meski sebenarnya aku dan juga adikku, al-Isya, yang sedikit banyak telah menjadi penyebab larangan ini. Sudahlah…. ” “Bisakah begitu...? Memangnya apa yang telah Anda perbuat sehingga wanita sampai dilarang membaca kitab?” “Pada saat wali Romawi memberi perintah untuk didirikan patung Caesar di sebelah pintu selatan Baitul Maqdis di arah Damaskus, pada hari pendirian patung itu para wanita Palestina telah berkumpul di tempat yang akan didirikan patung untuk serempak membaca Taurat bab Puji-pujian Lautan’. Saat itu, para tentara mengusir paksa kami semua. Tapi, mungkinkah kami akan menuruti mereka untuk diam? Puji-pujian yang telah dibaca oleh Maryam, kakak perempuan Nabi Musa saat keluar dari Mesir, telah memberikan semangat kepada kami kaum wanita. Saat itu, Nabi Musa memukulkan tongkat dengan tangan kanannya sehingga terbuka jalan di tengah-tengah lautan untuk para hamba yang terzalimi. Kemudian, Firaun dan bala tentaranya mengejar dari belakang, sampai akhirnya mereka tenggelam ditelan lautan. Bisakah, kamu renungi bahwa kezaliman orang-orang Romawi sama dengan kisah ini? Karena itulah kami teguh membacanya dengan khusyuk. Sampai mereka pun mengecap aku dan juga al-Isya sebagai pemimpin kelompok penentang, pembuat kerusuhan.” Riang-gembira wajah Merzangus mendengarkan kisah sekelompok wanita yang berani menentang itu. Saat itulah ia mulai dengan keras melantunkan puji-pujian “Syair Lautan”. Tuhan telah menghantamkan kuda dan hewan tunggangan lainnya pada lautan, 102Pada hari itu Ia telah menyelamatkan Bani Israil dari tangan Firaun. Dan Allah adalah Zat Yang Mahaperkasa dari para hamba yang sombong, Sehingga kuda dan hewan tunggangan lainya dihantamkan pada lautan. Duhai Allah, Engkau Zat Yang Mahaagung dan Mulia, Perangilah orang-orang yang melawan-Mu, tunjukkanlah murka-Mu atas mereka... Hapuskanlah para zalim layaknya abu jerami yang lenyap terhempas angin, Pada hari itu air yang cair mengalir dipaksa tegak seperti dinding, Membeku dalam kedalaman hati lautan, Musuh berkata “Akan aku ikuti” Namun engkau mengembuskan angin sehingga lautan pun menyapu mereka! Lautan telah menyelimuti mereka! Riang hati Hanna dan Merzangus. Keduanya saling berpelukan. Hanna pun mengecup rambut Merzangus seraya berkata, “Bait puji-pujian inilah yang kami baca bersama-sama dengan sekelompok wanita. Dan sang wali telah mengecap kami sebagai pembangkang.” Saat itu keduanya kembali tertegun. “Awalnya, mereka mengumumkan bahwa pintu timur Baitul Maqdis akan ditutup sebagai hukuman. Tentu saja semua orang kaget. Kemudian, beberapa guru pesantren yang diketuai Mosye mencapai kesepakatan dengan sang wali. Entah apa yang telah mereka sepakati? Namun, di malam itulah semuanya mulai terjadi. Kaum wanita dihukum sebagai 103kelompok terlaknat, penentang. Mosye telah berkata kepada sang wali, Semua ini terjadi tanpa sepengetahuan kami. Mohon kami dimaafkan.’ Sang wali pun mengampuni dengan syarat kaum wanita dilarang masuk ke dalam masjid sebagai ganti penutupan pintu timur.” “Ah...,” kata Hanna melanjutkan. “Dan setelah itu kembali ada larangan bagi wanita untuk belajar dan pergi ke masjid. Bahkan, mereka mendatangi semua rumah satu per satu untuk mengambil semua buku yang ada. Sejak saat itulah kaum wanita Palestina dilarang untuk membaca dan menulis. Sekolah kaum wanita yang ada di Baitul Maqdis juga ditutup sejak saat itu. Bahkan, kami dilarang untuk sekadar menaiki tangga depan masjid. Jika engkau bertanya mengapa’ kepada para guru di Baitul Maqdis, mereka akan menjawab dengan berkata semuanya berada di bawah tanggungan mereka. Dan demi keselamatan al-Quds, kami pun diwajibkan diam dan tunduk.’ Padahal, kami adalah kaum yang telah berjanji untuk tidak tunduk kepada selain Allah. -o0o- 10411. Hnna Mengndng Kini hati Hanna yakin sudah bahwa dirinya telah mengandung. Benar-benar mengandung. Berisi. Benar-benar diberi amanah, Mengandung seorang bayi. Semua ini ternyata tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya bahwa masa suburnya telah tiada. Ia pun berdoa dengan dengan ribuan pujian dan harapan kepada Tuhannya penuh dengan kekhusyukan. “Ya Rabbi! Jadikanlah bayi ini sebagai orang yang benar- benar merdeka, merdeka untuk hanya aku persembahkan kepada-Mu! Kabulkanlah doaku. Sungguh, Engkau adalah Zat Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” Demikian doa Hanna meluapkan rasa syukur dan senangnya. Wajahnya kembali cerah, kedua tangannya gemetar penuh kegembiraan. Ia kembali terbayang masa-masa muda yang penuh dengan energi. Berlarilah dirinya ke segenap ruangan. Terbang bagaikan kupu-kupu. Segera ia gandeng tangan Merzangus untuk diajaknya berlari memberi kabar ke saudara perempuannya, al-Isya. Ia pun meluapkan kegembiraannya begitu mendengar 105berita itu. Bersama meluapkan kebahagian dan rasa syukur yang seketika mengubah suasana menjadi seperti hari raya. Terguyur hati mereka dalam hujan kebahagiaan. Sebagaimana adat penduduk Palestina pada umumnya saat dalam suasana bahagia, halaman depan pintu rumah diguyur dengan air segar. Tak lupa bersedekah berpiring-piring buah zaitun kepada para peminta-minta serta aneka macam makanan dan minuman kepada para mufasir. Aneka bunga-bungaan pun digantung di jendela rumah. Setiba di rumah, bagaimanakah dirinya akan memberi tahu kabar gembira ini kepada suaminya? Al-Isya mulai sibuk memasak berbagai macam makanan untuk merayakan kabar gembira yang akan diberitahukannya kepada sang suami. Sementara itu, Merzangus sibuk merias tangan Hanna dengan tinta inai dan menyisiri rambutnya dengan minyak asir. Sepanjang hari, orang-orang berkumpul untuk melantunkan dan mendengarkan puji-pujian di rerimbunan kebun zaitun. Mendapati suasana yang seperti itu, pepohonan zaitun yang telah lama menjadi sahabat sejati Hanna seolah-olah ikut bersuka cita dengan mengembuskan angin sepoi-sepoi. Semilir udara terasa.... Seolah-olah semua makhluk bergoyang satu sama lain ikut meluapkan kegembiraan. Langit dengan bumi, mentari dengan puncak gunung saat terbit, dedaunan dengan sesamanya, sayap burung-burung yang satu dengan yang lain. 106Seakan-akan seisi alam raya kembali hidup dengan titah Zat Yang Maha Menghidupkan telah bermandikan luapan cinta dan kegembiraan di halaman kebun rumah Hanna. “Apa?” tanya Imran. Ia berhenti meneguk sirup seraya meletakkan gelasnya di atas meja dengan keras. Batangan es yang memenuhi gelas pun terkoyak hampir tumpah. Berdetak kencang jantungnya. Tersentak hatinya mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan istrinya. Seisi rumah pun ikut guncang.... “Apa? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan?” “Aku bilang bahwa aku sudah mengorbankan bayi yang masih berada di dalam kandungan ini kepada Allah!” “Bukankah kamu sendiri sangat tahu apa yang dimaksud dengan mengorbankan anak untuk Allah, Hanna! Kamu adalah saudara perempuan, keturunan Harun. Dan kamu juga tahu dari apa yang telah ia ajarkan bahwa hanya anak laki-laki yang bisa dikorbankan kepada Allah. Lalu, dari mana kamu tahu kalau bayi yang ada dalam kandunganmu itu akan lahir laki-laki?” “Allah Maha Mendengar apa yang kita niatkan. Aku selalu berdoa agar lahir bayi laki-laki untuk aku korbankan di jalan- Nya.” “Ah, Hanna! Tidaklah baik tawar-menawar dengan Tuhan! Seharusnya kita memohon apa yang terbaik dari-Nya!” “Kamu memang selau begitu wahai Imran saudara Harun! Selalu saja kamu bicara keras kepadaku. Selalu saja kamu menganggap diriku sebagai orang yang yang salah dan kurang. Selalu saja bicaramu bernada membentak, menyalahkan.” 107Hanna pun menangis. Imran pun gemetar, takut telah berbuat yang melampui batas kepada Allah. Di samping itu, ia juga merasa sedih dengan perasaan penuh salah karena telah melukai hati istrinya yang telah bepuluh-puluh tahun merindukan seorang anak. Ia hanya mondar-mandir tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia memerhatikan berbagai macam makanan yang telah dihidangkan di meja, kemudian sesekali melihat ke arah istrinya yang telah berias sedemikian rupa namun kini sedang menangis pilu. Entah, siapa yang tahu seperti apa riang gembira hati sang istri karena menunggu kedatangan suaminya untuk memberi tahu berita gembira. Pedih ia melihat semua yang telah dilakukan. “Sungguhkah kata-kata itu terlalu keras?” Bagaimana kalau hati sang istri yang telah berpuluh-puluh tahun merindukan anak kini menjadi patah? Namun, bukankah ia harus lebih bersabar karena telah berjanji kepada Allah? Terdiam Imran untuk beberapa lama tanpa tahu apa yang harus dilakukan. “Janganlah engkau menangis, wahai istriku!” kata Imran seraya membelai rambut istrinya. Memerhatikan keadaan yang kurang mengenakkan, al- Isya segera mengajak Merzangus pergi. Membiarkan kedua suami-istri adalah hal yang terbaik dalam saat-saat seperti ini. “Ada apa dengan semua ini?” tanya Merzangus dalam kerdipan mata tak mengerti. Mengapa semua orang tidak bahagia? 108“Sungguh, Allah adalah Zat yang tak pernah habis dengan rahmat. Ia pasti akan mencintai dan melimpahkan rahmat- Nya kepada para hamba yang jujur dan bertakwa. Karena itu, janganlah kamu bersedih hati, wahai putriku. Sungguh, Imran dan Hanna adalah orang yang jujur dan bertakwa. Semoga Allah berkenan melimpahkan rahmat kepada mereka dan juga kita,” jawab al-Isya. -o0o- 10912. Susna Hti Imrn Remuk serasa hati Imran saat itu. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, berita suci yang ia dengar adalah istrinya mengandung bayi! “Segalanya datang silih berganti. Mungkin inikah penyebab gundah hati yang aku rasakan?” demikian pikirnya. Kegundahan yang susah dipilah, sesusah dua bangsa yang saling bercerai oleh tekanan politik Romawi. Belum lagi perpisahan dengan Nabi Zakaria karena desas-desus yang berkembang belakangan. Hatinya juga merintih pedih berharap dikarunia seorang anak. Namun, hal ini sekali pun tidak pernah ia ceritakan, baik kepada istrinya maupun kepada yang lain. Di samping itu, semua isyarat tertuju kepada Hanna dan al-Isya, orang-orang yang mandul karena terlaknat’. Dalam keadaan seperti ini, berita soal Hanna yang sedang mengandung sesungguhnya adalah hadiah agung dari Yang Maha Pengasih. Sungguh, hati Imran telah koyak seperti bulu-bulu domba yang disamak menjadi benang. Terlintaslah kata-kata Zahter beberapa saat sebelum wafat, “Teruslah bertawakal kepada 110Allah. Sungguh telah dekat kedatangan berita gembira’ tentang sang pembawa kabar gembira’.” Atau jangan-jangan? Jangan-jangan bayi yang akan lahir ini adalah...? Atau, jangan-jangan, kehamilan dan kata-kata istrinya untuk mengorbankan sang bayi kepada Allah adalah tanda semakin dekat kedatangan “sang utusan”, “pembawa berita gembira”? Namun, menurut Imran, pemikiran itu hanya kondisi psikologis seseorang yang berada dalam tekanan karena sedang menantikan kedatangan seorang penyelamat. Lintasan ini kembali ia pertanyakan kepada dirinya sendiri. “Kerusakan segala tatanan di al-Quds, para perampok yang merajalela, dan sepuluh perintah Tuhan yang telah hilang telah membawamu pada pemikiran yang seperti ini, wahai Imran. Engkau pun seperti seorang ibu yang sudah renta dan mulai mengharapkan kedatangan seorang penyelamat.” Keadaan setiap orang yang berada dalam keputusasaan, kegagalan, kepenatan, porak-poranda, tatanan yang dijajah orang-orang bengis. Sebelumnya, ia akan berdiam diri dan kemudian mulai mengharapkan kedatangan seorang penyelamat dari langit. “Mungkinkah keadaan seperti ini juga?” kata Imran dalam hati. Demikian ia mulai berusaha menegakkan kembali pilar-pilar keteguhan jiwanya. Sebagai seorang yang bertawakal, bukan tugasnya untuk menantikan kedatangan seorang penyelamat, melainkan meneguhkan 111kembali penghambaannya dengan berupaya mulai menyelamatkan diri, keluarga, dan kerabat terdekatnya. Ia paham akan hal ini dan juga mengerti bahwa makna dan nilai kehidupan akan dilihat dari ikatan penghambaan seorang manusia. Saat dirinya mencoba membungkam desas-desus yang selalu berbisik, semangat yang meluap-luap dalam sebuah penantian di dalam jiwanya tak ia bisa mungkiri. “Berita gembira akan kelahiran seorang bayi,” katanya dalam suara lirih. “Kedatangan berita akan menjadi seorang ayah’ di saat usianya sudah lanjut,” katanya mencoba menenangkan diri dari gejolak di dalam jiwanya. Berjalan dan terus berjalan mengitari ruangan saat semua ini terlintas di dalam pikiran Imram. “Ah...,” katanya. “Hanna, engkau terlalu tergesa-gesa!” Bahkan, Hanna telah juga mengundang para dukun bayi terkenal dengan sebutan “tujuh dukun bayi al-Quds” ke rumahnya. Ia juga memberi tahu kepada mereka tentang kehamilannya. Bahkan, mereka juga membenarkan kehamilan itu setelah diperiksa. Tidak luput dari doa, pujia-pujian, dan membakar tembakau daun zaitun sebagai perayaan kegembiraan. Sebagai adat, setiap anak yang dikorbankan untuk Allah, nama panggilannya akan diberitahukan kepada Baitul Maqdis lewat “para dukun bayi”. 112Hanya saja, adat yang berlaku selama ini adalah untuk anak laki-laki. Jika seorang bayi laki-laki terlahir dan seorang ibu ingin mengorbankannya kepada Allah, dukun bayi yang memotong tali pusarnya akan mendaftarkan namanya kepada Baitul Maqdis. Sementara itu, anak perempuan tidak bisa dikorbankan. Setiap anak yang dikorbankan untuk mengabdi di masjid akan mendapatkan pembinaan disiplin dan penempaan isik yang sangat berat. Karena itu, anak-anak perempuan diyakini tidak akan kuat karena secara isik sangat lemah. “Ahh...,” kata Imran. “Istriku, sungguh dirimu terlalu tergesa-gesa! Apa jadinya kalau yang lahir bukan bayi laki- laki? Apa yang akan dikatakan para pemuka Baitul Maqdis yang selama ini telah bersepakat melawan kita? Pastilah hal ini hanya akan mengundang kebencian baru. Apalagi, selama ini mereka memang mencari-cari alasan untuk merendahkan martabat kita.” -o0o- 11313. Susna Hti Hnna Hanna mengurung diri di dalam kamar yang lain untuk beberapa lama. Bayi yang ada dalam kandungannya tidak lain tidak bukan adalah anugerah dari Allah. Bayi yang lahir pada usiannya yang sudah begitu senja tentu harus dikorbankan di jalan-Nya... Bukankah ini adalah pengungkapan rasa syukur yang terdalam bagi seorang hamba yang selama berpuluh-puluh tahun merindukan seorang anak? Bukankah pengungkapan syukur yang sebenarnya, pemujaan yang sesungguhnya, persembahan yang paling mulia, adalah bayi yang ada di dalam kandungannya? Lebih dari itu, tidakkah hal itu semestinya akan membuat bahagia suaminya yang setiap kali mengingatkan bahwa “engkau telah menjadi budak perasaan untuk meminta?” Jadi, meski selalu memohon, ia juga akan mengembalikan bayi ini kepada Allah. Allah Mahatahu. Sepanjang hidupnya, Hanna hampir selalu berdoa untuk dikaruniai seorang anak. Pada saat inilah Hanna akan mendapati “ujian meminta” untuk mengorbankan “apa yang diinginkan” di jalan yang sesuai dengan keinginan- Nya. 114“Segala puji aku haturkan kepada-Mu, wahai Tuhan yang menjadi tempat meminta segala permintaan. Puji syukur aku haturkan kepada-Mu yang telah mengabulkan apa yang aku minta selama berpuluh-puluh tahun ini. Kini, aku pun ingin mengorbankan “apa yang sangat aku inginkan itu” ke jalan- Mu. Mohon berkenan Engkau kabulkan pengorbananku ini!” Tidak ada nikmat kemuliaan di dunia ini yang setimpa, seimbang, dan seberat keinginannya untuk memiliki seorang anak. Menjadi seorang ibu jauh lebih ia inginkan daripada semua kenikmatan dunia yang lainnya. Namun, sebagaimana akhlak setiap hamba yang bertakwa, ia juga kadang merasa takut dengan dirinya sendiri. Takut karena terlalu menginginkan sesuatu. Keinginannya yang kuat untuk menjadi seorang ibu telah melekat, mengikat segala sendi kehidupan. Padahal, bagi seorang hamba yang mengharapkan rida Allah, setiap jenis kecanduan, keterikatan, dan keinginan masing-masing adalah penghalang dalam penghambaan kepada Allah. Padahal, bukankah seharusnya setiap hamba memangkas segala bentuk keterikatan, keinginan, dan kecenderungan dari selain kepada-Nya untuk dapat mencapai kedekatan kepada Allah? Hanna merasakan bahwa segala bentuk keinginan, kecenderungan, dan kedekatannya kepada dunia ibarat rantai yang melilit, menjerat dirinya. Sungguh benar juga apa yang dikatakan sang suaminya. Ia hampir terpenjara, terlilit erat oleh keinginannya yang kuat untuk memiliki seorang anak. Padahal, di antara dirinya dengan Allah telah terjadi perjanjian tauhid. Sebuah keterikatan yang tidak bisa dicapai dengan hasrat dan keinginan, tapi dengan kesadaran, yaitu penghambaan. Sebuah keterikatan yang juga merupakan 115deklarasi untuk meninggalkan segala bentuk keterikatan dan hasrat duniawi lainnya. Sebuah perjanjian penghambaan. Dan pengorbanannya ini adalah untuk memangkas segala rantai- rantai pengikat dunia, untuk menjadi hamba yang merdeka, untuk membebaskan ruhnya dari segala jeratan. Mengorbankannya akan menjadikan dirinya sebagai hamba yang merdeka dari keinginan yang menjeratnya. Dengan demikian, ia korbankan juga kepada Allah bayi yang menjadi satu-satunya keinginannya di dunia. “Duhai Rabbi, terimalah persembahanku,” katanya sembari bersujud. Pengorbanannya ini telah membuatnya merdeka, menjadi hamba yang semakin mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, satu-satunya orang yang paling bisa memahaminya adalah Nabi Zakaria suami adiknya. Bukankah dia sendiri yang telah menjadi perawat para kurban pesembahan kepada Allah di Baitul Maqdis? Bukankah dia yang memegang kunci-kunci Betlehem? Bukankah dari Nabi Zakaria pula ia mendengarkan pemahaman ajaran akan pengorbanan? “Bukanlah daging,darah,maupun tulang-tulangkurbanmu yang akan mendekatkanmu kepada Allah, melainkan kesadaranmu untuk menghamba, untuk rida kepada-Nya.” Bukankah demikian yang dikatakan Nabi Zakaria? 116Berkurban merupakan wujud rasa syukur kepada yang dipersembahkan, ungkapan terima kasih terbaik kepada Zat Yang Maha Memberi. Oleh karena itulah… oh, oh…. Tidak! Memang tidak mungkin Hanna bersikap pelit. Tidak mungkin pula ia hitung- hitungan, tawar-menawar dalam hal ini. “Ya Rabbi, aku berkurban kepada-Mu dengan apa yang terbaik yang ada pada diriku, dengan berkurban bayi yang akan terlahir dari kandunganku untuk mengabdi di jalan-Mu.” -o0o- 11714. elairn Marym “Tidak mungkin mendapati dua kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan, dua musim semi yang datang silih berganti,” demikian dikatakan para wanita Palestina pada masa lalu. Saat sedikit saja bahagia, selanjutnya akan datang kesedihan sebagai ujian. Oleh karena itu, mereka takut tertawa lepas dengan menunjukkan gigi. Mereka juga paham bahwa setiap tangisan akan diiringi kedatangan senyuman. Demikianlah pola kehidupan orang-orang di Palestina. Begitu pula kehidupan seorang Hanna. Sampai sudah di bulan ketujuh kehamilannya. Tubuhnya makin kepayahan. Menjadi seorang ibu di usia yang sudah menginjak senja membuatnya sampai tidak dapat keluar rumah. Untung saja ada Merzangus dan al-Isya. Keduanya selalu membantu dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya. Bahkan, mereka tidak membiarkan Hanna menyentuh air dingin. Keduanya juga telah melakukan berbagai persiapan menjelang kelahiran. Merajut dan memintal benang adalah adat penduduk Palestina. Berbagai macam pakaian untuk 118sang bayi yang akan lahir pun tersedia. Setelah lahir sampai dapat duduk dan berdiri dengan lancar, anak akan tinggal bersama Hanna. Setelah itu, seabagaimana anak-anak lain yang telah dikurbankan, ia akan diserahkan kepada Baitul Maqdis. Setelah tinggal di sana sampai di usia dewasa, ia akan memutuskan sendiri untuk memilih tinggal bersama keluarganya atau tidak akan kembali lagi untuk melanjutkan mengabdi sambil belajar. Merzangus selalu memilih warna biru. Ia membuat sarung tangan bayi, penutup kepala, dan popok serbabiru, seraya mulai menghitung hari kelahiran. Merzangus juga menggambar bintang-bintang di langit dengan satu bintang paling besar dan bercahaya. “Lihat, bintang ini adalah kamu!” katanya nanti kepada sang bayi yang akan lahir. Sementara itu, al-Isya meminta dibuatkan buaian dari kayu kepada suaminya, Nabi Zakaria, untuk sang kemenakan yang akan segera lahir. Semua orang sibuk… semua orang gembira dalam penantian. Tiba-tiba berita duka membuat Hanna terpuruk. Teman hidupnya, tiang rumah tangga, pintu, sandaran, dan penopangnya, Imran sang suami, wafat. Suatu hari, wajah Merzangus terlihat begitu pucat. Ia berlari kencang dari pasar untuk segera menuju rumah. Sesampai di rumah, setelah terdiam untuk beberapa lama menatap Hanna yang sedang berdiri tepat di pintu rumah, ia langsung jatuh pingsan. 119“Hah, Merzangus pingsan!” Hanna pun segera pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Ia ingin membasuh muka anak itu agar segera siuman. Namun, baru sampai di pintu rumah dengan gayung berisi air, ia melihat rombongan dengan kereta kuda. Ham, Sam, Yafes, ketiga darwis sahabat Zahter, telah membawa jenazah Imran dengan membaringkannya di atas kereta kuda. “Demi Allah, katakan apa yang telah terjadi? Imran selama ini tidak pernah tidur di waktu siang hari. Dan lagi, mengapa dia dibawa dengan kereta kuda ini? Mengapa para darwis ini turun dari Bukit Zaitun meninggalkan tempat uzlahnya? Dan lagi mengapa Zakaria ikut datang juga? Apa yang telah terjadi dengan semua ini? Mengapa dia tampak pucat menundukkan wajah? Al-Isya juga mengenakan pakaian serbahitam? Mengapa... mengapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi!?” Semua pertanyaan dan kekhawatiran terus membanjiri, seolah-olah seisi kota al-Quds mengguyur isi pikirannya. Mengapa orang-orang berduyun-duyun datang ke sini? Mengapa para tetua juga ikut berkumpul di rumahnya? Jangan… jangan, mereka jangan ke sini! Biarlah mereka pergi meninggalkan rumah ini… biar Imran kembali bangkit dari atas kereta kuda. Biar Imran tidak mati. Biar Imran menjadi seorang ayah...! “Ah, Imran saudara Harun! Kehidupanmu selalu begitu. Telah datang perintah dari Zat Yang Mahakuasa sehingga engkau pun pergi tanpa memberi tahu siapa saja sebelumnya. Ah, Imran saudara Harun! Engkau pergi tanpa melihat anakmu, tanpa membelai dan mencintai anakmu. Pergi sejauh-jauhnya ke tempat yang telah dituliskan.” 120Demikianlah keadaan Hanna. Ia terus bicara tanpa sadar mana yang sungguhan dan mana yang igauan. Genap lima belas hari ia terbaring dalam suhu badan yang sangat tinggi tepat setelah mendengar berita kematian suaminya. Pudar sudah suasana di dalam rumahnya. Tirai kain berwarna abu- abu menutupi seluruh ruangan. Gelap, menghitam sudah awan di atas taman zaitunnya. Pohon-pohon pun ikut menangis dalam kepedihannya. Dalam keadaan seperti itu, Hanna terus bersedih karena khawatir kehilangan buah hati yang masih berada di dalam kandungannya. Tujuh dukun bayi yang sebelumnya memeriksa kandungannya dan mendapati sang bayi dalam keadaan sehat kini telah terselimuti perasaan khawatir. Mereka takut sang bayi tidak bergerak dan berhenti bernapas karena ikut merasakan kepedihan. Tidak ada tanda-tanda janin bergerak di dalam kandungan Hanna. Lebih dari satu jam. Belum juga lahir ke dunia, sang bayi sudah tak punya seorang ayah yang akan menopang kehidupannya. Belum juga lahir, sang bayi sudah bersandar pada dinding tak berayah yang begitu dingin dan membuatnya menggigil. Setelah sepuluh hari, Hanna kemudian bangkit dari kesedihan. Bangkit dari rasa pedih yang membuatnya sangat terkejut atas kepergian sang suami. Pada malam hari menjelang pagi, jeritan terdengar memecah telinga. Darah mengucur deras. Merzangus dan al-Isya yang tidur di samping Hanna segera bangun untuk mencari kain guna menghentikan pendarahan. Namun, seluruh upaya yang mereka lakukan sia-sia. Darah mengucur dengan begitu deras. 121Merzangus segera berlari memanggil salah satu dari tujuh dukun bayi yang paling dekat rumahnya. Langsung saja ia ketuk pintu yang seolah-olah dengan kepalan tangan. Saat pintu terbuka dengan keras, seorang nenek bernama Murver menghampiri. Nenek yang sudah lanjut usia dan bungkuk jalannya itu pun segera mengambil alat sebisa yang ia bawa. Keduanya berjalan dengan cepat menembus keheningan malam, kencang menuju rumah Hanna. Saat itulah mereka melihat rumah itu memancarkan cahaya. Setiap tempat gelap gulita, jalan-jalan setapak, gang-gang, bahkan daerah di sekitar permukiman terang benderang. Padahal, mentari masih lama terbit. Namun, cahaya terang yang terpancar dari rumah Hanna laksana mentari yang baru saja terbit. Nenek Murver pun mengangkat pandangannya ke arah langit. “Allah adalah wakil kita!” katanya seraya terus berjalan masuk ke dalam rumah. “Atas izin Allah, telah lahir bayi perempuan. Semoga Allah menjadikanya sebagai anak mulia!” kata Murver seraya membalut bayi yang baru lahir dengan kain. Saat Hanna sedang dalam suasana yang begitu perih, kepedihannya semakin menjadi saat mendengar bayi yang dilahirkannya adalah perempuan. Sebelumnya, ia telah berniat mengorbankan anaknya kepada Allah sehingga berharap yang lahir adalah anak laki-laki. “Ah! Ya Rabbi!” jeritnya pedih. Teringatlah apa yang dikatakan oleh Imran kepadanya. “Ya Rabbi! Sungguh, Engkau telah melahirkannya sebagai bayi perempuan saat diriku menantikannya sebagai bayi laki- laki.” 122Sementara itu, al-Isya yang menunggu di ruangan tempat kelahiran menimpali dengan berkata, “Puji dan syukur kita haturkan kepada Allah yang telah melahirkannya. Pasti Dia mengetahui apa yang seharusnya terjadi. Coba lihat, betapa cantik bayimu. Lihatlah, pasti kamu tidak akan mau lagi berpisah darinya.” Menangis Hanna sembari mendekap bayi yang baru saja dilahirkannya. Allah pasti Maha Mengetahui. Pasti Dia tahu bahwa bayi ini akan dikurbankan. Meski demikian, “Perempuan tidaklah seperti laki-laki. Ia lebih lemah secara isik. Tentulah ia tidak akan bisa mengabdi di masjid sekuat kaum laki-laki,” kata Hanna dalam hati seraya terus memikirkan apa yang akan terjadi. Dirinya telah salah mengira. Memang benar bayinya perempuan. Dan memang, perempuan tidak sama dengan laki-laki. Namun, bayi perempuan ini akan melakukan kebaikan yang tidak dapat dilakukan kaum laki-laki. Hanna belum mengetahui hal itu. Seandainya saja yang lahir adalah bayi laki-laki, pasti ia tidak akan mampu mengabdi sebagaimana jika yang terlahir perempuan. Hanna tidak tahu semua itu.... Hanna juga belum tahu kalau Zat Yang Maha Mencipta telah menghendaki bayi perempuan. Bayi yang baru saja lahir itu akan menjadi seorang ibu yang sangat penyabar, tabah, dan penuh keteguhan. Seorang ibu yang akan melahirkan seorang putra bernama Isa yang akan menyeru kepada seluruh dunia dengan ajarannnya. Seolah-olah ribuan lilin serempak dinyalakan dan ruangan menjadi begitu terang. Tidak hanya itu, harum semerbak wewangian juga tercium begitu memesona oleh setiap orang 123yang ada. Jelas tercium wangi bunga mawar segar, melati, mint, cengkih, dan oregano. Kening sang bayi juga begitu terang memancar laksana permata. Ia tersipu dengan senyuman maknawi yang mengembuskan ketenangan penuh makna. Begitu lain dibanding bayi pada umumnya. Merzangus juga terpana memerhatikan wajah mungil bayi yang akan menjadi teman dekatnya. Ia perhatikan bayi itu seolah-olah tersenyum dengan sisih waja yang kanan dan menangis pada sisi wajah yang kiri secara bersamaan. Mungil kedua tangannya, bergerak-gerak mencoba menggapai udara kosong yang ada di atasnya. Hanna berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya untuk duduk bersandar di pembatas ranjang. “Ya Rabbi! Aku beri nama bayi ini Maryam. Aku berharap Engkau berkenan melindunginya dan keturunannya dari setan yang telah dihardik!” katanya. Hati Merzangus terasa begitu berdebar. Maryam adalah nama paling baik untuk diberikan kepada seorang bayi. Maryam bermakna seorang hamba yang tekun beribadah, tekun menghamba kepada Allah, dan juga berarti seorang perempuan yang begitu rajin bekerja. Maryam juga nama kakak perempuan Nabi Musa. Ibundanya yang bernama Hani telah mengutus Maryam agar Musa yang masih bayi dialirkan pada sungai dengan sebuah peti kayu. Sepanjang sungai ia mengikuti laju adiknya. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengikutinya. Dan memang, ia adalah seorang yang cerdas dan cekatan. Begitu mendapati aliran peti kayu yang berisi bayi adiknya melaju ke kolam istana Firaun, segera Maryam bersembunyi di balik semak- semak. Kemudian, ia mendapati istri Firaun yang bernama 124Asiyah begitu bahagia mendapati bayi adiknya. Bahkan, ia juga mendengar Asiyah memang menginginkan seorang ibu untuk menyusui bayi yang didapatkannya. Tidak hanya itu, Maryam juga telah menjadi perantara agar ibundanya dapat datang ke istana untuk menyusui adiknya dengan air susu ibundanya sendiri. Demikianlah seorang Maryam. Ia begitu cerdik, cekatan, rajin, cerdas, pemberani, dan suka berkorban. Inilah silsilah Maryam ayahandanya bernama Imran, putra Masan, putra Yasyham, putra Amun, putra Minsya, putra Hazkiya, putra Ahaz, putra Yusam, putra Azriya, putra Yawsy, putra Ahzihu, putra Yaram, putra Yah Afas, putra Asa, putra Abya, putra Rahba’am, putra Sulaiman , putra Daud ... Ketika masih dalam kandungan, Maryam adalah seorang yang telah dipanjatkan doa kepada Allah agar terlindungi dari kejahatan setan. Dan benar, para alim pada masa-masa kemudian telah menjadi saksi kalau Maryam adalah seorang yang terlindungi dari setan dan kenistaan. Para alim di masa setelahnya pun telah membubuhkan catatannya demikian “Tidak ada satu bayi pun yang terlahir di dunia ini tanpa disentuh oleh setan. Karena disentuh setan, setiap bayi menangis. Namun, Maryam dan putranya Isa adalah terkecuali.” Bagaimanakah garis takdir seorang bayi? Bagaimana Tuhan menetapkan garis takdir pada seorang bayi yang diciptakan dari setetes air yang kemudian dibentuk 125menjadi embrio, dibentuk lagi dengan kerangka, daging, dan otot-otot sehinga menjadi bentuk yang sempurna? Tentu saja ini pertanyaan yang berat. Para alim yang lain juga menuliskan tentang sosok Maryam yang tidak tersentuh oleh setan sebagai berikut. “Ketika seorang bayi masih berada di dalam kandungan, malaikat bertanya kepada Allah untuk ditulis seperti apa garis takdirnya? Allah memerintahkan malaikat melihat ke arah kening ibundanya. Malaikat pun memerhatikan kening ibundanya yang terdapat catatan dan tampak bercahaya. Dari catatan itulah bentuk rupa sang anak di masa mendatang, ajal, kebahagiaan, dan kesedihan yang akan dialaminya terlihat satu per satu. Saat itulah malaikat meminta malaikat yang lain mencatat apa yang telah dilihatnya. Pada catatan itu pula malaikat membubuhkan tanda bahwa catatan tersebut dengan seizin dan perintah Allah dapat diubah di waktu kemudian. Setelah itu, hasil catatannya distempel dan ditempelkan di kening di antara kedua mata sang bayi. Saat bayi dilahirkan ke dunia dari rahim ibundanya, ada malaikat bernama Zajir yang mendekapnya. Dekapan itulah yang membuat setiap bayi menangis saat dilahirkan.”* Ada satu kalimat kunci tentang Maryam dan garis takdir yang telah ditetapkan kepadanya, yaitu “ia telah dikurbankan”. 126Ya, Maryam telah dikurbankan. “Kurban, nazar” sebenarnya janji untuk melakukan sesuatu padahal tidak diwajibkan kepadanya. Kalimat kunci kedua tentang Hanna dan Maryam adalah “mereka menjadi sosok merdeka”. Kata “merdeka” sangat lekat pada diri Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa ia merdeka dari tipu daya dan nafsu dunia sepanjang kehidupannya. Kata “muharraran” yang berarti merdeka, diputusnya jeratan tali yang membelenggu yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menjadi budak. Jika masdarnya “tahrir”, berarti juga menuliskan, membubuhkan ke dalam kitab. Karena itulah Maryam adalah sebuah kitab yang lahir dari ibundanya. Terbebas Maryam dari semua jeratan. Saat belum dilahirkan ke dunia, ayahandanya telah tiada. Saat setelah kelahirannya pun ia mendapati ibundanya yang telah sakit. Satu pekan setelah kelahiran, pendarahan yang dialami Hanna semakin menjadi. Saat itulah, ketika al-Isya sedang kembali ke rumahnya untuk mencuci pakaian, Hanna mengambil kesempatan untuk memanggil Merzangus ke sampingnya. “Datanglah kemari wahai anakku yang baik!” “Ibundaku, Hanna! Bagaiamana keadaanmu hari ini, semakin membaikkah?” “Wahai anakku yang manis! Kamu kini telah menjadi anak yang lebih dewasa. Maryam juga nanti akan memanggilmu kakak. Sekarang, aku mau bicara sesuatu, tapi kamu jangan merasa takut!” “Ada apa, Ibunda?” “Kini, kamu sudah lebih dewasa, sudah menjadi kakak!” 127“Ibunda Hanna! Mengapa Anda bicara begitu? Kita akan bersama-sama membesarkan bayinya. Kalau Ibunda bicara seperti itu, tentu saja saya merasa sangat takut.” “Tidak ada yang perlu ditakuti, wahai anakku yang manis! Kemarin malam aku bermimpi bertemu dengan Imran, Merzangus. Aku sangat merindukannya sehingga aku pun berlari menemuinya. Mengapa kamu tidak lagi mengunjungi rumah kita,’ tanyaku kepadanya. Ia pun menjawab, Setelah amanahnya kamu serahkan, justru akulah yang menunggumu untuk datang ke sini besok malam.’ Kemudian, ia memanggilku dengan suara keras, Wahai saudara perempuan Harun,’ katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa. Jangan sampai lupa menyerahkan amanahnya,’ katanya mengulangi lagi pesannya.” “Baiklah, Ibunda Hanna. Jangan bunda paksakan. Kita tunggu al-Isya datang. Ia yang lebih tahu tabir mimpi ini. Semoga baik apa yang akan terjadi.” “Merzangus, jangan berpura-pura tidak tahu. Aku sudah lagi tak bertenaga. Tidak ada lagi waktu yang tersisa. Aku tidak bisa menunggu sampai al-Isya datang. Tolong bantu aku untuk bersandar. Tolong juga selimuti Maryam, kita berangkat ke masjid sekarang!” “Tapi, sama sekali tidak ada kain selimut. Al-Isya sudah membawa semuanya untuk dicuci. Sekarang Maryam hanya mengenakan kain tipis di buaian. Kita tidak bisa membawanya keluar tanpa selimut.” “Ambil saja baju jubahku di sana. Selimuti bayinya dengannya!” Meski telah berusaha keras menghalang-halangi, Hanna tetap kukuh untuk melakukan sesuatu. Dengan bayi yang 128diselimuti jubah dan tubuh yang sempoyongan, Hanna membawa Maryam ke masjid dalam dekapannya. Sesekali Hanna terpaksa harus beristirahat untuk beberapa lama... dan sesekali pula ia memberikan bayinya kepada Merzangus... Sementara itu, pendarahan yang dialami Hanna kian menjadi. Seakan-akan jalanan dari rumah hingga ke masjid dipenuhi darah. Tidak tersisa lagi tenaganya. Ia pun lemas bersandar pada sebuah tangga masjid. Para penjaga masjid pun berlari menujunya. Mereka berteriak-teriak keras. Beberapa orang lainnya membunyikan terompet dengan keras. Mereka melarang wanita memasuki masjid. Karena gaduh, para pengasuh pun berdatangan. Mereka tercengang melihat Hanna yang bersimbah darah membawa bayi yang diselimuti jubahnya. Hanna dan Merzangus pun lebih tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi. Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Hanna memegang bayinya seraya berkata, “Bayi ini telah aku kurbankan kepada Tuhan untuk menjadi anak yang merdeka, terbebas dari segala belenggu dan jeratan dunia. Namanya Maryam,” katanya, dan kemudian jatuh tersungkur seketika. Imran dan istrinya, Hanna, wafat silih berganti. Al-Quds pun guncang mendapati berita berkabung ini. “Anak adalah rahasia sang ayah,” demikian kata para leluhur. Demikian pula dengan Maryam. Karena ayahandanya orang yang mulia, para pangasuh masjid pun langsung menerimanya dengan penuh hormat. Kini, sudah tiada lagi yang tersisa selain bayi berselimut jubah yang telah diserahkan kepada masjid agar kenangan dari Imran tetap hidup. Seorang bayi dari keturunan Bani Masan yang bernama Maryam. 129Dialah bayi yang ayah maupun ibundanya keturunan Nabi Harun dan kini terbaring sendiri, ditinggalkan di atas tangga menuju masjid. Sang ibunda telah menyerahkan bayinya untuk dibimbing dalam ketaatan beribadah, belajar. Ayahandanya adalah Imran bin Masan, seorang alim yang paling terkemuka sehingga semua orang pun berebut untuk dapat menjadi wali asuhnya. Bahkan, beberapa orang yang telah dengan sembunyi- sembunyi menentang Imran saat dirinya masih hidup ikut saling berebut untuk dapat menjadi wali asuhnya. Iya, mereka tahu, siapa yang mengasuh bayi ini akan mendapati kemuliaan dan kehormatan, bahkan sejak sebelum dilahirkan . Demikianlah, Allah dengan kuasa-Nya telah menjadikan hati mereka cenderung mengasihi dan menyayangi seorang bayi bernama Maryam. Sama keadaannya dengan kisah Nabi Musa yang mendapati perlindungan di dalam istana, yang bahkan seorang Firaun pun cenderung mengasihinya. Begitulah kuasa Allah. Seorang yang berhati baja sekali pun dapat tiba-tiba menjadi lembut sehingga sang bayi dapat bertakhta di dalam hatinya.... -o0o- 130ha15. Pengsuh Marym Pada saat Maryam diserahkan, di Baitul Maqdis sudah ada empat ribu anak yang sama seperti dirinya. Mereka semua diserahkan untuk mengabdi di jalan Allah. Seluruhnya laki- laki. Setelah mulai dapat bicara, mereka diserahkan untuk disertakan dalam pendidikan di masjid. Ini berbeda dengan Maryam. Selain wanita, ia masih seorang bayi yang baru dilahirkan. Dirinya butuh wali untuk mengasuhnya sebelum dapat memulai pelajaran dan pendidikan di masjid. Pada saat itulah Nabi Zakaria berbicara dengan tegas. “Diriku menikah dengan bibi bayi yang telah dikurbankan ini. Oleh karena itu, dirikulah yang berhak menjadi walinya,” katanya dengan suara lantang sembari menuruni tangga di pintu masuk Baitul Maqdis. Namun, ketika Nabi Zakaria hendak mengangkat sang bayi, tiba-tiba ada seorang dari salah satu guru telah menghalang- halanginya dengan bersuara lantang pula. “Kami juga ingin menjadi wali asuh bayi mulia yang telah dikurbankan di jalan Allah ini. Anda tidak bisa mengasuhnya begitu saja! Kita harus adakan undian sehingga semua orang akan rela dengan hasilnya!” 132Ketika terdengar seruan untuk berbuat kebaikan yang seperti ini, semua guru juru tulis langsung beramai-ramai berebut untuk ikut melemparkan pena mereka ke dalam sungai. Barang siapa yang penanya tidak tenggelam, dirinyalah yang akan berhak menjadi orangtua asuh Maryam. Demikianlah adatnya... Mereka pun semua mengumpulkan pena kayu kepada seorang santri yang belum balig yang juga telah dikurbankan di jalan Allah. Dengan iringan doa dan puji-pujian, semua pena yang terkumpul akan dibawa ke pinggir sungai Yordan untuk diundi. Satu, dua, tiga, empat, lima.... Genap empat puluh pena. Dan keempat puluh pena itu menginginkan menjadi orangtua asuh Maryam… menginginkan untuk menjadi walinya. Sungguh, inilah kuasa Ilahi. Semua orang berlomba menerima kehadiran Maryam. Kedua mata Merzangus pun berkaca-kaca saat menyaksikannya. Kuasa Zat yang telah membolak-balikkan hati sehingga yang tadinya keras membatu kini menjadi lembut, berbalik menyayangi Maryam. Demikianlah, perlombaan untuk menyayangi Maryam terjadi di pinggir sungai Yordan. “Oh... sungai,” kata Merzangus. “Sungguh engkau seperti garis takdir yang membedakan antara yang benar dan yang salah, serigala dan domba.... Entah siapa yang tahu telah berapa banyak kejadian yang telah engkau saksikan hingga saat ini? Berapa banyak yang telah engkau telan ke dalam banjir aliran airmu? Berapa banyak yang engkau belai dengan embus angin sejuk menyegarkan dari permukaan airmu sehingga mereka pun mendapatkan kedamaian, kenyamanan, meski tidak ada pula yang tahu 133entah berapa orang yang engkau tenggelamkan hingga ke dasar aliranmu?” Oh sungai...! Sungai yang berambut panjang! “Oh sungai! Engkaulah yang telah menggenggam perintah Allah sehingga taat untuk meluap maupun menyurut, taat untuk menenggelamkan maupun mengangkat sesuatu, dan taat pula untuk memilih pena para juru tulis itu?” Jika Maryam yang masih bayi diberikan kepada al-Isya, bukankah memang dirinya yang paling tepat dan paling mulia untuk mengasuhnya? Namun, mengapa mereka yang menghardik dan menyakiti kedua orangtua Maryam saat masih hidup kini berbalik merasa memiliki hak untuk mengasuhnya? Mungkinkah hal ini terjadi? Benar, semua ini sedang terjadi. Namun, Merzangus seakan masih belum mampu mencernanya. Memahami penerimaan semua orang kepada Maryam yang akan menjadi kesaksian penting dalam kehidupannya kelak di masa mendatang. Perlombaan untuk menjadi orangtua asuh menandakan bahwa “mereka menerima Maryam sebagai bayi yang baik.” 134Tibalah saatnya untuk melempar pena ke dalam sungai. Semua pena tenggelam, kecuali satu. Tiga puluh sembilan pena tenggelam ke dasar sungai, kecuali satu. Dan pena itu atas kehendak Allah adalah milik Nabi Zakaria. Merzangus langsung dapat mengenali pena itu. Pena berhias bintik- bintik pada permukaannya. Ia pun luap dalam kegembiraan, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, melantunkan doa dan puji-pujian sembari berlari-lari kegirangan. Memang, seharusnya Maryam diasuh al-Isya, bibinya. Dengan undian itu, setiap orang pun tidak akan lagi protes. Semua orang harus rela karena undian telah diadakan dengan adil di muka umum. -o0o- Setelah melewatkan hari-hari yang pedih, kehidupan baru Maryam mulai disusun. Al-Isya dan Merzangus mendidik Maryam penuh dengan kasih sayang. Demikian pula dengan Nabi Zakaria. Ia mengasuh Maryam seperti anak kandung sendiri hingga Maryam dapat berbicara, duduk, berdiri, dan dapat mengerjakan semua kebutuhan diri sendiri. Selang waktu yang terus berjalan, semua anggota keluarga menyadari bahwa waktu untuk menyerahkan Maryam ke masjid sebagai anak yang telah dikurbankan telah tiba. Mereka mengasuh Maryam sampai menginjak usia enam tahun. Maryam adalah anak yang jauh lebih cerdas, peka, dan perhatian dibanding anak-anak sebayanya. Daya hafalnya juga sangat kuat. Begitu mampu berbicara, ia langsung mengenal 135kehidupan belajar bersama dengan Nabi Zakaria. Selain Merzangus, al-Isya dan Zakaria adalah dua orang yang selalu melindungi Maryam. Karena itu, saat menyerahkan Maryam ke masjid, mereka meminta pengurus masjid membuatkan satu ruangan khusus untuk Maryam. Selesai sudah waktu belajar di tahap pertama bersama dengan sang bibi, al-Isya. Tibalah waktu bagi Maryam untuk melanjutkan pendidikan pengabdian di masjid. Bibinya tentu merasa berat melepasnya. Saat sang suami memberi tahu waktu itu sudah tiba, al-Isya tidak kuasa menahan tangis. Bagi sang bibi, Maryam adalah kenangan terindah yang telah ditinggalkan mendiang kakaknya. Ia ibarat angin yang selalu berembus membawa ingatan kepada kakaknya. Udara yang berembus memberikan kesegaran mengenai masa lalunya. Dialah lilin yang masih tetap menyala dari keluarga Fakuza, darah yang masih mengalirkan keturunannya, musim semi yang menghidupkan ruangan sepi dengan memberi keindahan dengan warna-warni bunga. Demikian pula dengan Merzangus. Ia telah berjanji mengabdi, menopang, dan melindungi Maryam sampai mati. Janjinya ini semakin lama semakin dipahami dengan begitu mendalam saat merenungi bagaimana cendekiawan Zahter membawanya ke al-Quds sebagai seorang yatim. Sebuah perjalanan yang membawa pesan bahwa Maryam adalah tanda pertama kedatangan berita gembira yang telah dijanjikan. Maryam harus dilindungi, dijaga. Jika ia bukan seorang anak yang telah dikurbankan, pasti Merzangus dan juga al-Isya akan selalu melindungi dan tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari rumahnya. -o0o- 13616. Ibi Sraj, Sng Penklk Snga Saat al-Isya dan Nabi Zakaria sedang mendiskusikan waktu yang tepat untuk menyerahkan Maryam ke Baitul Maqdis, Merzangus menuntun adik kecilnya itu jalan-jalan ke alun- alun al-Quds. Tempat itu dipenuhi penduduk yang sedang melakukan aktivitas jual-beli. Merzangus ingin membelikan Maryam pita warna-warni untuk mengikat rambutnya. Tangan Maryam pun dipegang erat-erat sambil menyusup dalam keramaian. Bising teriakan para penjual terdengar keras saat memasarkan barang dagangan, seperti cermin, sisir, dan perlengkapan kecantikan lain. Merzangus melihat gelang kaki yang terbuat dari batu berwarna biru laut yang sangat disukainya. Namun, karena harganya tidak cocok, ia pun tidak jadi untuk membelinya. Ia berpindah dari toko kain ke toko alat-alat tulis. Merzangus dan Maryam asyik melihat-lihat buku tulis, botol tinta, tempat pena, dan peralatan tulis lain. Saat itulah ada seorang pedagang dari Persia memerhatikan Merzangus ketika memilih-milih tempat pena. Pedagang itu pun berseloroh kepadanya. “Memang kamu bisa baca tulis?” 137Merzangus segera menurunkan cadarnya karena sadar dirinya sudah cukup dewasa. Merzangus bersama dengan Maryam pun segera meninggalkan toko alat tulis itu. Pada masa itu, kaum wanita masih dilarang membaca dan menulis. Tak heran jika dirinya sebisa mungkin merahasiakan kemampuannya dalam membaca dan menulis. Maryam, sebagaimana biasanya, sangat tidak suka keramaian. Keresahan menyelimuti dirinya karena berada di tengah-tengah keramaian. Keningnya dipenuhi keringat. Wajahnya memandangi Merzangus yang memengangi tangannya dengan erat seolah-olah ingin berkata, Ayo segera pergi dari sini’. Tidak lama kemudian, Merzangus pun memutuskan beranjak meninggalkan pasar. Namun, begitu keluar dari gerbang pasar, Merzangus berbelok arah untuk menghampiri kerumunan yang di dalamnya terdengar lantang ke udara auman singa. Meski ada yang berteriak ketakutan, sebagian tetap bersorak kegirangan. Sementara itu, hampir semua wanita terlihat takut. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Saat sedikit mendekati keramaian itu, Merzangus dan Maryam melihat seorang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam sedang berdiri tegak. Ia berseru kepada kerumunan orang dari tengah-tengah lapangan. Dari pakaian yang dikenakannya, tampak jelas orang itu berasal dari kalangan bangsawan. Saat memerhatikan cemeti yang dipegangnya, dengan dua singa besar berada dalam kandang serta tiga ekor ular besar melingkar di dalam tembikar, orang itu pasti berasal dari daerah Magribi. Merzangus segera menarik Maryam untuk segera beranjak dari pertunjukan sirkus yang dipenuhi orang-orang. 138Namun, Maryam justru menarik tangannya agar tetap berada di pinggir keramaian untuk menonton pertunjukan. Maryam memang dikenal sangat menyayangi hewan. Bahkan, ia sering mengajak bicara kucing-kucing dan burung piaraan saudara sepupunya. Maryam juga sering terlihat bercakap-cakap dengan keledai milik Nabi Zakaria yang bernama Kaukas. Belum lagi dengan anjing dan kucing-kucing di jalanan. Maryam begitu perhatian dengan menunjukkan kasih sayangnya kepada mereka. Saat itu, tampak pawang hewan mengenakan kerudung kepala yang terbuat dari satin berwarna biru. Terselip pula bunga mawar berwarna merah di dekat telinga sebelah kanan. Ia berjalan mondar-mandir untuk menarik perhatian pengunjung dengan melecutkan cemetinya sembari membacakan puisi dengan suara lantang. Mungkinkah orang ini keturunan pengembara nomaden yang datang dari daerah sangat jauh? Saat memerhatikan kedua singa yang berlarian karena cambukan cemeti sang pawang, tanpa sadar cadar penutup muka Merzangus sedikit terbuka. Saat itulah pawang itu berbicara kepada Merzangus dengan bahasa Arab yang begitu fasih. “Wahai wanita mulia, takutkah Anda?” tanyanya. Merzangus pun menjawabnya dengan bahasa Arab yang sama fasih. 139“Tidak. Aku tidak takut. Aku hanya kasihan kepada kedua singa itu karena perlakuan Anda ini!” Mendapati jawaban dari Merzangus, sang pawang dari Magribi itu malah tersenyum riang seraya kembali bicara dengan suara lebih lantang. “Oh, Anda bisa bahasa Arab dengan begitu fasih!” Merzangus kemudian tersadar. Ia lupa kalau dirinya sedang berada di tengah-tengah Pasar Farisi. Para penjaga pasar ternyata mendengar pembicaraan mereka. “Hai kalian berdua...!” seru seorang penjaga pasar kepada Merzangus dan pawang dari Magribi itu sambil menunjukkan tongkat kayunya. “Siapa kalian berdua ini!? Dari mana asal kalian? Bahasa apa yang baru saja kalian ucapkan?” Sang pawang Magribi itu segara mendekati petugas pasar itu. “Salam hormat saya haturkan kepada Anda. Mohon maaf sebelumnya. Saya adalah Muhsin Ibni Siraj, seorang pawang pengembara yang datang ke al-Quds dari Tarablus. Ini adalah dua singa peliharaanku bernama Layl dan Syams, sementara ketiga ular ini bernama Lam, Tam, dan Syam.” Ibni Siraj lalu mengeluarkan kipas berujung bulu burung merak dari dalam lipatan jubahnya seraya melambaikannya dengan menunduk untuk kembali memberi salam penghormatan kepadanya. Merzangus pun segera membenahi cadarnya sehingga penjaga pasar itu sama sekali tidak mengenalinya. “Engkau! Wahai wanita! Tuntunlah putrimu dan segera tinggalkan tempat ini. Dan engkau, wahai pawang! Kumpulkan kedua singa dan ular peliharaanmu. Engkau harus aku bawa 140ke kantor kependudukan di Baitul Maqdis untuk diperiksa mengenai izin tinggal di kota ini,” kata penjaga pasar itu dengan suara tegas. Dengan penuh kekhawatiran, Merzangus langsung mendekap Maryam seraya membawanya pergi. Sesampai di rumah, al-Isya tampak sedang menyiapkan pakaian dan perbekalan Maryam dengan wajah begitu sedih dan mata yang basah. Malam itu, Maryam akan diserahkan ke Baitul Maqdis. Merzangus juga terlihat terguncang. Semua orang sebenarnya tahu bahwa hal ini pasti datang. Begitu pula dengan Nabi Zakaria. Meski hatinya pedih, ia mencoba bicara untuk menguatkan perasaan semua orang bahwa tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Ia yakin Allah adalah sebaik-baik Zat yang akan melindungi Maryam, termasuk dirinya dan juga yang lain. “Engkau adalah saudara Nabi Daud wahai Zakaria! Bukankah engkau tahu bahwa orang-orang yang selama ini memusuhi kita bermukim di dalam Baitul Maqdis? Apakah al-Quds masih seperti yang dulu sehingga kita berani memercayakannya kepada para rahib di sana? Bukankah kita semua tahu bahwa mereka tidak lain tangan kanan penguasa Romawi? Mungkinkah kita akan memercayai mereka sebagai ayah dan juga ibu baginya?” tanya al-Isya dengan nada sedih. “Ah, istriku! Bersabarlah! Di sana juga banyak orang yang mencintai Maryam. Janganlah engkau khawatir!” jawab Nabi Zakaria. Di antara semua orang, hanya Maryam yang tetap tersenyum. Dirinya tampak tegar dan berserah diri kepada 141
di waktu awal akan menguatkan perjuangan mereka sehingga dapat sampai ke lembah tempat penggembalaan domba dengan lebih cepat. Saat mentari mulai menyengat, mengaburkan pandangan dalam bayangan Kampung Baharat, udara yang berembus kencang dengan membawa wewangian bau cengkih telah memberi isyarat bahwa perkampungan yang akan menjadi tempat persinggahan mereka telah dekat. Kampung Baharat atau Rempah-Rempah ini disebut juga dengan nama Tawaifi Muluk. Sebuah daerah yang diwariskan Raja Meragi dari Negeri Asykanyan. Daerah subur dengan sedikit penduduk ini kebanyakan dihuni orang-orang Persia dan Armenia. Saking kecil perkampungan ini, di peta hanya digambarkan sebagai satu titik. Bahkan, kebanyakan orang sama sekali tidak mengetahui keberadaan kampung ini. Di kampung ini hidup masyarakat yang mencintai musik, membuat alat-alat musik, dan meracik obat-obatan kimia. Pemerintahan Romawi dan para tentaranya yang bahkan telah mencapai Suriah pun belum bisa menguasai kampung ini. Ini merupakan salah satu berkah dari hamparan padang pasir panas yang mengitarinya. Jadi, sebelum menempuh perjalanan panjang mengarungi hamparan padang pasir yang memutih menyala, siapa pun tidak akan bisa mencapai tempat ini. Tak heran kampung ini hanya ditinggali beberapa keluarga. Kampung Baharat adalah tempat persinggahan pertama dalam perjalanan menuju al-Quds. Mengingat perjalanan setelah ini akan penuh dengan bahaya karena hamparan padang pasir bisa berubah-ubah akibat tiupan angin kencang sehingga sulit untuk menentukan arah jalan, kampung ini 42menjadi tempat singgah paling aman. Orang-orang menyebut jalur padang pasir paling berbahaya ini dengan sebutan “jalur kematian”. Hanya petualang berpengalaman seperti Zahter dapat menentukan arah jalan dengan melihat bintang-bintang di langit. Dan memang, orang-orang sudah melupakan jalur ini sebagai pilihan perjalanannya, meski inilah jalur paling singkat menuju kota al-Quds. Tiga kampung yang berderet di jalur ini sebenarnya berkah tersendiri dari Tuhan. Inilah benteng persinggahan. Hanya Allah yang tahu berapa jumlah orang yang selamat dari ancaman para berandal dan kejahatan para penguasa. Kampung Baharat, Haritacilar, dan Vecize berderet seperti untaian mutiara. Setelah melewati ketiga kampung ini, masih sepuluh hari lagi untuk bisa sampai Damaskus, sebelum berlanjut ke kota al-Quds. Mendekati Kampung Baharat, wangi tumbuhan rempah- rempah yang terjemur di bawah mentari menyeruak. Di kampung inilah Merzangus dan Zahter akan tinggal selama satu hari. Ketika jarak hanya tinggal beberapa meter, Merzangus mencium bau tajam rempah-rempah seperti daun mint, cabai, salam, dan bawang putih. Mereka langsung disambut arak-arakan untuk dibawa ke tempat jamuan makan sebelum diantar ke tempat penginapan. Namun, sebelum sempat beristirahat, masih ada pertunjukan tari dan musik oleh para penduduk setempat di halaman depan penginapan. Merzangus tampak sangat gembira. Pertama kali dalam hidupnya ia menyaksikan acara tersebut. Seorang wanita setengah tua bertubuh besar menari dengan kerincing di tangan dan kaki yang diikat dengan tali dari kulit. Sementara itu, beberapa orang memainkan alat musik seperti 43rebana, gendang, dan rebab. Musik kemudian didominasi suara rebab sehingga suasana berubah menjadi sedih. Saat itulah seorang laki-laki hitam dan jangkung memasuki arena pertunjukan. Ia membacakan sejenis puisi dalam bahasa yang tidak dikenal Merzangus. Meski demikian, dari raut wajah dan cara membacanya, kisah dalam puisi itu menyedihkan. Bahkan, lantunan puisi berubah menjadi tangisan. Zahter lalu mengeluarkan sekeping uang perak untuk diberikan kepada mereka. Saat itulah suasana berubah menjadi bergembira. Merzangus heran dengan pertunjukan seperti ini. Bagaimana mungkin mereka yang baru saja menangis tiba-tiba berubah menjadi riang gembira dengan wajah penuh berbinar-binar. Zahter menunduk dan berbisik ke telinga Merzangus. “Saat kau tumbuh semakin besar, kita akan mempelajari bahwa lupa adalah sebuah nikmat yang sangat besar, wahai Putriku. Ya, saat engkau sudah tumbuh besar....” Setelah pertunjukan tari dan musik, Zahter dan Merzangus menyadari bahwa yang bertamu di Kampung Baharat tidak hanya dirinya. Masih ada lagi tiga orang penyembah api yang juga sedang mengadakan perjalanan seperti mereka. Ketiga orang itu akan mengadakan perjalanan ke Damaskus untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke al-Quds. Pergerakan bintang-bintang di langit pada hari-hari terakhir telah membuat keadaan di negeri mereka gempar. Tak heran jika para ahli astronomi penyembah api itu ditugaskan 44mengamati perjalanan pergerakan sebuah bintang berekor yang dinamakan “Mirza”. Seluruh perjalanan sampai tempat bintang berekor itu berhenti harus dicatat untuk dilaporkan kepada sang raja. Pada setiap persinggahan, ketiga ahli astronomi itu harus membawa bukti dan dalil. Namun, setiba di Kampung Baharat, mereka ragu dalam memilih bukti dan dalil yang tepat untuk dibawa. Bersandarkan mimpi yang dilihat, seorang dari mereka memutuskan membawa bunga siklamen. Bahkan, ia sudah memasukkan beberapa kuntum bunga siklamen kering ke dalam tas kulitnya. Para penyembah api itu pernah mendengar sebutan lain untuk bunga siklamen, yaitu buhuru maryam. Mereka pun kebingungan mengaitkan antara bunga buhuru maryam dan perjalanan yang sedang ditempuhnya. Wajarlah jika mereka bertiga selalu bersikap hormat kepada setiap orang alim dan para tetua di tempat persinggahannya dengan harapan mendapatkan bantuan jawaban dari apa yang sedang mereka pertanyakan. Kebetulan, mereka bertemu dengan cendekiawan Zahter. Mereka menyambut kedatangannya dengan mencium tangan ahli ilmu itu. “Kami bertiga adalah para pengembara. Kami mahir menunggang kuda, menjelajahi jalanan, dan taat terhadap perintah yang dititahkan. Menghadapi terpaan angin 45kencang, kami mampu menerobos empasannya selembut sehelai rambut. Meski demikian, kami belum cukup memiliki ilmu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi kegelisahan kami. Mohon kami diperkenankan meminta bantuan Anda untuk memecahkan beberapa kebuntuan. Hanya kepada Andalah kami bisa memohon bantuan...,” kata seorang dari mereka seraya memberikan penghormatan kepada Zahter. Zahter mendengarkan penuturan mereka dengan saksama. Setelah batuk beberapa kali sembari mengusap-usap rambut janggutnya yang sudah memutih, ia mengikatkan kembali kain sorbannya seraya mulai menjelaskan dunia tumbuh- tumbuhan kepada mereka. “Tumbuh-tumbuhan adalah salah satu dari makhluk Allah yang paling sabar sekaligus berserah diri kepada-Nya,” kata Zahter memulai penjelasan. Zahter lalu mengaitkan pembicaraan tentang dunia tumbuh-tumbuhan dengan kisah Nabi Adam yang diciptakan sebagai manusia pertama. Menurut Zahter, tumbuh- tumbuhan adalah kenangan Nabi Adam sejak ia berada di dalam surga yang kemudian bersamanya pula diturunkan ke bumi. Demikianlah asal-muasal keberadaan dunia tumbuh- tumbuhan di alam ini. Setelah Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari, keduanya kemudian berpisah. Kemudian, Allah menciptakan makhluk “yang bergerak” di antara langit dan bumi. Dalam penjelasannya, Zahter menyebutkan bahwa awal kehidupan bermula dari air. Para penyembah api itu pun kaget mendengar hal itu. 46Sementara itu, makhluk yang paling awal diciptakan dalam air adalah tumbuh-tumbuhan, yaitu ganggang dan alga. Tumbuhan itulah yang pertama kali menginjakkan kaki ke bumi ini. Setelah itu, Allah menumbuhkan tanaman berbunga dan berbuah. Saat Zahter menerangkan semua ini dengan runtun, ketiga pemuda itu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Hal yang membuat ketiganya tertegun adalah keindahan dan kuasa Ilahi dalam menyusun keseimbangan di muka bumi ini. Penjelasan Zahter yang juga menarik perhatian adalah tumbuh-tumbuhan yang diciptakan sebagai dasar kehidupan semua makhluk hidup di muka bumi ini. Mereka adalah makhluk yang menduduki landasan pertama. Sampai suatu hari, saat hari kiamat tiba, mereka pula, alam tumbuh-tumbuhan, yang akan membunyikan loncengnya. Demikianlah menurut penuturan Zahter. Merekalah makhluk terakhir yang akan diangkat dari muka bumi ini. Setelah itu, dunia ini pun hancur. “Dunia ini dimulai dengan tumbuh-tumbuhan dan akan diakhiri pula dengan tumbuh-tumbuhan,” tegas Zahter. Setelah terdiam untuk beberapa lama, salah satu dari ketiga pemuda itu berkata, “Kalau begitu, bukti kedua yang akan kita bawa dari kampung ini adalah tanaman pakis. Semoga saat kita kembali sang raja dapat memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu begitu penting. Apalagi, pakis termasuk tumbuhan generasi awal. Tidak ada di antara kita yang mampu menandingi kekuatan kesabaran yang ada padanya. Jadi, sebaiknya kita simpan tanaman ini. Mungkin, jika suatu hari keberadaan tanaman ini sudah mulai langka di muka bumi, saat itulah hari kiamat sudah mulai dekat. Ah... betapa kebanyakan manusia sangat tidak tahu bersyukur atas 47limpahan nikmat dari Allah. Mereka kerap bersikap tergesa- gesa dan mudah lupa.” Setelah mendengar semua penjelasan Zahter, salah seorang yang paling muda dari mereka segera mendekati cendekiawan itu untuk mencium tangannya. Dia juga bertanya kepada Zahter bunga apa yang harus dibawanya dari kampung Baharat sehingga bisa menjadi bukti dan kenangan yang akan membekas seperti jam yang akan selalu dilihat atau kompas yang dapat selalu menunjukkan arah yang benar. “Dalil ketiga yang harus dibawa akan kalian dapati besok pagi saat memulai perjalanan. Bunga itu begitu harum dan dengan sabar akan membangunkanmu dari saat tertidur paling pulas sekali pun. Ia menjadi simbol yang keharumannya akan disenangi Nabi Akhir Zaman. Semua orang di sepanjang zaman akan berkirim pesan kepada kekasihnya dengan bunga ini. Ia adalah tingkatan cinta paling tinggi; bunga yang paling layak mendapatinya. Dia juga salam. Pembawa berita Sang Pembawa Berita.” Ketiga pemuda itu masih heran dengan apa yang telah diceritakan Zahter. Mereka pun memilih tinggal di dalam tenda serta memberikan kamar yang telah disewanya kepada Zahter. Siapakah Zahter? Mengapa mereka melakukan perjalanan sejauh ini bersama dengan anak perempuan kecil? Keesokan hari, ketiga pemuda itu terbangun oleh semerbak wangi bunga mawar yang ada di taman. Saat itulah mereka baru memahami apa yang dimaksud Zahter pada malam sebelumnya. Mereka begitu terpesona sehingga segera memetik beberapa kuntum bunga dan helai daunnya untuk dimasukkan ke dalam tas perbekalan. Para penduduk terheran-heran melihat apa yang mereka lakukan. Ada di 48antara penduduk yang memahaminya dan segera membacakan puisi-puisi bunga mawar dengan suara merdunya. Tibalah kini hari berpisah. Penduduk Kampung Baharat yang telah menemukan rumus kimia untuk melangsungkan kehidupan dalam kedamaian dan kemakmuran ini tentu tidak tahu bahwa orang-orang di luar sana saling menyerang dan menindas sesamanya. Mungkinkah mereka saat ini sedang mendapati masa-masa terakhir dari kehidupannya? Saat meninggalkan kampung itu, tiba-tiba Merzangus berteriak keras menunjuk pada sebatang tanaman pakis. “Lihat tanaman pakis itu, Kakek! Sayang, ia hanya sendirian seolah-olah hendak berpamitan dari kampung ini seperti kita. Atau mungkin kampung ini yang akan berpamitan kepadanya?” Zahter segera memberi isyarat dengan jarinya kepada Merzangus agar diam. “Segala hal akan berjalan sesuai dengan takdirnya, wahai anakku. Kita semua sementara di dunia ini. Mau tidak mau, kita akan kembali kepada Allah.” Demikianlah... Kampung Baharat pun kelak akan bertemu hari perpisahan. -o0o- Kampung kedua warisan bangsa Eskanyan yang kini berada dalam ancaman Romawi adalah Haritacilar. Ketiga pemuda penyembah api menyaksikan warganya sudah bersiap menunggu mereka saat tiba. Masyarakat di sini suka menerima tamu, sebagaimana masyarakat di kampung sebelumnya. Zahter tergolong tamu kehormatan bagi 49mereka yang telah mengunjungi kampung ini beberapa kali sebelumnya. Biasanya, Zahter berkunjung untuk membawa berita dari berbagai belahan dunia, menceritakan hal-hal baru, menyampaikan inovasi dan penemuan terbaru, serta berkisah tentang legenda-legenda lama dan tabir mimpi. Kampung Haritacilar termasuk pusat permukiman yang begitu indah. Jalanannya sangat bersih. Rumah-rumah dibangun begitu rapi. Di kampung ini seakan-akan tidak ada seorang pun yang melawan kebijakan pemimpinnya. Rumah- rumah berderet dengan rapi mulai dari alun-alun kota. Tampak rumah tempat penelitian astronomi. Ada pula menara yang begitu tinggi menjulang seperti untaian anggur. Di sepanjang pematang, pinggir sungai, halaman rumah, dan di samping sumber air umum, para penduduk setempat menggelar tikar dan dengan tekun menggambar peta dengan pena. Hampir semua orang menunjukkan peta yang sudah jadi, yang sedang ditulis, dan yang akan ditulis di tempat-tempat ini. Peta-peta itu kemudian digantung agar kering tertiup angin sehingga melambai-lambai bagaikan kibaran bendera. Ketiga pemuda penyembah api membeli tiga peta di tempat ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Satu peta yang mereka lihat dibuat seorang ahli astronomi yang usianya sudah begitu tua, diperkirakan 120 tahun. Namun, apa yang diterangkan seorang yang sudah setua itu tidaklah mudah untuk dipahami. Kata-katanya bercampur aduk antara khayalan, mimpi, kenangan, dan kenyataan. Apalagi, kedua matanya yang tampak memar bukan mencerminkan kedalaman ilmu yang telah didapatnya selama puluhan tahun, melainkan akibat kepedihan hidup yang menumpuk. 50Orang tua itu masih juga memaksa menunjukkan peta yang menggambarkan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, seraya terus menerangkan sampai ke pergerakan benda-benda di angkasa yang begitu teratur pada garis edarnya. “Sungguh, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan malam dan siang, tua dan muda, kekuatan dan kelemahan dalam keteraturan, seperti saudara satu sama lain,” kata orang tua itu. Para pemuda penyembah api itu menyimpulkan bahwa kondisi pemikiran orang tua pembuat peta itu sudah tidak normal sehingga kata-katanya tidak berguna. Namun, Zahter yang mendengarkan pembicaraan mereka tertawa. “Ketahuilah, orang tua itu sedang menerangkan kepada kalian tentang kekuasaan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keteraturan yang sedemikian luar biasa. Yang ditunjukkan kepada kalian itu sebenarnya adalah peta kehidupannya sendiri. Setelah berpuluh-puluh tahun mengadakan perjalanan panjang, menyaksikan kelahiran dan pergerakan berbagai bintang di angkasa, meneliti dan menggambarnya, kembalilah kehidupannya pada fase masa- masa kecilnya. Saat pantai kehidupan sebagai seorang tua telah bertemu dengan pantai kehidupan sebagai seorang anak- anak, peta yang ditunjukkannya tidak lain adalah tentang hari kematian yang begitu dekat. Jika dalam perjalanan yang paling singkat sekali pun kita tidak bisa menentukan arah jalan tanpa sebuah peta, mungkinkah kita tidak menggenggam peta untuk mengarungi perjalanan yang tak akan pernah berujung?” tanya Zahter dalam kedua mata yang berkaca-kaca. 51“Kami semua...,” kata para pemuda penyembah api itu, “Kami semua tidak percaya bahwa ada perjalanan setelah kematian!” Zahter tampak kaget. “Kalau kalian tidak percaya, mengapa begitu khawatir? Mengapa kalian selalu mencari berita dari bintang-bintang di angkasa demi mendapatkan informasi tentang masa depan? Lalu, apa yang telah membuat kalian rela menempuh perjalanan panjang mengarungi padang pasir yang penuh dengan bahaya? Dan apa yang membuat kalian harus pergi ke kota al-Quds? Sungguh, aku pertanyakan semua ini kepada kalian.” Ketiga pemuda itu tampak ingin mengelak atas serbuan pertanyaan Zahter. “Peta yang akan kami bawa sebagai bukti ini tidak lain hanya sebuah peta yang menggambarkan jejak kehidupan seorang ahli cinta.” Mereka tertawa sambil kembali mencermati petanya. Kalau memerhatikan apa yang diterangkan cucunya, peta ini telah dibuat kakeknya selama empat puluh hari dengan tetesan darahnya sendiri. Jadi, peta ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Namun, sang cucu telah menjual peta itu dengan harga yang hanya cukup untuk kembali ke kampung halamannya dan membeli dua lembar kertas untuk membuat peta yang baru. Jika seorang yang berbadan tinggi besar dari ketiga pemuda itu memberikan jubahnya, sangat mungkin ia bisa mendapatkan peta dari sang kakek itu. Bahkan, sangat mungkin pula ia mendapatkan potongan harga. Mendengar penuturannya, ketiga pemuda itu pun tertawa satu sama lain. “Meski tidak lagi memiliki baju, setidaknya aku sudah memiliki sebuah peta.” 52Sungguh, peta itu sangat aneh. Di situ tertulis nama- nama kekasihnya yang meninggal karena terjangkit penyakit mematikan. “Tertulis nama kampung, nama pancuran air umum, nama jalan, pekarangan, nama perpustakaan yang dikunjungi, tempat pemakaman sang nenek, dan pohon tempat kudanya ditambatkan. Tempat-tempat ini semuanya digambar secara detail dengan koordinatnya. “Demikianlah, telah ia tulis segalanya tentang sang kekasih....” “Itulah cinta...,” kata Zahter sambil tertawa. Bahkan, Merzangus ikut tertawa dengan menutupi mulutnya. “Cinta.... Ia butuh diketahui, dimengerti, dan dilihat. Namun, cinta itu hanya sesaat usianya. Ia mudah retak, mudah sakit hati, dan tidak bisa digenggam dengan tangan. Cinta ibarat sayap seekor burung yang terbang, bagaikan embus angin saat pintu rumah ditutup, seperti bulu-bulu kecil yang menyelimuti buah labu, atau laksana pancaran cahaya matahari menjelang pagi. Cinta memang begitu pemalu. Kedua mata kita jangan hanya memandangi jalan sang kekasih sehingga kelak tidak menyesal telah berkata cinta. Sebab, cinta adalah sebuah tirai. Engkau bisa saja cinta buta, namun sejatinya ia butuh penglihatan yang sehat. Kalau diperhatikan, penulis peta yang kini sudah lapuk tulang-tulang 53tubuhnya dalam tanah ini mengira sudah tidak ada siapa- siapa lagi selain orang yang dicintainya. Nafsu telah membuat penglihatan sehatnya menjadi buta. Ia mengira bahwa apa saja yang dilihatnya tak lain hanya dirinya. Setiap jalan, setiap arah tujuan, adalah dirinya, berada dalam bayangannya.” Dalam peta ketiga yang akan dijadikan bukti adalah kisah seorang raja dari masa fi. Sebuah peta yang sudah begitu lusuh saking tuanya. Tipis dan halus selembut bulu. Dipenuhi tulisan dan huruf-huruf yang sudah tidak lagi digunakan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti maknanya. Karena sedemikian banyak tanda dan isyarat rahasia dalam peta itu, sampai-sampai tidak ada bagian yang kosong. Terdapat pula informasi mengenai negara-negara di sekitarnya, gunung- gunung dan lembah tempat persembunyian pasukan musuh, tempat-tempat rahasia benda-benda berharga milik para raja di masa lalu, persembunyian rahasia saat terjadi perang, tempat beribadah rahasia, jalan pintas, gudang cadangan senjata, sumber air, benteng, jembatan, kendaraan perang, area pemeliharaan gajah, unta, serta kesatuan pasukan perang. “Betapa banyak hal yang mesti diceritakan, bukankah begitu?” tanya Zahter saat memerhatikan peta itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Seperti itulah para raja, para penguasa dunia. Sebesar apa pun yang mereka miliki, tetap saja merasa kurang. Mereka tidak puas sehingga meminta lebih. Mereka tidak akan melewatkan waktu untuk tidur sebelum menghitung- hitung segala yang telah dimiliki. Padahal, mereka bahkan tidak bisa membawa selimut tipisnya saat kembali ke alam baka. Sebaliknya, merekalah yang terkekang oleh harta benda yang dimilikinya. Menjadi budaknya. Sampai-sampai, kedua 54mata mereka selalu melihat dengan pandangan keserakahan. Menjadi budak nafsunya untuk selalu meminta lebih dan terus meminta lebih. Semoga Allah membebaskan diri kita agar tidak menjadi budak dari apa yang kita miliki.” “Wahai Kakek! Apakah sebenarnya yang menghubungkan kami dengan takdir sehingga bertemu denganmu?” tanya seorang yang paling muda. “Jika aku katakan bintang berekor Mirza, sungguh ia sangat kecil jika disandingkan dengan bulan, dan apalagi bulan purnama. Jika aku katakan mungkin yang menghubungkan takdir kita adalah bulan purnama, selang berjalannya waktu ia pun akan tampak kecil sampai cahayanya meredup dan hilang. Masih ada yang melebihi bulan purnama, yang tidak lain adalah matahari. Namun, jika aku katakan apa yang telah mempertemukan kita adalah mentari, ia juga akan tenggelam saat waktu malam datang. Jadi, harus ada hal lain yang abadi dan tidak berkesudahan. Siapakah dia? Sepanjang usiaku yang sudah hampir purna ini, aku berjuang menempuh perjalanan sejauh ini untuk dapat menyerahkan anak yatim ini, sementara kalian menempuh perjalanan sejauh ini untuk menyaksikan kelahiran anak yatim yang lain. Semoga salam dan syukur tercurah ke hadirat Allah yang telah mempertemukan kita, yang telah bertitah kepada takdir sehingga segala sebab membuat kita saat ini bertemu. Segala puji bagi Allah yang tiada sesembahan selain Diri-Nya”. Pembicaraan selesai. Semua terdiam. Para pemuda itu melipat dan kemudian memasukkan peta yang mereka beli ke dalam saku untuk digunakan sebagai dalil. Mereka kemudian melompat ke atas punggung kuda 55dan pergi melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Zahter dan Merzangus bergerak menuju unta mereka. “Mungkinkah mereka bisa menyeberangi padang pasir ini dengan menunggang kuda. Padang pasir hanya mampu dilewati kendaraan yang mampu memikul beban. Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka semua,” kata Zahter kepada dirinya sendiri. -o0o- Saat melanjutkan perjalanan ke arah Kampung Vecize, tiba-tiba jeritan ribuan burung-burung hitam yang terbang di angkasa terdengar. Wajah Zahter berubah sedih. Ia mengusap janggutnya yang memanjang hampir sampai ke perut, sementara tangan yang satunya lagi mengusap keringat yang mengalir dari dahi dengan sorbannya. “Sungguh, ini tanda yang tidak baik,” katanya kepada Merzangus dalam suara lirih... Benar saja, saat ketiga pemuda itu sampai di Kampung Vecize, keadaan tempat itu sudah luluh lantak dijarah berandal. Tak hanya itu, kampung itu juga dibakar. Asap hitam tampak masih mengepul ke angkasa. Perabotan rumah tangga berserakan di mana-mana, sementara barang-barang dagangan berceceran di jalanan. Jasad penduduk dengan tangan dan kepala terpisah tampak di mana-mana. Hati Zahter pedih menyaksikan kejadian ini. Dengan penuh khawatir, ia menutup mata Merzangus dengan sorbannya. Nampan-nampan dari tembaga, cermin, sisir, telur, sayuran, gulungan kain katun, berkarung-karung gandum, serta 56rempah-rempah tercecer di mana-mana. Napas pun seolah- olah terhenti menyaksikan kekejaman yang baru saja terjadi. Kampung kecil ini sebenarnya memiliki alun-alun pertunjukan teater, dengan menara yang yang menjulang tinggi, tempat puisi-puisi yang sudah terkenal di masa lalu dijunjung tinggi, dipajang, dan dibacakan. Namun, tempat itu kini telah hancur dibakar tanpa mewariskan kejayaannya. “Di sinilah pada suatu masa kata-kata telah membangun kerajaan kedigdayaannya. Setiap orang diukur dengan kata- katanya. Ditimbang dengan berapa jumlah bait-bait yang mampu dihafalnya. Di tempat ini pula pada suatu masa para sastrawan diagung-agungkan seperti seorang nabi. Bahkan, di tempat ini pula menggunjing dilantunkan dengan nilai sastra. Dengan kata-kata, peperangan dimulai. Dengan kata-kata pula, perdamaian dicapai. Saat inilah Kampung Vecize mendapati hari penghabisannya bersamaan dengan terhentinya kata- kata,” kata Zahter. Zahter mengajak Merzangus masuk dalam sebuah perpustakaan untuk melihat ada atau tidaknya buku-buku yang tersisa. Tampak ada beberapa kitab dan lukisan yang masih utuh. Zahter lansung mengambil dan membersihkannya dengan saksama dalam linangan air mata. Ia kemudian menaruhnya ke dalam kotak bersama dengan perbekalan yang dibawanya. “Bahkan, sang penjaga pintu perpustakaan telah menghafal tujuh belas ribu bait.” Kampung Vecize dikenal dengan sebutan kampung para penyair. Saat masih muda, para penduduk selalu menunggu kedatangan Zahter. Zahter memang telah mendapat tempat di hati mereka karena keluasan ilmunya. 57“Ahh...,” kata Zahter dalam hati yang menjerit pedih. Sebuah kampung warisan peradaban Eskanyan yang paling indah dan megah seindah kilau mutiara itu kini telah rata dengan tanah. Padahal, Vecize adalah simbol kekuatan kata-kata. Melihat Patung Caesar yang telah berdiri tegak di pintu gerbang, dapat dimengerti kalau pada akhirnya Romawi telah menghancurkan kedigdayaannya. “Ahh...,” kata Zahter. “Berarti orang-orang Romawi sudah sampai ke daerah ini. Berarti dua kampung lainnya kini juga sudah berada dalam bahaya. Berarti kita adalah orang terakhir yang akan berkunjung ke daerah ini....” Saat itu, seorang pemuda dari ketiga pemuda penyembah api mengeluarkan peta dari dalam saku dan kemudian membukanya. “Lihat...,” katanya penuh semangat. “Lihat isyarat dalam peta ini. Ternyata, sang raja sudah memberi tanda dalam peta ini. Di lereng perbukitan inilah ribuan pasukan musuh sudah berjaga-jaga.” Semua orang memerhatikan tanda yang ada pada peta dengan saksama. Ternyata benar, di perbukitan sebelah barat Vecize terlihat kilau senjata ribuan pasukan yang sudah bersiap menunggu perintah untuk melakukan pemberontakan. “Inilah...” kata Zahter, “Inilah perbedaan paling nyata antara seorang raja dan penyair. Seperti apa kita hidup, seperti itu pula kita akan mati. Dan seperti apa kita mati, seperti itu pula kita akan dibangkitkan kembali. Sekarang, tempat jasad para penduduk dan puing-puing yang kita injak ini adalah kampung yang di dalamnya kata-kata diagungkan melebihi segalanya. Mereka menghormati kekuatan kata-kata. Mengapa? Hal 58pertama yang diciptakan Allah adalah kata-kata. Jadilah’, begitu Allah beriman. Bersamanya seluruh jagat raya terjadi dengan perintah-Nya. Suatu hari, sebagaimana kampung Vecize, ajal akan menjemput kita. Sungguh sudah banyak raja telah menjadi tanah bersama dengan singgasana, istana, kuda, dan semua harta kekayaannya. Bahkan, banyak pula raja zalim yang membuat kuil menjulang tinggi sebagai surga tipuannya kini juga sudah tenggelam ditelan bumi.” Zahter melanjutkan pembicaraannya dengan mengambil sebuah ranting kering seraya mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara “Coba perhatikan! Kini di manakah raja zalim beserta tentara dan istananya yang telah melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam unggun perapian? Padahal, Nabi Ibrahim kala itu telah bertanya pada bulan, kemudian bertanya lagi pada matahari untuk mencari jawaban apakah benar yang menjadi pencipta adalah mereka. Sayang, mereka yang terbit kemudian tenggelam, yang datang kemudian pergi, yang layu, yang mati, tidak mungkin bisa menjadi pencipta. Aku tidak menyukai yang tenggelam...’ demikian Nabi Ibrahim telah berkata lantang. Semoga Allah rela kepadanya. Segalanya datang dan pergi. Hanya satu yang akan tetap abadi. Dia tidak lain adalah Allah. Dialah Yang Mahakekal.” Seteleh bicara seperti itu dengan tegas dan cepat, Zahter melompat ke punggung untanya. Sejenak ia membenahi pelananya kemudian menarik Merzangus untuk naik ke atas. “Silakan kalian mengikuti kami sampai ke Damaskus. Dengan seizin Allah, Zahter akan mengantar kalian sampai ke sana dengan selamat. Dia tahu hamparan padang pasir ini sebagaimana genggamannya. Kalian pun bisa selamat dari 59empasan pasir yang bisa membutakan mata dan juga aman dari para ruh gentayangan yang telah menjadikan banyak kesatria terkubur ke dalam tanah.” -o0o- Mereka hanya tinggal di Damaskus dua hari. Kota telah dikuasai Romawi. Setiap tempat terdapat mata-mata yang sewaktu-waktu dapat memberi informasi kepada penguasa Romawi. Seolah-olah tidak saling kenal, mereka tinggal di penginapan berbeda. Setiap warung tempat mereka membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari ramai diperbincangkan kerusuhan yang telah terjadi di kota al-Quds. Para penduduk Yahudi yang mau tidak mau harus menerima kekuasaan Romawi membuat suasana kian hari semakin memanas. Bahkan, hampir semua orang yang berkumpul di warung-warung juga sudah mengerti soal perselisihan di antara para rahib di Baitul Maqdis yang saling berebut kekuasaan. Menurut apa yang telah ramai dibicarakan, al- Quds kini telah tenggelam dalam kerusuhan. -o0o- 606. Para Pejaln Tiba di al-Quds Al-Quds, Masjidil Aqsa Dari Ibnu Khaldun “Ketahuilah bahwa, Zat Yang Maha Mencipta telah menjadikan beberapa tempat di muka bumi ini menjadi sesuatu paling mulia yang penuh dengan berkah dan pahala; tempat ibadah, tempat mulia yang telah dikisahkan melalui bahasa para nabi dan rasul. Tempat yang menjadi inayah dan kebaikan bagi umat manusia, yang menjadi perantara paling mudah untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim telah diriwayatkan bahwa utusan Allah telah menerangkan bahwa di dunia ini ada tiga masjid. Ketiganya lebih mulia daripada semua masjid yang ada. Yang pertama di Mekah, kedua di Madinah, dan yang ketiga adalah Baitul Maqdis di al-Quds. Masjidil Aqsa atau “Masjid yang Jauh”. Pada masa Sabii, di daerah ini berdiri patung di bawah bintang Venus. Tempat orang-orang Sabii memberikan kurban dan minyak zaitun untuk Venus. Mereka menebarkan minyak zaitun itu 61ke hamparan padang pasir, sampai kemudian patung yang terletak di padang pasir ini menjadi tua. Setelah bangsa Israil menguasai Baitul Maqdis, tempat ini dijadikan arah kiblat untuk beribadah. Asal mula kejadian itu seperti demikian. Nabi Musa bersama dengan kaumnya telah meninggalkan Mesir demi mendapatkan tanah yang telah dijanjikan Allah , baik kepada Nabi Yakub maupun Nabi Ishak . Sesampainya di padang pasir Tih, Allah memerintahkan mereka mendirikan kubah dari pohon sent. Ukuran luas, panjang, bentuk, hiasan, dan kriteria lainnya telah disampaikan pula oleh Allah melalui wahyu. Diperintahkan pula kepada mereka melengkapi bangunan masjid tersebut dengan menara, tembikar, piring, hidangan, lilin, dan juga mazbah sebagai tempat pemotongan hewan kurban. Semua itu telah diterangkan dengan jelas di dalam Taurat. Kubah pun telah dibangun. Kotak perjanjian tabut diletakkan di dalam kubah. Sebagai ganti dari papan yang diturunkan dari langit yang pecah, dibuatlah perjanjian di antara mereka yang berisi sepuluh kalimat. Papan perjanjian itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak perjanjian. Dengan perantara Nabi Musa, Allah telah memerintahkan Harun mengatur pemotongan hewan kurban. Saat Bani Israil mengadakan perjalanan melewati padang pasir Tih, mereka mendirikan kubah tersebut di antara tenda- tenda mereka. Ke arah itulah mereka mendirikan salat. Mereka pun kemudian memotong hewan kurban di mazbah yang terletak di depannya. Setelah itu, mereka menantikan wahyu dari Allah turun. Sesampai di Damaskus, kubah itu masih dijadikan sebagai arah kiblat. Akhirnya, kubah 62tersebut diletakkan di Sahra yang terletak di dalam Baitul Maqdis. Meski Nabi Daud telah berupaya membangun sebuah masjid di Sahra, usia beliau tidak sampai. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Daud pun berwasiat kepada putranya, Nabi Sulaiman . Akhirnya, pada tahun keempat kepemimpinannya, bertepatan dengan 500 tahun Nabi Musa wafat, masjid pun selesai didirikan oleh Nabi Sulaiman . Nabi Sulaiman telah membangun tiang-tiang masjid dengan menggunakan tanah liat dihias zamrud. Pintunya berlapis emas, termasuk relief, kubah, dan menara. Kuncinya juga dari emas. Untuk menempatkan tabut, ia membuat kuburan di belakang masjid. Kotak yang menjadi tempat menyimpan papan perjanjian itu didatangkan dari kota Nabi Daud yang bernama Sihyun dengan dibawa para dukun Bani Israil. Nabi Sulaiman telah menempatkan kotak itu di pekuburan. Kubah, piring, tembikar, dan lampu diletakkan di tempat yang semestinya. Semua barang tersebut telah berada di tempat yang semestinya sampai waktu yang telah diizinkan Tuhan. Setelah usia bangunan mencapai 800 tahun, Buhtunnasir merobohkan gedung itu. Ia membakar Taurat dan Tongkatnya. Ia juga melelehkan reliefnya dan membuang batu-batuannya. Sampai kemudian, Uzair yang menjadi nabi Bani Israil pada waktu itu membangun kembali Baitul Maqdis atas bantuan seorang putra dari salah seorang putri Bani Israil yang telah diusir pemimpin bangsa Persia, dan kemudian ditawan Buhtunnasir saat kembali ke Baitul Maqdis, yang bernama Behmen. Namun, penguasa pada masa itu telah menentukan sendiri bentuk, luas, dan panjangnya sehingga dirinya tidak dapat membangun kembali masjid dalam 63ukuran sebagaimana yang telah dibangun Nabi Sulaiman . Setelah masa itu, Bani Israil hidup dalam masa kekuasaan Yunani, Persia, dan Romawi.” Demikianlah sejarah singkat Masjidil Aqsa sebagaimana tertuang di dalam “sejarah” Ibnu Khaldun. Saat kami coba mengupasnya kembali dengan kesaksian Merzangus, al-Quds berada dalam kekuasaan Romawi. Kerusuhan, pertikaian, pertempuran, dan ketidakadilan selalu terjadi di setiap masa di sepanjang sejarah manusia. Namun, sepanjang sejarah manusia pula harapan dan doa akan perdamaian, kemakmuran, dan limpahan hidayah tiada pernah berhenti dimohonkan. Demikian pula apa yang diharapkan oleh Zahter dan Merzangus. Harapan akan kebaikan yang telah mendorong keduanya untuk melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, tiga pemuda yang menyertai keduanya adalah para pejuang di dalam pencarian kebenaran. Takdirlah yang telah membawa mereka bersama sampai ke al-Quds. -o0o- 647. Hnna, Istri Imrn Hanna adalah salah seorang wanita al-Quds keturunan Bani Fakuz yang paling baik akhlak, pendidikan, dan rupanya. Ia tinggal dalam sebuah rumah yang berdekatan dengan saudara perempuannya, al-Isya. Takdir juga telah menggariskannya sangat mirip dengan saudara perempuannya itu, baik dalam kecantikan maupun kebaikan. Keduanya juga sesama keturunan keluarga besar Lawi. Mereka menikah dengan orang-orang alim terhormat keturunan Nabi Harun yang diberi kehormatan sebagai pengasuh Baitul Maqdis. Hanna menikah dengan seorang alim agung bernama Imran dari Bani Masan, sementara al-Isya menikah dengan Nabi Zakaria yang keturunannya segaris dengan Nabi Daud . Secara umum, kehidupan kedua wanita bersaudara ini sangat baik. Namun, lama sudah keduanya menahan kerinduan atas seorang anak yang tidak juga kunjung dikabulkan. Meski keduanya adalah kekasih dan pelindung bagi para yatim, fakir- miskin, dan musair, tetap juga tidak ada seorang buah hati yang memanggilnya “ibu”. Tidak ada pula seorang anak yang lelap dalam dekapannya. Meski demikian, sebagai keturunan para nabi yang dikaruniai ketaatan dan akhlak mulia, mereka 65tidak mengeluhkan keadaan itu. Mereka adalah hamba yang memahami bahwa takdir Ilahi telah digariskan sehingga keduanya pun selalu menunjukan rasa rela dan bersyukur terhadap apa yang telah dilimpahkan. Akan tetapi, inilah kehidupan. Sebagai seorang wanita, tentu saja jiwa Hanna secara naluri mudah luluh seperti daun yang dihempas angin kencang. Menguning dan gugur adalah tinggal menunggu masa. Sehari-hari, Hanna suka memintal benang dari bulu domba di bawah rerimbunan pohon zaitun di belakang rumahnya. Keahlian memintal telah menjadi budaya kaum wanita di Palestina. Hal ini juga telah menunjukkan seni mereka dalam bersabar selama berabad-abad. Setiap hari, mereka sibuk mengolah bulu-bulu domba. Setelah direbus, bulu-bulu itu kemudian dijemur. Tak lupa puji-pujian dilantunkan dan lagu didendangkan secara bergantian satu sama lain. Setelah itu, bulu-bulu diteliti, disisir, dan dipilah mana yang sudah bersih dan kering. Tidak salah kata pepatah di Palestina yang mengatakan bahwa “setiap wanita akan terlihat kemahirannya dari bagaimana caranya memegang jarum pintal”. Sampai saat ini pun pintalan benang kesabaran masih terus dirajut di tanah Palestina. Sesaat Hanna termenung. Pandangannya sesekali menyapu ke arah hamparan perkebunan zaitun yang berbisik dalam embusan angin semilir. Setiap kali memandang ke arah itu, seolah-olah daun-daun pohon zaitun menyapanya bagaikan seorang gadis Palestina yang bermata hitam, sehitam buah zaitun. Pada saat itu pula berembus angin semilir yang menebar kesejukan dari sungai Ariha di dataran Yordania. Bagi Hanna, embusan angin itu seolah-olah sedang berbicara kepadanya. 66“Ah, seandainya saat ini ada seorang tamu yang mengetuk pintu menginginkan air atau sesuatu yang lain,” katanya dalam hati. Sesaat setelah berkata seperti itu, hati Hanna menjadi merinding. Terlintas dalam pikirannya kata “ingin” yang baru saja diucapkannya. Ia pun segera membenahi isi hatinya dan ingin sekali menarik kembali kata yang telah terlepas dari mulutnya itu. “Mengapa keadaan seseorang yang menginginkan sesuatu dariku telah membuatku bahagia? “Bukankah manusia tidak butuh selain kepada Allah Yang Maha Mencukupi segala kebutuhannya?” renung Hanna. Sesaat kemudian, angin kembali bertiup semilir seolah- olah memanggilnya menuju hamparan perkebunan zaitun. Hanna pun kembali memandangi daun-daun pohon zaitun yang lembut bergoyang-goyang seolah bersuara dan memanggilnya “ibu!” Ah, seandainya sekarang ada seorang anak yang memanggilnya “ibu”, yang merengek-rengek kepadanya meminta digendong. Ia pun akan membawanya membelai daun-daun pohon zaitun itu. “Ah,” kata Hanna sembari mengembuskan napas panjang. “Mengapa setiap kata hanya berkutat untuk ingin’ dan meminta’?” Ingin sekali Hanna memberikan diri seutuhnya kepada seseorang. Ingin sekali ia mendengar seseorang memanggil namanya dan akan menjawab panggilan itu dengan kata “Ya, ibu di sini...!” Ingin sekali dirinya mendapati seseorang yang terikat kepadanya, yang selalu membutuhkan keberadaannya, yang akan selalu memanggilnya dengan kata “ibu”. Ingin... ingin... dan ingin. 67Kemudian, Hanna merasakan dirinya seperti gelombang lautan yang kadang-kadang meluap. Mengapa dirinya menginginkan keterikatan? Ia pun tidak bisa menguak rahasia itu. Keinginan untuk memiliki yang datang dari lubuk hatinya telah memuat dirinya merasa malu. Ia pun meletakkan jarum pintalnya sambil berjalan ke arah rerimbunan pohon zaitun untuk mengeyahkan lintasan- lintasan yang ada dalam pikirannya. Genap tiga puluh tiga jumlah pohon zaitun yang ada di dalam kebunnya. Ini adalah kebun zaitun yang diwariskan paman suaminya, Imran. Di kebunnya ini setiap pohon memiliki nama sendiri-sendiri. Hanna pun selalu memanggil masing-masing pohon sesuai dengan namanya. Hanna melangkahkan kakinya untuk mendekati satu pohon zaitun yang bernama “Balkis”. Ia perhatikan akarnya yang kokoh menancap ke dalam tanah. Batangnya tinggi menjulang dengan dedaunan yang hijau merindang. Pohon itu seakan-akan menirukan keadaan seorang ratu dari Saba yang bernama Balkis, megah dan agung duduk di atas takhta. Pohon zaitun yang bernama Balkis seperti ratu di antara pohon-pohon lainnya. Hanna kagum saat memerhatikan ketinggiannya. Sampai-sampai, ia pun terkejut saat mendapati sangkar burung di antara ranting-rantingnya. Ia perhatikan induk burung berwarna abu-abu yang hinggap di sarang itu. Sang induk ternyata sedang membawa makanan untuk anak- anaknya yang baru saja menetas. Anak-anak burung yang sedang lapar itu seakan-akan serempak dengan seisi tenaganya berteriak memanggil “ibu” kepada induknya. Ah, betapa hati induk burung itu menderap karena memberi makan semua anaknya satu per satu dari mulutnya? 68Luluh hati Hanna mendapati pemandangan seperti itu. Lebur seisi jiwanya di bawah pohon itu dalam perasaan pedih karena tidak juga kunjung mendapat karunia seorang anak. Ia pun bersimpuh, membuka isi jiwanya, menuangkan ke dalam panjatan doa. “Wahai Zat yang menjadi pencipta langit dan bumi! Yang menjadi Tuhan seluruh makhluk. Ke mana pun diriku mengarahkan pandang, selalu hamba dapati semua ciptaanmu berpasang-pasangan. Engkau yang telah menciptakan buah- buahan zaitun dan tin berpasangan dengan ranting-ranting keringnya. Engkau ciptakan pula lautan berpasangan dengan mutiara, lebah dengan madu. Engkau telah memberikan kapal kepada Nuh untuk menyelamatkan umatnya, mengamanahkan Ismail dan Ishak kepada Ibrahim . Duhai Allah, Engkau adalah Tuhanku Yang Mahakuasa, Mahaagung, yang tidak mungkin merasa susah untuk menciptakan sesuatu. Engkau juga tidak mungkin berat mengeluarkan dari perbendaharaan- Mu jika menganugerahkan sesuatu. Duhai Allah yang kekuasaan-Mu adalah mutlak adanya, sungguh berkenanlah menganugerahkan seorang anak yang saleh bagi keluarga Imran! Mohon berkenan Engkau mengabulkan doaku ini.” Kadang, sepeti inilah keadaan manusia. Setelah kedua tangannya ditengadahkan ke angkasa, hilang sudah beban yang menindihnya. Lepas sudah tali-tali yang menjerat jiwa. 69Lega serasa bagaikan kesegaran gelombang air yang berlarian ditiup angin di permukannya. Hilanglah sudah sesak yang dirasa Hanna. Hatinya seperti terbang begitu selesai memanjatkan doa. Bagai pepohonan yang kembali terbangun dari tidur panjang di musim salju; bermekaran kuncup daun dan bunga-bunganya. Hanna seakan-aka kembali pada usia dua puluhan tahun. Memerah terasa pipinya, kemilau lembut rambutnya. Saat kembali ke rumah, Imran pun terheran-heran dibuatnya karena mendapati sang istri yang begitu penuh dengan luapan cinta kepadanya. Apa yang terjadi dengannya? -o0o- Imran adalah salah satu pemuka agama yang bertugas di Baitul Maqdis. Alim mulia keturunan Nabi Harun yang kini mengajari Taurat kepada empat ribu ahli tulis dan empat belas ribu penghafal. Zahter, teman dekatnya, sesekali berkunjung ke al-Quds untuk bertemu dengannya. Setelah selesai mengunjungi kota itu, Zahter akan melewatkan waktunya bersama para santri ahli tulis dan penghafal untuk beribadah. Selanjutnya, ia akan memotong kambing kurbannya di halaman depan masjid untuk kemudian dimasak dan dihidangkan kepada para anak yatim dan janda. Zahter juga selalu mengunjungi Nabi Zakaria, seorang yang sangat disegani olehnya dan diberi kepercayaan untuk mengurus tempat kurban yang diberi nama Betlehem. 70Demikianlah, kunci-kunci Baitul Maqdis pun selalu tergantung di pinggang Nabi Zakaria. Zahter juga selalu membawakan hadiah, baik untuk Hanna maupun untuk al-Isa, berupa bumbu-bumbu yang ia bawa dari tempat yang sangat jauh. Imran telah mengingatkan istrinya saat bersama-sama makan di meja makan. Sepuluh hari lagi, Zahter akan datang berkunjung. Hanna pun gembira dengan berita ini. “Seolah baru kemarin dia datang,” katanya saat menyuguhkan makanan di depan suaminya. Empat tahun lalu, dalam waktu yang sama, Zahter telah datang mengunjungi rumahnya. Saat itu Hanna merasa bahagia mendapat penjelasan akan tabir mimpi yang dialaminya. Hanna bermimpi mendapati mentari terbit dari dalam rumahnya. Zahter pun menafsirkan mimpi itu dengan berkata, “Dengan seizin Allah, mahkota raja bangsa Yahudi akan muncul dari dalam rumah ini.” Mimpi dan tabir itulah yang semakin memberi harapan kepada Hanna sejak saat itu. Sementara itu, Imran tidak lantas bahagia setiap kali membicarakan anak. Demikian pula saat itu. Apalagi, penuturan Zahter semakin memberi harapan kepada Hanna untuk menjadi seorang ibu. Imran rupanya khawatir kalau kerinduan untuk menjadi seorang ibu akan kembali membuat jiwa sang istrinya guncang. Jika saja percakapan tentang anak ini tidak pernah terjadi, mungkin saja keduanya tidak akan menjadi sedemikian merasa pedih. Demikianlah apa yang dipikirkan Imran. Acara makan pun berlangsung hening. Kepedihan Hanna yang memang selama berpuluh- puluh tahun telah dirasakan karena merindukan seorang anak akan semakin terasa pada saat-saat seperti ini. Air mata 71pun berlinang di kedua pipinya. Suasana di rumah menjadi sedemikian hening. Jika saja ada seorang anak, suasana akan menjadi ramai. Ia akan berlarian di dalam rumah, kamar, dan halaman. Kehidupan terasa semakin membesar, sementara Hanna sendiri merasa kerdil dalam pandangannya. Setiap kali masalah anak muncul ke permukaan, setiap itu pula tubuhnya terasa mengerdil, luluh, mencair hingga seolah-olah akan mengalir. Tidakkah suaminya ikut bersedih dengan keadaan ini? Tentu saja ia juga sangat menginginkan kelahiran seorang anak. Namun, hal itu adalah urusan Allah. Apa pun yang telah digariskan Allah, itulah yang akan terjadi. Terhadap pemahaman seperti ini, Imran selalu lebih teguh daripada Hanna. “Bukankah semua ini adalah ujian dari Allah, takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya atas kita? Karena itu, janganlah bersedih wahai Istriku,” katanya selalu. Bahkan, kadang Imran bicara lebih keras untuk mengeluarkan kepedihan dan kesedihan yang terpendam di dalam hati Hanna. “Wahai Istriku! Engkau adalah wanita mulia dari keturunan Harun . Seorang wanita yang beriman. Pantaskah engkau berpedih hati seperti ini? Jangan lupa kalau bersedih hati merupakan bentuk penentangan. Allah sangat berkuasa untuk menguji kita dengan segala hal. Tentu saja ini adalah bagian dari ujian kita di dunia. Tidakkah kamu mengerti hakikat ini?” Tentu saja ia tahu karena ia adalah seorang Hanna. Menjadi seorang ibu adalah hal yang lebih diidam- idamkannya melebihi apa saja di dunia, meski semua anak 72yatim, anak terlantar, dan para tamu Allah yang datang ke kota al-Quds telah menganggap Hanna sebagai ibundanya. Demikianlah Hanna. Hatinya kembali meluap-luap saat sang suami menyinggung kedatangan Zahter. “Maksudku...,” katanya kepada Imran dengan nada penuh gugup. “Engkau adalah hamba Allah yang senantiasa mengerjakan apa yang disenangi oleh-Nya. Seorang hamba beriman yang mulia, rendah hati, suka membantu, dan tidak tega menelantarkan seekor semut sekali pun. Jika saja kita memohon kepada Allah untuk dikarunia seorang anak yang bersinar bagaikan terang cahaya…!” Mendapati kata-kata istrinya ini, Imran hanya memandangi wajahnya penuh belas kasih. Wajahnya yang begitu maksum seperti seorang anak yang sedang merajuk serta teguh meminta tanpa kenal putus asa telah begitu menyentuh hati sang Imran. Namun, ia adalah seorang yang tetap menunjukkan ketegaran. Ia pun kembali menata diri untuk memberikan pemahaman kepada sang istri. “Segala puji kita haturkan ke hadirat Allah. Ribuan kali syukur kita haturkan atas limpahan nikmatnya yang tiada terhingga. Namun, sebagaimana yang telah kita dengar dari apa yang telah disampaikan para pendahulu kita, seyogianya kita selalu mencegah diri dari memohon sesuatu kepada Allah untuk nafsu kita sendiri. Engkau adalah seorang yang beriman, setia, mulia, dan suka membantu sesama. Namun, entah mengapa kadang engkau terhasut oleh apa yang digunjingkan orang-orang sehingga tidak jemu untuk memiliki anak demi nafsumu. Engkau adalah seorang wanita, seorang istri, seorang teman hidup. Tentu saja keinginan untuk memiliki anak adalah hakmu. Hanya saja, engkau tidak bisa tahu mana yang 73lebih baik dan mana yang lebih jelek bagi kita. Semoga engkau tidak akan pernah lupa akan hal ini. Maksudku, apa yang sekarang ada adalah lebih baik bagi kita, meskipun teramat berat. Ketahuilah, pada hal itu ada kebaikan bagi kita. Jadi, janganlah kita masuk ke dalam ujian karena terlalu meminta. Semoga Allah melindungi diri kita dari meminta untuk nafsu kita sendiri. Semoga Allah menjaga kita menjadi budak dari meminta.” Hanna tertegun mendengarkan dan mencoba menyirami kobaran api di dalam hati dengan apa yang dinasihatkan suaminya. Ia pun hanya terdiam. Terdiam dalam berbicara. Meski hatinya terus berkata-kata. Meski jiwanya terus membara. Pada malam itu, Hanna bangun untuk berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan hati. Ia utarakan kepada Allah rahasia dan segala apa yang ada di dalam hatinya. Ia angkat kedua tangannya untuk berdoa sebagaimana yang dipanjatkan Nabi Daud . “Duhai Allah! Hamba memohon kepada-Mu untuk dilimpahkan cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan untuk mencintai segala amal yang akan mendekatkan diriku kepada-Mu. Duhai Allah! Jadikanlah hamba wasilah bagi limpahan nikmat-Mu yang aku cintai dan wasilah bagi cinta dari apa yang Engkau cintai. Jauhkanlah diriku dari permintaanku yang tidak Engkau kabulkan, dari permintaan yang menghindarkan diriku dari apa yang Engkau cintai. Duhai Allah! Jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada cintaku kepada keluarga, harta, dan air dingin yang aku butuhkan di saat sangat kehausan. Duhai Rabbi! Jadikanlah diriku pengabdi 74kepada-Mu, kepada nabi-Mu, malaikat, rasul, dan hamba- hamba-Mu yang saleh. Jadikanlah diriku orang yang mencintai apa yang Engkau cintai dan jadikanlah diriku orang yang mencintai apa yang rasul, nabi, malaikat, dan hamba-hamba saleh-Mu cintai. Duhai Rabbi! Bangkitkanlah hatiku dengan cinta-Mu! Jadikanlah diriku hamba yang baik, sebagaimana yang Engkau kehendaki. Duhai Rabbi! Bimbinglah cinta dan perjuanganku kepada Zat-Mu! Jadikanlah semua usahaku hanyalah untuk meniti jalan yang Engkau ridai!” Sampai pagi hari Hanna bermunajat. Hanna adalah wanita Palestina. Demi Allah yang telah bersumpah demi zaitun dan Gunung Tur, dialah wanita Palestina yang paling pantas menyandang busana “seorang ibu”. Kesabarannya mirip pohon zaitun. Kesuburannya selebat buahnya. Pada esok hari, kembali Hanna mencurahkan isi hatinya kepada pepohonan zaitun di halaman belakang rumahnya. Kembali ia akan berbagi isi hati dengan pohon-pohon zaitunnya. Ia rawat pohon zaitun itu satu per satu. Ia berbicara dengannya, menyiraminya, membelai daunnya, dan menggemburkan tanahnya. Pohon-pohon zaitunnya seolah mengerti bahasa hatinya. Saat Hanna mendekatinya, masing- masing pohon itu seolah-olah tersenyum dalam keabu- abuan daunnya seraya berucap salam dengan suara gemersik dedaunannya. 75“Wahai para wanita cantik Palestina, bagaimana kabarmu pagi ini?” sapa Hanna kepada mereka. Hanna pun memerhatikan ranting-ranting zaitun yang tampak lelah menyangga buahnya. “Lelahkah dirimu karena begitu berat menyangga buahmu? Pegal sekali pasti pinggangmu menggendongnya. Namun ketahuilah, beban yang engkau tanggung itu adalah hal terbaik yang ada di dunia! Sungguh, betapa bahagia kalian dapatkan anugerah dari Allah untuk menjadi seorang ibu!” ujar Hanna yang akhirnya bersimpuh tak kuasa menahan tangis. Tidak lama setelah itu, Hanna terperanjat dengan burung- burung elang yang terbang dari rerimbunan pohon. Hanna pun mencari arah terbang burung berwarna abu-abu itu. Untuk kali ini, ia mendapati seekor burung yang hinggap di sangkarnya. Terdengar serempak anak-anak burung yang ada di dalam sangkar itu menyambut kedatangan sang induk membawa makanan. Hanna pun menyelinap di balik rimbun bayangan dedaunan agar tidak mengganggu induk burung. Sang induk tampak begitu gusar membagi rata makanannya kepada anak-anaknya yang sudah serempak membuka lebar- lebar mulutnya. Kedua cakar sang induk mencengkeram kencang salah satu cabang di depan sangkarnya. Kedua sayap mengepak untuk menjaga keseimbangan dan juga untuk melindungi anak-anaknya dari terjatuh maupun serangan musuh. Dengan saksama, Hanna memerhatikan induk burung sampai seolah-olah detak jantungnya pun terdengar oleh dirinya. Setelah selesai menyuapi satu per satu anak-anaknya, sang induk melompat-lompat di sekeliling sangkar untuk beberapa lama sampai kemudian terbang. Namun, beberapa 76lama kemudian sang induk kembali lagi. Kali ini ia membawa ranting kering dengan paruhnya. Ia pun mulai memperbaiki sangkarnya. Kemudian, ia pun kembali terbang dan kembali membawa ranting sampai beberapa kali untuk memperbaiki sangkarnya. Hanna lama berdiam diri di balik rerimbunan untuk memerhatikan apa yang sedang dilakukan induk burung. Dirinya pun seakan-akan telah menyatu dengan pohon zaitun yang ada di dekatnya. Kejadian yang ia perhatikan merupakan pemandangan terindah baginya di dunia, yang menerangkan indahnya menjadi seorang ibu. “Duhai Rabbi!” sebutnya. “Duhai Rabbi yang telah melimpahkan kepada pepohonan dan burung-burung untuk menjadi ibu! Perkenankanlah hamba merasakan menjadi seorang ibu!” -o0o- 778. Pereun di al-Quds Zahter mengenang hari-harinya di kota al-Quds dengan penuh kerinduan. Setelah hampir empat tahun tidak berkunjung, ia memutuskan melakukan perjalanan jauh guna mengobati rasa rindunya itu. Seperti biasa, setiap kali akan mengadakan perjalanan, Zahter memberitahukan para petinggi kota al-Quds. Mereka rupanya juga telah menantikan kedatangannya. Apalagi, Zahter sudah begitu lama tidak berkunjung ke Palestina. Kedatangannya kali ini tentu saja sangat berarti bagi mereka. Sesampai di sana, Zahter akan tinggal di rumah İmran. Zahter kerap bercerita tentang Nabi Adam dan Nuh . Setelah itu, ia akan melanjutkan ceritanya tentang Nabi Ibrahim dan juga keluarga Imran. Mereka adalah para hamba pilihan yang telah menjadi pelita bagi semua penduduk di dunia. Karena begitu sering bercerita tentang kedua nabi agung dan keluarga mulia itu, hal tersebut seolah-olah menjadi wasiatnya. Ia akan bercerita dan selalu bercerita dengan mengagungkan nama dan keturunannya yang telah membuat dunia mengenalnya dengan dakwah pada jalan kebenaran. Ya, 78keluarga Ibrahim dan Imran adalah penunjuk jalan kehidupan dan para pelindung sesama. Zahter juga berkali-kali mengisahkannya kepada Merzangus. Sudah disebutkan di dalam suhuf Nabi Idris tentang ciri-ciri manusia terpilih, yaitu cerdas, rendah hati, dan ahli hikmah. “Syarat menjadi orang pilihan adalah harus berpisah diri,” kata Zahter. “Berpisah dari kefanaan dunia, berpisah dari segala hal yang jelek dan kotor untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, kedudukan sebagai orang terpilih akan tercapai.” Menjadi manusia pilihan tidak bisa diraih dari sekadar garis keturunan yang diberkahi. Harus ada perjuangan, ketaatan, upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan berlepas diri dari jeratan dunia, dan teguh menjadi seorang hamba. Sebagaimana ia tidak bisa didapat dengan berupaya, ia juga tidak bisa didapat dengan tidak berupaya. Demikianlah untuk menjadi hamba terpilih dari sisi Allah. “Wahai anakku! Aku tidak menceritakan semua ini kepadamu sebagai hal yang percuma. Nanti, setelah aku mengamanahkanmu kepada keluarga Imran, engkau akan memahami semua ini dengan lebih jelas,” kata Zahter. “Allah telah memilih dan menjadikan Adam, Nuh, serta keluarga Ibrahim dan Imran lebih tinggi daripada seluruh 79alam. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahatahu,” tambah Zahter. Zahter kemudian bercerita kepada Merzangus tentang sosok Nabi Adam sebagai manusia terpilih di antara semua manusia. Bahkan, karena Adam adalah manusia pertama, Allah telah memilihnya memikul amanah dari semua makhluk di jagat raya. Dengan amanah itu pula ia dimuliakan, diberikan kemampuan. Penunjukan Nabi Adam tersebut berarti pula sebagai momen manusia telah dipilih Allah sebagai khalifah di muka bumi. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat berat, di samping sebagai sebuah kebanggaan dan kehormatan. Begitulah menurut penuturan Zahter. Manusia kedua yang sering Zahter sebut adalah Nabi Nuh. Allah telah mengutus Nuh untuk membimbing kembali umat manusia sepeninggal Nabi Adam. Saat itu, umat telah rusak dan kehilangan arah sehingga menjadi manusia yang kerap menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi. Dengan badai dan topan, semua daratan disapu rata oleh banjir besar. Semua peradaban diluluhlantakkan di dasar lautan. Tumbuhlah generasi manusia kedua yang dibangun kembali bersama Nabi Nuh. Dengan demikian, Nabi Nuh adalah generasi kedua bagi umat manusia. Mungkin kisah ini telah ratusan kali Zahter ceritakan kepada Merzangus. Namun, kali ini ia mengulanginya kembali seolah sedang berwasiat kepadanya. Zahter bercerita dengan serius, menatap ke dalam mata Merzangus. Wanita kecil itu seolah-olah almari buku sehingga Zahter ingin menyimpan catatan kehidupannya di dalamnya. Setiap kali Zahter bercerita tentang Nabi Nuh, wajahnya berubah penuh rasa takut. Punggungnya langsung membungkuk, tubuhnya merinding dan menggigil seolah 80sedang sakit malaria karena kemuliaan Nabi Nuh. Bahkan, Zahter tampak lemas tak sadarkan diri. “Satu tangan Nabi Nuh menggenggam kiamat, sementara tangan yang lain memegang erat kebangkitan dunia baru,” kata Zahter. “Nabi Nuh telah menjadi yang terpilih!” Orang ketiga yang selalu Zahter tekankan sebagi manusia “terpilih” adalah Nabi Ibrahim dan keluarganya yang mulia. Allah sendiri yang telah mengagungkan Nabi Ibrahim dan ahli baitnya. Nabi Ibrahim juga ayah para nabi. Sebuah keluarga yang menyusun garis keturunan mulia, mulai dari Nabi Yakub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun.... Ditambah dua nabi agung yang tak lain adalah kedua putranya, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishak. Setiap kali Zahter bercerita tentang kedua nabi ini, wajahnya berbinar-binar penuh luapan kegembiraan. Dengan penuh semangat, ia bangkit dari duduknya dan bersiap tegak seolah-olah hendak menyambut kedatangan seseorang. Ia juga membenahi baju dan menata sorban di kepalanya. “Insyaallah, berita gembira mengenai kedamaian dan keselamatan akan datang dari kedua nabi putra Nabi Ibrahim, yaitu dari keturunan Nabi Ismail dan Ishak. Allah akan menyempurnakan agamanya dengan mengutus khatimul anbiya yang merupakan keturunan dari salah satu nabi, Ismail atau Ishak,” kata Zahter selalu. “Setiap kali mengingat kedua nama itu, tercium semerbak wangi surga olehku.” Memang demikian. Ibrahim adalah nabi pemecah berhala yang telah menjadi contoh akhlak mulia sepanjang masa. 81Sebagai orang terpilih keempat, Zahter sering mengisahkan kemuliaan keluarga Imran. Ia juga bercerita bahwa keputusan Allah menunjuk hamba-Nya menjadi manusia terpilih tidak hanya berdasarkan garis keturunan, keluarga, atau genetik. “Allah telah menjadikan para hamba-Nya menjadi manusia terpilih dengan ketakwaan, ketaatan menghamba, dan perjuangan dalam keteguhan tauhid.” Menurut Zahter, “manusia terpilih” itu berkait erat dengan perjuangan seorang hamba dalam memikul ujian. “Allah tiada akan memilih hamba-Nya tanpa melalui ujian,” katanya dalam senyum yang pedih. Bukankah Adam telah diuji dengan kedua putranya, Qabil dan Habil? Nabi Nuh diuji dengan istri dan putranya yang tidak mematuhi ajarannya? Nabi Ibrahim diuji dengan ayahandanya sendiri yang mengusirnya dengan melempari batu? Setelah putra Adam , Qabil, membunuh saudara kandungnya sendiri yang bernama Habil hingga terjadi pertumpahan darah pertama di muka bumi, Nabi Adam kemudian melakukan uzlah. Saat itu, Nabi Adam merasakan kepedihan yang luar biasa karena satu putranya yang telah mendahuluinya, sementara satu putranya yang lain pergi tanpa kejelasan. Nabi Nuh juga memikul pedih dengan ujian dari putranya. Segala upaya yang dilakukan, setelah meminta dengan sangat, tidak mampu mengajak sang putra naik ke kapalnya. Ia pun harus menahan kepedihan menyaksikan putra kandungnya sendiri hanyut dalam kekufuran. Bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Sudah berpuluh-puluh tahun ia tak juga kunjung mendengar seseorang memanggilnya ayah. Setelah usianya 82telah menginjak lanjut, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang putra. Namun, ia harus memikul ujian melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan sang putra. Zahter bercerita tentang hubungan “seorang hamba terpilih” dengan ujian berat ujian yang dipikulnya. Lalu, apa hubungannya dengan keluarga Imran? Merzangus telah menanyakan hal ini kepadanya beberapa kali... Namun, ia akan mendapatkan jawaban yang hampir sama. “Engkau akan menemukan jawaban itu setelah menjadi saksi untuk mereka. Menjadi saksi kemuliaan keluarga Imran sebagai pendukung kebaikan. Mereka adalah para hamba terpilih dari sisi Allah. Bersaksi dan mengabdilah kepada mereka!” Inilah wasiat sang kakek kepada Merzangus. Ia telah mewariskan keluarga Imran kepada cucunya. Dan Merzangus pun telah memahami amanah ini dengan sepenuh hati. Ia menerimanya dengan berjanji akan mengabdi kepadanya. Sejak saat itu, Merzangus akan menuliskan kesaksiannya dalam lembaran putih untuk kakeknya. -o0o- Tibalah hari yang telah dinanti-nanti. Setelah melewati kota Damaskus, karavan kini mulai memasuki pintu gerbang kota al-Quds. Imran menyambut kedatangan Zahter bersama dengan rombongan di depan pintu gerabang Baitul Maqdis sebelah timur.. 83Empat tahun lamanya mereka tidak bertemu. Mereka pun saling merindukan satu sama lain. Ada tiga pemuda yang belum dikenal Imran dan juga seorang bocah perempuan berada di sisi Zahter. “Ini adalah para tamu Allah yang telah datang sampai ke pintu rumah Imran.” “Sementara itu, anak ini adalah putriku yang telah ikut bersamaku selama empat tahun ini. Merzangus namanya. Jangan lihat dari usianya yang masih kecil. Dia sudah hafal Taurat. Ketiga pemuda ini sahabatku yang telah menemani perjalanan di padang pasir. Kedatangan mereka ke Palestina untuk mengikuti jejak sebuah berita. Awalnya, mereka adalah para penyembah api. Namun, setelah mendapati berbagai peristiwa, mereka mendapatkan hidayah sehingga bertauhid dan memeluk agama yang benar. Aku memberi mereka nama seperti pada putra Nabi Nuh, yaitu Ham, Sam, dan Yafes. Mereka akan mengabdi untuk keluarga Imran.” Setelah berkenalan, ketiga pemuda itu diantar untuk menginap di Baitul Maqdis, sementara Merzangus melihat- lihat dulu sekeliling kota. Perempuan kecil itu heran karena belum pernah melihat kota sebesar ini. “Aku sudah sangat tua. Aku sudah lelah menempuh perjalanan panjang.” kata Zahter berulang-ulang saat berbincang dengan Imran. “Anak yatim ini diamanahkan kepadaku. Menurutku, ia juga bisa menjadi teman yang baik bagi istrimu, Hanna. Sungguh, Merzangus adalah anak yang baik.” Hanna menerima para tamu dengan sangat baik. Lebih- lebih kepada bocah yang akan menjadi temannya. Hanna merasa bahagia sehingga dunia seolah-olah telah menjadi 84miliknya. Keduanya berpelukan erat. Hanna memeluk Merzangus penuh dengan luapan kasih sayang dan perhatian. Saat itu, wajah kecil itu terlihat begitu kusut dan dipenuhi debu-debu padang pasir. “Sungguh, hadiah yang dibawa Zahter kali ini yang paling baik dari hadiah-hadiah yang selama ini ia bawa,” kata Hanna sembari memeluk dan menciumi Merzangus. Hanna kemudian membawa Merzangus untuk mandi di hamam bersama dengan adik perempuannya, al-Isya. Dengan penuh perhatian dan luapan rasa gembira, mereka memandikan Merzangus. Mereka mencuci rambut, menggosok wajahnya, mengusapkan parfum bunga mawar, dan membelikan pakaian baru dari beludru. Saat makan malam, Imran bercerita kepada Zahter mengenai perkembangan keadaan di Baitul Maqdis. Imran juga menyinggung keadaan bangsa Yahudi yang kian hari kian sulit semenjak al-Quds berada di bawah kekuasaan Romawi. Perseteruan di antara para rahib semakin menunjukkan perpecahan. Para rahib lebih berpihak kepada wali Romawi demi mendapatkan perlakuan khusus. Menurut Nabi Zakaria, Imran, para ahli tulis yang mendukungnya, keadaan para rahib yang terjun ke dunia politik hanyalah akan semakin membuatnya jauh dari Allah dan dari rakyat. Lebih-lebih, bangsa Yahudi juga telah merasakan pengalaman bahwa terjunnya para rahib ke dunia politik hanya akan membuat agama dan tauhid berada dalam tekanan dan rawan disalahgunakan. Imran sering mengatakan bahwa “al-Quds sudah kehilangan ruhnya; pergi meninggalkannya”. Al-Quds kini terguncang. Penindasan dan penjajahan telah menambah 85kepedihan hati rakyat sehingga kerusakan akhlak dan agama terjadi di hampir setiap sudut kota. Demi mendapatkan sedikit keuntungan dari pemerintah Romawi, sebagian rahib bahkan tega menjual berita palsu kepada penguasa untuk menjerumuskan sesama. “Nafsu dan pemenuhan hasrat jasmani telah membuat ruh meninggalkan Palestina. Ruh yang dikalahkan dunia dan materi telah membuatnya bersembunyi,” kata Imran. “Sungguh, ini adalah perniagaan yang teramat merugikan,” kata Zahter. Kekalahan adalah hal yang sangat berat dan pedih. Dalam tekanan dan kekuasaan pemerintah Romawi, para ahli tauhid yang memiliki keteguhan dan keberanian dibutuhkan untuk menyeru kepada agama dan kebaikan. Ini akan membuat ketulusan dan keteguhan iman setiap orang menjadi jelas. “Aku melihat para rahib Baitul Maqdis seperti bongkahan emas yang dimasukkan ke dalam tungku dengan nyala api yang sangat panas,” kata Zahter... “Sungguh para rahib telah mendapati ujian yang sangat berat. Mereka telah berada dalam ujian kobaran api. Hanyalah mereka yang memiliki ketakwaan teguh akan dapat selamat dari kobaran tungku api itu. Semoga Allah tidak menjadikan kita sebagai orang yang meleleh dalam kobaran api itu”. 86Para rahib telah terjerumus ke dalam perniagaan yang teramat sangat jelek lagi merugikan dengan terjun ke dunia politik demi mendapatkan tempat di sisi pemerintah dan wali Romawi. Mereka telah menjual harga diri, kehormatan, ruh, dan keyakinan dengan alat tukar pangkat, kekuatan, dan ketamakan terhadap harta dunia. Inilah sebuah jual beli yang akan membuat manusia merugi... Padahal mereka adalah kaum yang telah mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari sisi Allah dengan tugas mereka menyampaikan pesan ajaran-Nya. Padahal tugas mereka adalah membimbing umat ke jalan tauhid. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, meski dalam permukaan mereka menjalankan syariat, namun sejatinya mereka telah kehilangan nilai-nilai ajaran agama yang suci dalam hati dan kehidupannya. Rasa belas kasih dan ketulusan hati telah berganti pada keserakahan dan ketamakan dunia... “Terhadap mereka yang kepadanya diberi Kitab, Allah telah mengambil janji engkau harus menjelaskannya kepada umat manusia, engkau tidak bisa menyembunyikannya’. Sedangkan mereka tidak mendengarkan perintah ini. Mereka telah menggantinya dengan dunia yang bernilai rendah. Sungguh jeleknya perniagaan yang mereka lakukan.” -o0o- 879. Perjalnn Terkir aer Empat puluh hari setelah perjumpaan itu, penyakit yang selama ini Zahter sembunyikan mulai kambuh kembali. Setiap saat, ia merasa kedinginan seperti seorang yang menderita sakit malaria. Suhu badannya naik turun dengan sangat drastis. Tubuhnya pun lemah dan hanya mampu terbaring di rumah Imran sepanjang waktu. Merzangus terus menunggunya. Ia duduk menemani “kakeknya” di samping kepalanya. Setiap kali Zahter merintih, Merzangus akan segera mengganti kain lap yang dibasahi dengan air cuka untuk menyeka kening dan lengannya. Sesekali Merzangus meneteskan sirup bunga mawar ke bibir Zahter yang serasa tidak akan pernah terbuka lagi. Setelah itu, Merzangus akan memijit-mijit Zahter dengan minyak, menyisir rambutnya dengan minyak mint untuk meredakan rasa sakit di kepalanya karena tua dan sering berkelana. Akibat suhu badan yang tinggi, Zahter sering kali menggigau. Ia berkhayal mengenang masa mudanya saat masih berlari-lari di tengah-tengah padang pasir untuk berburu kijang. Ketika kembali sadar, Zahter akan membacakan beberapa hafalan doa kepada Merzangus dan memintanya 88berbisik lirih melantukan puji-pujian, sampai kemudian Zahter kembali tidak sadarkan diri. Tiga hari sudah Zahter sakit. Panas badannya tidak kunjung turun. Kata-kata yang selalu diulang setiap kali dapat siuman adalah “Semoga Allah berkenan mengampuni diriku. Semoga Allah berkenan mengambil nyawaku saat masih berada di kota al-Quds!” Namun, bagaimana dengan Merzangus? Ia akan kembali merasa kesepian di dunia yang begitu luas ini. Zahter telah menjadi ibu, ayah, dan juga temannya selama bertahun-tahun. Merzangus selalu memandangnya sebagai rumah tempat tinggalnya. Sejak kampung halamannya diserbu sekawanan perampok, tidak ada lagi rumah tempat bernaung baginya yang masih kecil. Sejak saat itu pula kehidupannya telah berubah untuk selalu mengembara, berjalan dan berjalan, hidup di atas punggung unta, serta memasang dan membongkar tenda. Hari-harinya kebanyakan dilalui dengan berjalan kaki. Ia tak pernah menetap sehingga tak memiliki rumah maupun kampung halaman. Dalam kehidupannya yang seperti ini, Zahter yang sudah tua renta adalah segala-galanya. Ia berarti rumah dan tempat tinggalnya, berarti pula kampung halaman bagi dirinya. Ya, Zahter adalah ibarat sebuah rumah bagi Merzangus, hamparan tanah yang tidak akan pernah meninggalkan dan tidak pula akan membuatnya tergelincir saat menapakinya. Karena itulah, saat Merzangus mendapati sosok yang sudah dianggap sebagai “kakek”-nya berada dalam ambang ajalnya, ia rasakan dunia ini semakin besar baginya, sementara dirinya makin kerdil mendapati kehidupan ini. 89Saat kehidupannya sebagai anak yatim baru saja mulai dapat dilupakan, saat itu pula segalanya kembali lepas darinya. Hidup sebatang kara terasa seperti memukul remuk jiwanya yang masih kecil. Hanna yang juga mengunjunginya mencari alasan untuk mengirimkan Merzangus ke rumah saudaranya, al-Isya. Merzangus pun menuruti permintaannya tanpa merasa curiga. Apalagi, ia juga sangat mencintai saudara perempuan Hanna itu. Sering ia bermain berlarian dan berlarian. Namun, kali ini Merzangus bukan dikririm untuk bermain bersamanya. Secara usia, al-Isya jauh lebih muda daripada Hanna. Mereka juga sama-sama belum dikaruniai seorang anak. Tak heran jika keduanya sering memperebutkan Merzangus. Al-Isya adalah istri Nabi Zakaria. Nabi Zakaria yang berasal dari keturunan Daud , seorang nabi yang begitu dihormati, diberi kepercayaan memegang kunci Baitul Maqdis dan mengurus tempat persembahan kurban. Dalam waktu yang singkat, Merzangus pun telah menjadi sumber keceriaan di rumah Imran dan Nabi Zakaria. Hanna rupanya tidak ingin Merzangus yang masih kecil menyaksikan saat-saat ajal kakeknya. Itulah alasan mengirim Merzangus ke rumah al-Isya. Al-Isya menyambut kedatangan Merzangus dengan riang. Ia mendekapnya seraya mengajaknya bermain. Namun, 90Merzangus malah menangis tersedu-sedu seraya berbisik, “Kakek tidak ingin mengajakku pergi untuk yang terakhir kalinya, al-Isya!” -o0o- Sesuai dengan isi wasiat, Zahter dimakamkan di lereng bukit, di bawah pepohonan zaitun di kota Palestina yang sangat dicintainya. Sementara itu, Ham, Sam, dan Yafes sama-sama beruzlah dengan mendirikan gubuk di dekat pemakamannya, seakan-akan menjadi penjaga Zahter sang cendekiawan yang telah meninggal dunia. -o0o- 91
adat istiadat yang telah diajarkan para leluhur? Maukahsaya katakan sesuatu kepada Anda! Setiap kejelekan yangterjadi di dunia ini selalu saja dinisbatkan kepada para leluhuryang telah memulainya. Coba katakan siapa yang pertama kalimembuat patung? Biar saya ceritakan kepada Anda. Ada seorang raja yangsangat mencintai ayahnya yang bernama Baal. Begitu sang ayahmeninggal dunia, ia jatuh sakit karena sangat sedih. Akhirnya,dia membuat patung yang sangat mirip dengan wajahayahnya. Patung itu ia dirikan pada sebuah pasar di tengahkota. Ia juga perintahkan semua orang ikut menghormatipatung itu. Yang menghormatinya akan mendapatkankebaikan dan keselamatan. Semua orang, termasuk paraberandal, perampok, dan pembunuh ikut bersimpuh di depanpatung itu sambil menyuguhkan uang dan berbuat demikian, mereka akan dimaafkan sangraja. Akhirnya, uang dan persembahan yang diberikan untukpatung itu sangat berlimpah. Hal ini dimanfaatkan untukmendulang uang. Sang raja lalu memerintahkan mendirikanpatung Baal di seluruh penjuru. Padahal, sebagaimana ajaranyang disampaikan kepadaku, Allah sangat melaknat perbuatanseperti ini. Hamba-Ku telah melakukan sesuatu yang telah meniadakan hukum yang telah Aku sampaikanmelalui Musa dan berbalik mengikuti adat para leluhurmereka.” Raja Hagerce yang mendengarkan kisah itu menyela,“Mualim! Engkau bicara seolah Bani Israil memiliki patungdari batu dan kayu yang selalu mereka perkataanmu sangat keras!” tahu Bani Israil tidak memiliki patung dari batu dan kayu pada hari ini. Yang saya maksud adalah patung berdaging,” jawab Isa . Semua orang yang ada di situ pun mulai menangis. Maryam lalu berkata, “Ketahuilah bahwa hanya Allahyang seharusnya dicintai dan menjadi tujuan setiap orang!” Merzangus pun kembali menyuguhkan air susu dengangelas kayu kepada masing-masing tamu. -o0o- Marym dn Para Wna Ali Srga Setelah Raja Hagerce kembali ke negaranya, rombonganmelanjutkan perjalanan ke Nasara bersama para musair dariJalilah. Kebetulan, pada saat itu Merzangus mendengar berita adaseorang hamba saleh yang sedang sakit berat di sana. Maryampun mengajak rombongan mengunjunginya. “Ada baiknya kita mengunjunginya,” kata Maryam Merzangus menyetujui ajakan itu. “Pasti ada hikmah di sana. Mari kita mengunjunginya.” “Akan terbuka dua pintu bagi setiap manusia saat-saatmenjelang kematian. Yang satu menunjukkan arah dunia, kearah para kerabat yang sedang berkumpul pintu yang lainnya ke arah alam akhirat.” “Pada saat-saat itu malaikat akan memperlihatkan pintuakhirat kepadanya. Siapa tahu saat berkunjung nanti kita bisaberbicara dengan para penduduk surga.” Ternyata, berita itu benar. masih hidup, Zahter selalu menyempatkan dirimengunjunginya saat sedang singgah ke daerah tempat orangitu bermukim. Hamba saleh itu rupanya senang melakukanperjalanan di waktu malam demi mendapatkan selalu beruzlah atau mengasingkan diri, menyendiri darihiruk-pikuk dunia untuk mengosongkan diri dengan berzikirdan bertafakur. Mujur, saat sampai di Nasara, Nabi Isa dan para sahabatnyatidak sulit menemukan tempat tinggal orang saleh itu. Saat memasuki rumahnya, hamba saleh yang sedang sakitparah itu mencoba bangkit demi menyambut kedatanganpara tamu. Dari wajah para tamu yang memancarkan nuritulah ia dapat mengenali siapa yang datang berusaha bangkit dari ranjang, namun dirinya tak lagimemiliki cukup tenaga. “Anda sekalian...,” katanya, “Saya sepertinya mengenalkalian dari nur yang terpancar dari dahi bekas sujud. Selamatdatang wahai saudaraku!” “Mungkin kalian akan berkata bahwa orang tua sepertidiriku yang sedang sekarat ini sudah tidak lagi lurus berbicara,sampai-sampai mengaku mengenali kalian. Dan benar, saat inisatu pintu telah terbuka ke alam akhirat bagiku. Apa yang aku lihat saat ini, satu sisi mengarah pada alam akhirat dan satu sisi lagi mengarah pada alam dunia. Diriku pun bingung membedakannya. Meski demikian, ada satu doa yang senantiasa aku panjatkan kepada Allah. Doa itu adalah agar aku dapat berjumpa dengan nabi yang kedatangannyatelah diberitakan dalam Taurat. Berita ini sebenarnya lama dirahasiakan oleh orang-orang siapa saja yang menyinggung berita ini akan dicap sebagai orang yang terancam’.” “Janganlah Anda merasa takut,” kata Merzangus. Meskiaku seorang wanita yang sudah berusia hampir enam puluhtahun, sampai saat ini pedangku tidak pernah lepas daritanganku. Sejak Isa lahir, pedang ini belum pernah akumasukkan ke dalam kerangkanya. Sudah tiga puluh tahunlamanya ia terhunus untuk meradang dan menerjang,” kataMerzangus sembari menggantungkan pedangnya ke dindingkemudian mulai menyalakan tungku di dapur. Saat itu iaseolah-olah adalah penghuni rumah itu sejak lama. Maryam dan Isa masih tetap berdiri. Tidak adasatu kursi untuk duduk di gubuk yang hampir roboh mereka mungkin untuk yang terakhir kalisebelum nelayan saleh itu wafat. Sang nelayan pun merasamalu dengan keadaan rumahnya. Ia terus mencoba sudah berusaha sekuat tenaga, ia tetap tidak mampubangkit dari ranjang. Saat selimutnya jatuh ke tanah, terlihatjelas betapa kurus tubuh hamba saleh itu. “Tidah usah repot-repot,” kata Merzangus serayamengambilkan selimut yang terjatuh. Hamba saleh itu kemudian membungkuk dan bersucidengan ember air yang ada di dekatnya. Sungguh, apakahorang tua ini tidak memiliki seorang kerabat? Dengan gayungdi tangan, nelayan itu membersihkan diri di sekitar tempattidur. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia melipat-lipat ikan yang hampir menutupi kamarnya. Dengan lipatanjaring itulah ia memberikan tempat duduk untuk Maryamdan putranya. “Terima kasih sekali,” kata Maryam, “Indah sekali tempatduduk ini!” Maryam dan Isa pun akhirnya dapat duduk sambiltersenyum. “Wahai anakku! Diriku tidak pernah keluar dari kamaryang kalian lihat ini. Sungguh, usiaku telah berlalu untukmendakwahkan agama yang benar kepada para nakhodakapal, nelayan, dan semua orang di sekitar sini. Aku yangmembuatkan jaring untuk mereka, sedangkan merekamembawakan ikan hasil tangkapannya. Orang-orang dahulusering bercerita bahwa nabi yang namanya disebutkan dalamTaurat kelak akan berdakwah dengan berpindah-pindah darisatu tempat ke tempat lain. Nabi itu tidak akan tinggal di satutempat dalam waktu yang lama. Sejak saat itulah aku selalumenantikan kedatangannya. Diriku hampir saja berputus asauntuk dapat berjumpa dengannya. Aku yakin kalian adalahorang-orang yang dekat dengan nabi itu. Hal ini terlihat jelasdari wajah dan sikap santun kalian. Karena itu, apakah kalianmemiliki berita tentang keberadaannya. Mohon sudilahbercerita kepadaku...!” “Wahai kakek!” kata Maryam. “Inilah Nabi yang selalu kau tunggu. Kini, Sang Nabi itubenar-benar telah berada di depanmu! Dialah Isa al-Masih,utusan yang membawa ajaran dari Allah.” Begitu mendengar penuturan Maryam ini, nelayan tua itumulai menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan rasa bersyukurdan gembiranya. Seketika itu pula ia menyatakan keesaan dan Isa sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Di wajah kakek yangsaleh itu terpancar cahaya. Setelah beberapa saat tersengal-sengal dalam tangisan, nelayan saleh itu kembali sadar bahwaajalnya ternyata sudah dekat. “Ahh....!” jerit sang nelayan. “Duhai Tuan, betapa diriku terlambat bertemu saat yang lalu aku merasa sedih karena belum dapatmenemukan dirimu. Dan sekarang, kesedihan itu semakinmemuncak namun berganti menjadi pedih karena takutkehilangan dirimu. Sungguh, usiaku hanya tinggal sesaatsaja.” “Ahh...!” kata Maryam menimpali. “Duhai Allah... Apa yang akan didapatkan jika seseorang kehilangan-Mu, Dan apa yang hilang darinya jika seseorang mendapatkan diri-Mu?” Mendengar perkataan Maryam, nelayan itu tersentuhhatinya. “Betapa baik hakikat yang Anda ucapkan sehingga hatikuyang sekarat ini menjadi kuat kembali wahai wahai Ibunda al-Masih.” Setelah menghela napas panjang, nelayan saleh itu kembalibertanya, “Berkenankah Anda menerangkan surga?” “Wahai kakek yang saleh! Telah lama engkau menungguberita bahagia itu. Dan sekarang kami datang untukmenyampaikan apa yang kami ketahui,” kata Maryam. Sejak kecil, Maryam telah bermain bersama para malaikat. sangat suka bercerita tentang surga sebagaimana iamenyenangi orang yatim dan miskin. Surga berarti tempat yangdirahasiakan dari pandangan mata manusia. Seperti bunga-bungaan, kebun, dan taman yang menutupi permukaan tanahsebagaimana malam menutupi siang, dan siang menutupimalam, demikian pula alam akhirat yang menutupi surga daripandangan mata kita. Surga memiliki beberapa nama. Adn’ Firdaus’ Mawa’ Naim’ Huld’ Salam’ Illiyyun’ Kakek saleh itu ikut menyebutkan nama-nama surga satudemi satu. “Surga memiliki banyak kedudukan dan paling tinggi ibarat taman kasih sayang,” katanya. Bagi Merzangus, surga hadir saat berada di sampingMaryam. “Kini, diriku berada di pinggir taman surga,” kata nelayansaleh itu seraya memberi isyarat untuk bersalaman denganMaryam. Bagi Merzangus, surga datang saat berada di sampingMaryam dalam embusan lembut kata-katanya yang penuhhikmah. Ya, Maryam adalah bunga surga yang kehidupannyaselalu semerbak mewangi karena membawa berita darisurga. kadang tak kuasa menahan penderitaan dankesusahan yang dihadapinya. Remuk hatinya, tercerai berai,dan berlinang dalam tangisan. Pada saat itulah Maryam yangberusia lima puluhan, lebih muda muda dari usianya, datanguntuk membelai rambutnya. Dengan kata-katanya yang lembutlagi merdu, Maryam bercerita tentang surga. Kehidupanyang menjadi harapan kita. Kehidupan sebenarnya yangakan datang setelah ujian berat di alam dunia ini. Mendengarpenuturan itu, Merzangus pun kembali kuat serasa inginsegera menjemput kematian dengan penuh kegembiraan. Bagi Maryam, kematian adalah pintu terbuka bagiruh untuk mencapai alam abadi. Kematian ibarat kudatunggangan. Saat ditunggangi, ia akan mengantarkan manusiakepada tujuan akhir. Demikianlah, kematian disambut tanpaketakutan atau menakutkan. Setiap kali Maryam membahas kematian, ia selalumengakhirinya dengan menerangkan kehidupan surgasehingga orang-orang fakir dan yang sedang sakit kerasdengan penuh semangat merindukan kematian. Merekajuga kembali tabah menghadapi kesulitan hidup. Ketegarandan ketabahan Maryam dalam menghadapi segala musibahdan kesulitan adalah bersandar dengan keimanannya padakehidupan setelah kebangkitan. Kehidupan surga bukanlahharapan materi melainkan kerinduan pada perjumpaandengan Tuhannya. Inilah kedudukan tertinggi dalam surgayang selalu diharapkan. Dalam masa-masa sulit di pengasingan dan musimpaceklik, Maryam selalu menuturkan kehidupan surga bagipara hamba yang bertakwa. bawahnya mengalir sungai yang jernih danmenyegarkan. Dihidangkan pula berbagai macam buah-buahkan dalam rindang bayangan pepohonan. Inilah imbalanbagi orang-orang yang menghindarkan diri dari berbuatkejelekan.” Saat mendengarkan cerita ini, nelayan saleh itu luap dalamlinangan air mata. Ia memanjatkan puji dan syukur ke hadiratAllah. Pintu-pintu surga seolah-olah terbuka satu per satuseiring dengan penuturan Maryam. Namun, apakah Maryam tidak membenci orang-orangyang berbuat kejahatan? Saat hati Maryam sakit oleh kejahatan dan keburukanorang-orang yang memusuhinya, ia selalu mengadukannyakepada Allah. “Duhai Allah, Tuhan bagi semua orang yang baik dan jugayang jahat!” “Sungguh, tidak ada pintu keluar bagiku selain denganmembuka pintumu.” Maryam selalu menceritakan kehidupan surga kepadaorang-orang yang hatinya sakit demi memberikan dukungankepadanya. Maryam juga mengedepankan harapan, bukankeputusasaan. Ia selalu mendahulukan kasih sayang daripadamenggambarkan ketakutan. Nabi Isa juga selalu mengedepankan pembahasan tentangkehidupan di surga. “Wahai sahabatku. Takut kepada Allah dan kecintaanpada surga Firdaus akan memberikan kesabaran atas kesulitanyang diderita dan menjauhkan diri dari kilau dunia,” demikiannasihat Nabi Isa yang selalu didakwahkan kepada parasahabatnya. Maryam membahas kehidupan surga, Merzanguspernah mendengar beberapa nama. “Pernah engkau bercerita tentang taman di surga danorang-orang mulia yang menghuninya. Berkenankah engkaumenyebutkannya lagi?” harap Merzangus kepada dari harapan ini tentu saja untuk mengantarkannelayan saleh itu mengembuskan napas terakhirnya dengantenang. Maryam pun mulai menjelaskan setiap tingkatan surgadan menerangkan bahwa martabat paling tinggi bagi seoranghamba adalah rida terhadap Allah. “Allah telah menciptakan kita di alam antara, yaitukehidupan di antara alam Mulk dan Malakut. Ini dilakukanagar manusia memahami kemuliaannya. Namun, jika manusiatidak memahami bahwa kemuliaan telah dianugerahkankepadanya dan kemuliaannya di antara semua makhluk harusdiwujudkan dalam syukur kepada Sang Penciptanya, hal initidak lain adalah kejahiliahan yang nyata.” Nabi Isa lalu mengarahkan pembicaraan pada kehidupansurga, yang dipenuhi kemuliaan dalam keindahan taman-taman surga. Semua itu hanya bisa dicapai dalam kerelaan. “Seolah semua penciptaan ini telah Allah letakkan dalamgenggamanmu sehingga engkau pun mampu menerangkannyadengan sedemikian indah,” kata Merzangus. Setelah diam sejenak, Maryam menoleh ke arah Merzangusseraya melanjutkan perkataannya. “Merzangus, sebenarnya diriku sangat penasaran denganpara wanita ahli surga yang kelak akan dipertemukankepadaku,” kata Maryam. adalah para wanita ahli surga? Engkau tidakpernah menyebutkan hal ini kepadaku sebelumnya, wahaiMaryam?” “Berarti Allah telah menakdirkan untuk diterangkandi sini. Engkau tahu Merzangus. Saat aku tinggal di mihrabsampai menjelang kelahiran putraku, pada masa-masa itulahmalaikat menyampaikan wahyu kepadaku untuk bersujudbersama orang-orang yang sujud. Aku pun segera menunaikanperintah itu dengan ikut mendirikan salat berjamaah diKubah Suci, di Masjid al-Aqsa. Namun, waktu itu tidak satupun wanita diizinkan memasuki daerah Kubah Suci. Begitudiriku terlihat ikut mendirikan salat di saf paling belakang,para rahib sangat marah dan menghujaniku dengan sampai tak sadarkan diri. Sesampai di mihrab, aku masihmenangis dalam kesakitan hingga tertidur. Dalam mimpi,malaikat mempertemukanku dengan tiga wanita ahli surga.” “Ya Allah! Jadi engkau pernah dipukuli oleh para rahibitu?” “Tidak penting hujan pukulan yang menimpaku. Bahkan,sudah sejak lama aku melupakan kejadian itu. Yang palingpenting, sekarang aku ingin bercerita kepadamu sebuahkejadian suci yang aku alami di dalam mimpi. Tiga wanita surga yang disebut namanya satu per satu oleh malaikat dengan penuh ucapan sanjungan adalah Asiyah putri Muzahim yang telah membesarkan Nabi Musa di dalam istana dengan penuh kasih-sayang....” Firaun telah tega menyiksanya?” “Setelah mengetahui bahwa Asiyah memeluk agama yangdiajarkan Nabi Musa, Firaun memerintahkan kedua kakidan tangan beliau yang mulia diikat dengan seekor kuda dicambuk agar saling tarik. TubuhAsiyah juga ditindih batu besar. Saat itu, wanita saleh tersebutberdoa, Duhai Allah! Limpahkanlah sebuah rumah di surgakelak. Lindungilah diriku dari Firaun dan diriku dari orang-orang zalim ini’ sampai napasterakhir pun terembus dalam senyuman penuh kebahagiaan.” “Surga adalah pelipur dan harapan bagi setiap hamba yangmendapati kezaliman.” “Benar. Dalam mimpi aku diperlihatkan dirinyamengenakan pakaian yang begitu indah seperti seorangpengantin. Aku melihat ke dalam pandangan matanya. Iatersenyum penuh sinar bagaikan kilauan mutiara. Ia samasekali seperti tidak merasakan sakit. Para malaikat puntidak henti-hentinya membacakan takbir saat dirinya lewat.Telah lewat Asiyah, seorang wanita ahli surga’. Begitulahseruan malaikat dengan suara lantang. Kemudian, malaikatmembawaku ke dalam kedudukan kedua yang juga penuhdengan pancaran cahaya terang.” “Siapakah yang engkau jumpai di sana, wahai Maryam?”tanya Merzangus. sana aku bertemu dengan Khadijah binti Khuwaylid. Dia adalah istri baginda Nabi di akhir zaman. Ia akan datang setelah Isa . Berita kedatangannya telah diserukan dalam kitab-kitab sebelumnya. Dia adalah Muhammad . Dan Khadijah Kubra adalah istri baginda nabi yang mulia ini.” Saat Maryam menuturkan kata-kata terakhir dari kisahini, nelayan saleh itu tiba-tiba terperanjat dan bangkit daritidurnya seraya berteriak, “Apa kata Anda, wahai Maryam?Adakah nabi setelah Isa ?” Mendengar pertanyaan ini, Nabi Isa pun berkatadengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Sungguh, semoga salam dan keselamatan tercurah bagiSang Nabi akhir zaman itu . Jika dalam doamu engkaumeminta bertemu denganku, demikian pula dalam doaku. Akumemohon agar dapat dipertemukan dengan nabi akhir zamanitu sehingga diriku dapat bersaksi mengenai kenabiannya danmengabdi pada ajaran agamanya. Dia adalah Ahmad . Dansungguh, diriku beriman dan sangat mencintainya meskibelum mengenalnya.” Maryam kembali melanjutkan kisahnya. “Dialah Khadijah Kubra, istri Nabi yang ditunjukkansebagai salah satu ratu para wanita ahli surga yangdipertemukan denganku dalam mimpi.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurahkepada baginda Nabi akhir zaman yang belum lahir dan jugauntuk para sahabat dan ahli baitnya!” sepanjang usiaku, belum pernah diri inimelihat wanita yang lebih cantik daripada Khadijah saat dirinya lewat, para malaikat terheran-heran hingga pingsan. Saat dirinya lewat, diriku yang Allahakan limpahkan Ruhul Kuddus ke dalam kandunganku jugaberada dalam barisan yang menunggunya. Aku mencintainya,merindukannya, sehingga tercium semerbak wangi ibukuyang diriku tidak pernah mengenalnya. Tebersit dalam dirikukeinginan untuk berteriak memanggilnya ibu’....” Semua orang yang ikut mendengarkan cerita Maryammenangis seketika. Jika saat itu mereka menoleh ke arah lautanyang terdapat di bawah gubuk nelayan saleh itu, niscaya merekaakan mendapati ribuan ikan yang sedang terpaku mendengarkankisah tersebut. Bukan hanya ikan, melainkan juga kerang,cumi-cumi, dan semua jenis makhluk di lautan. Mereka ikutlarut dalam tangisan. Jerit Maryam memanggil Khadijah Kubradengan panggilan ibu’ telah menggetarkan seluruh jiwa. Jikasaja jerit dan tangisan Maryam berlanjut untuk beberapa lama,niscaya seluruh ikan di lautan akan terguncang, mabuk dalamcinta, sehingga terdampar ke pinggir lautan. Maryam masih terus melanjutkan kisahnya tentang parawanita ahli surga kepada nelayan saleh yang sedang sekarat. “Kemudian, dalam mimpi itu aku mendengar suaralantang dari ketinggian. Suara itu adalah seruan seorangmalaikat. Wahai seluruh malaikat, lindungilah penglihatankalian karena akan terpancar cahaya berkat kedatangan putriMuhammad al-Mustafa, Fatimah az-Zahra.” Mendengar kisah itu, nelayan saleh itu ikut berteriakhisteria sehingga semua orang dengan susah payah membantumenenangkan dirinya. tempat menjadi begitu terang karena pancarancahaya Fatimah az-Zahra. Semua malaikat tertundukdalam sujud, bertasbih kepada Tuhannya. Diriku juga tidaksadarkan diri bermandikan cahaya. Tiba-tiba, aku seolah-olahmenemukan diriku dalam sebuah cermin. Seketika itu pulaterlihat seorang wanita yang wajahnya persis dengan muda itu tersenyum manis seraya mengulurkantangannya ke arahku. Sungguh, antara diriku dan dirinyaibarat dua pembiasan, dua wujud simetris. Ia juga bertatap muka denganku, wajahnya memerah. Akusendiri merasa gemetar menyambut uluran tangannya. Saat iamengangguk untuk memberi salam, tiba-tiba aku perhatikanada dua anak kecil yang menyelinap di balik jubahnya. Padaleher kedua anak itu tergantung tulisan baik’ dari emas. Keduatulisan itu ibarat gantungan dua anting surga. diriku masih juga belum tahu siapa kedua anakyang sangat manis lagi menyenangkan ini. Keduanya masihbermain petak umpet di balik jubah sang ibu. Sesekali merekamenampakkan diri dan sesekali bersembunyi. Tak lamakemudian datang para malaikat menggelar permadani daribunga untuk kami. Mereka juga menyuguhkan minuman yangsejuk lagi menyegarkan dalam gelas yang terbuat dari intandengan nampan emas murni. Saat aku bertanya tentang ini,malaikat menjawab bahwa yang ada dalam gelas itu adalah airputih yang sejuk lagi menyegarkan dari danau Salsabil dalamsurga yang khusus diberikan bagi para hamba yang muda bernama Fatimah az-Zahra adalah seorangmulia. Sosok yang telah mencapai tempat kebaikan yang memberi bukan karena berlebih, melainkan kasih sayang. Mereka rela menanggung lapar demidapat memberi makan kepada fakir, yatim, dan orang-orangpapa. Dalam melakukan kebaikan ini, mereka juga sama sekalitidak mengharapkan ucapan terima kasih. Hanya Allah yangmenjadi tujuannya. Dialah Fatimah az-Zahra. Sungguh mujursekali diriku dapat bertemu dengannya. Kemudian, datang seorang malaikat memberikan kainpembersih yang terbuat dari sutra. Apa ini?’ tanyaku kepadamalaikat yang membawanya. Inilah pembersih yang khususdihadiahkan kepada para ahli surga yang telah membersihkanjiwanya. Karena dari golongan yang telah menyucikan diri,kalian layak mengenakan pakaian ini. Sementara itu, keduaputra Fatimah tampak mengenakan stelan berwarna hijau danmerah api. Saat bermain kejar-kejaran, anak yang mengenakanbaju merah terjatuh. Aku pun segera mengulurkan tanganuntuk membantunya berdiri. Saat itulah terdengar suaralantang, Semoga Allah juga berkenan mengulurkan tanganuntuk menolong putramu’. Setelah itu, aku terbangun. Inilahperjalananku bertemu dengan para wanita ahli surga di dalammimpiku.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurah untukFatimah dan kedua putranya,” kata Merzangus. “Amin...,” ucap semua orang yang berada dalam ruangan. “Amin...,” ucap semua jenis ikan yang menghuni lautan. “Amin...,” ucap semua malaikat yang bersaf-saf mengelilingigubuk itu. Pada saat itu, nelayan saleh memohon syafaat dari parawanita ahli surga. Napas terakhir pun terembus. Saat Nabi Isa menuruni laut untuk menyucikan jasadkakek saleh itu, ia menyaksikan ikan-ikan sudah berjajar Serombongan ikan lumba-lumba telahmenanti untuk membawa jasad nelayan saleh itu ke tengahlautan. Pada saat itulah semua orang baru mengetahui kalaukakek itu adalah dari keturunan Yunus . Beberapa saat kemudian terlihat seseorang menggerakkanperahu untuk menjemput kedatangan jasad sang serombongan ikan itu menyerahkan jasad sang kakekuntuk diangkat ke atas perahu, dalam sekejap lautan berubahseperti keadaan semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Merzangus pun bertanya-tanya. “Siapa gerangan sosok yang menunggu kakek itu di tengah-tengah lautan? Mungkinkah ia seorang malaikat?” “Mungkin Nabi Khidir,” jawab Maryam. Maryam merasa malu dengan apa yang telah selalu merasa malu jika rahasianya terkuak. “Hari ini aku telah begitu banyak bicara. Entah apahikmahnya. Duhai Allah! Hamba mohon ampun ataskesalahan hamba yang terlalu banyak bicara,” ucap Maryamkemudian diam sampai esok hari. Untuk beberapa saat, Maryam duduk di samping laut. Iabertafakur dan berzikir kepada Allah. “Ya Kuddus, Ya Allah!” Merzangus lalu menggambar sebuah denah bujur sangkardi atas pasir dengan cangkang kerang. Pada sisi kanan atas denah berbentuk bujur sangkar itutertulis nama “Maryam” membaca tasbih Ya Rahiim, YaAllah!’ Pada sisi kiri atas denah tertulis nama “Asiyah” membacatasbih Ya Mukmin, Ya Allah’. sisi kanan bawah denah tertulis nama “Khadijah”membaca tasbih “Ya Shadik, Ya Allah’. Sementara itu, pada sisi kiri bawah tertulis nama “Fatimah”membaca tasbih Ya Nur, Ya Allah”. Demikianlah. Maryam adalah lambang kasih sayang, Asiyah lambang keyakinan-keamanan, Khadijah lambang kesetiaan, dan Fatimah lambang pancaran nur. Dalam gambar itu, nama Maryam dan Fatimah terdapatpada sisi yang sama. Seolah-olah mereka simetris, salingmelihat satu sama lain. Nama Maryam dan Fatimah jugamewujudkan dua sisi “timur-barat” sisi Kakbah. Dan tempatFatimah az-Zahra tepat di sisi Hajar Aswad. Sementara itu, Maryam dan Khadijah adalah dua ujung“utara-barat” yang menunjukkan Hijr Ismail. Saat itu Merzangus sedang membayangkan masa dirinya berada di tengah padang pasir bersama sang guru,Zahter. Ternyata, gambar denah yang baru saja dibuatnyamirip dengan gambar-gambar yang telah dibuat Zaher saatdirinya mengajak bermain melawan waktu. Merzanguskembali memandangi gambar yang baru saja dibuatnyadengan menambahkan masing-masing sisi dengan menaruhsatu cangkang kerang. Tak beberapa lama, ombak datangmenyapu semua nama wanita ahli surga itu bersama dengancangkang kerangnya. Merzangus merasakan kembali guyuran dari tengah lautan. Ternyata, air yang kembali telahmeninggalkan kerang mutiara sebagai ganti keempat namayang baru saja tersapu ombak. Merzangus heran dengan kejadian ini... Saat Merzangus ingin menunjukkan keempat kerangyang diantar ombak itu, ia melihat Maryam sedang khusyukberdoa. Merzangus pun malu. Ia kemudian melemparkankembali kerang-kerang itu ke tengah lautan. “Sungguh, engkau telah menunda-nunda waktuku denganmengajak bermain dengan batu yakut dan mutiara,” katanya. Merzangus pun menurunkan cadarnya seraya bangkitdengan bersandar pedangnya untuk kembali menuju kegubuk. -o0o- Dnau Jailah Hari berikutnya, Maryam, Isa , dan Merzangusmelanjutkan perjalanan dari Nasara menuju Jalilah. Merekajuga akan singgah ke suatu daerah bernama Gur untukberdakwah kepada para musair dan kaum Badui. Saat menuju ke sana, mereka harus menyeberangi danaumenggunakan perahu dengan tiga pasang pendayung. Begitusampai di pelabuhan, seorang tua terlihat berdesak-desakan ditengah kerumunan. “Saya mencari seorang mualim dari Nasara. Katanya, iaakan berkunjung ke daerah Gur pada hari-hari ini. Ramaidibicarakan bahwa dirinya tidak memiliki mata uang untukmembayar kendaraan yang akan ditumpanginya,” kata orangtua itu. “Saya dengar mualim itu selalu berbagi makanan denganpara fakir miskin. Ia menyalahkan para rahib di Baitul Maqdisyang meninggalkan umatnya demi memperkaya diri,” tambahorang tua itu. “Mualim tidak pernah bicara dengan nafsunya, wahaiKakek. Menurut yang saya ketahui, dia adalah utusan hanya menerangkan apa yang diperintahkan Tuhannya.” cukupkah syariat Musa bagi kita?” “Jika saja syariat Musa telah disimpangsiurkan, Allah akanmengutus seorang rasul untuk meluruskan kembali orang-orang yang tersesat dari jalan tauhid.” “Dari mana engkau tahu semua ini, wahai anak muda?” Mendapati pertanyaan itu, Nabi Isa diam sejenak serayatersenyum. Maryam yang sejak awal diam ikut memberikansalam dengan menganggukkan kepalanya seraya berkata,“Seorang mualim yang engkau maksud itu adalah Isa, saat ini berada di hadapanmu. Berita gembira akankelahirannya sebagai nabi sudah diberitahukan kepadakusejak sebelum kelahirannya. Dialah al-Masih yang mampubicara sejak dirinya lahir.” Orang tua itu langsung gemetar. “Wahai al-Masih putra Maryam. Aku memiliki saudarakembar di al-Quds bernama Ardesyur. Ia sudah tiga puluhdelapan tahun sakit kusta. Setiap Hari Raya Fisih, ia selaludatang ke kolam al-Hayat di halaman Baitul Maqdis untukmendapatkan berkah kesembuhan. Bahkan, ia rela membawaranjangnya untuk tidur di dekat kolam. Namun, sudah sekianpuluh tahun ia tidak dapat mendekati kolam tepat padawaktunya. Aku mendengar dirimu dapat menyembuhkanorang sakit. Aku mohon datanglah ke al-Quds untukmenyembuhkan saudaraku yang sudah sakit sepanjangusianya.” “Wahai sahabat tua! Pertolongan hanya datang dari sisiAllah. Isa al-Masih hanyalah seorang hamba dan penawar juga bukan datang darinya, melainkandari sisi Allah. Tolong jangan sampai tercampur aduk. Isaputra Maryam hanya dapat menunjukkan mukjizatnya dengan Allah. Dan mukjizat itu tidak lain untuk memperkuatkeimanan kita.” “Sungguh benar apa yang engkau katakan, wahai wanitamulia. Sekarang, mohon izinkan diri ini untuk ikut bersamadengan kalian ke Gur dan kemudian ke al-Quds.” “Baiklah,” kata Maryam. Orang tua itu pun akhirnya ikut ke naik ke dalam juga menempuh jarak yang jauh, tiba-tiba ombaksangat besar datang menerjang. Saat itu, Isa al-Masih sedangtertidur, dengan kepala terletak di pangkuan Maryam. Saatterbangun karena teriakan panik orang-orang yang berada diatas perahu, Isa menyaksikan gelombang yang semakinbesar dan cuaca gelap siap menerjang perahu. “Wahai mualim, tolong selamatkan kami. Akan hancurkami sebentar lagi!” teriak orang tua itu. Isa al-Masih mengangkat tangan seraya berdoa kepadaAllah “Wahai Allah! Tuhan langit dan bumi, pemilik angin danlautan, mohon rahmatilah hamba-hamba-Mu ini!” “Amin, amin, amin,” ucap Maryam berulang-ulang. Tak lama kemudian, air danau itu menjadi besar yang baru saja mengamuk kini telah hamparan danau berubah menjadi begitu tenangmenyejukkan. Semua orang pun dibuat heran. Penumpanglain yang berada di atas perahu, termasuk para pendayung,berbisik satu sama lain, “Siapa sebenarnya anak muda ini?Mengapa ombak dan angin taat kepadanya?” Begitu mendarat di kota Gur, yang diperbincangkanpara penumpang dan pendayung perahu telah tersebar kemana-mana. Bahkan, cerita tentang dirinya telah terlebih sampai ke semua telinga penduduk Badui. Lebih dariitu, masyarakat Gur telah berkumpul di alun-alun untukmenunggu kedatangan sang Mualim. Salah satu dari orang-orang yang ikut menunggu tidaklain mata-mata yang disebar para rahib Baitul Maqdis. Sesampai di tempat yang dituju, Nabi Isa akhirnya bicaradi depan umatnya. “Semoga salam tercurah untuk kalian wahai para musair!Apa yang ramai dibicarakan telah sampai juga ke ingin menyampaikan bahwa air di danau itu tidak taatkepadaku, melainkan taat kepada Zat yang kita juga taatkepada-Nya. Dialah Allah. Sepintar apa pun seorang, ia tidakakan mungkin bisa mengabdi kepada dua tuan. Jika salah satutuan berbelas kasih, yang lainnya akan membencimu. Jika satuorang memberi perintah kepadamu, sementara yang lainnyatidak menginginkannya, engkau pun tidak akan mungkinkeluar dari keruwetan yang para musair! Aku ingin menyampaikan kepadakalian bahwa tidak mungkin kalian mengabdi kepada Allah bersamaan dengan mengabdi kepada dunia. Dunia dipenuhi kebohongan, ketamakan, kepedihan,dan penderitaan. Tidak ada kenyamanan di dunia. Yang adahanya kezaliman dan kekalahan. Oleh karena itu, taatlahkepada Allah dan pandanglah dunia sebagai hal yang cara ini, engkau akan mendapatkan ketenangan kalian juga akan mendapatkan ketenteraman. Karena itu, Aku akan mengatakan hal yang benar kepadakalian. Diriku adalah seorang hamba yang setia sehingga akujuga mengajak kalian untuk berada dalam kesetiaan. Sungguh,betapa menggembirakan mereka yang menangis di duniaini karena mereka akan mencapai pada posisi betapa menggembirakan mereka para fakir miskinyang belum merasakan kesenangannya dunia. Mereka akanmerasakan kenikmatan abadi di akhirat yang telah dititahkanAllah. Mereka akan makan dan minum dari jamuan malaikat juga akan menjadi pelayan bagi mereka. Engkausekalian adalah para musair, sama halnya dengan orang-orangyang pergi menunaikan ibadah haji. Mungkinkah seorangmusair akan mengurusi hal-hal duniawi seperti sawah danladangnya, istana dan rumah megahnya serta bersenang-senang? Yakinlah, semua itu tidak! Mereka hanya akanmembawa bekal sebatas yang dibutuhkan dan ringan dibawaselama dalam perjalanan. Jadi, janganlah kalian membebanidiri dengan beban keinginan duniawi, dengan harta, pangkat,dan jabatan. Sungguh, kesadaran menghamba dan bertakwaadalah hal yang sangat berguna dan begitu berharga. Olehkarena itu, wahai para musair, beban yang hakiki untuk kitapikul selama di dunia yang fana ini tidak lain adalah berimandan beribadah kepada Allah.” Ungkapan yang disampaikan al-Masih ini berembusmenenangkan seluruh jiwa para musair serta kaum fakirmiskin. Sementara itu, para wanita berebut mendekati Maryamuntuk dapat mencium tangan dan memohon doa khotbah selesai, mereka bersimpuh di atas tanah dandengan berucap dengan seizin Allah’. Nabi Isa lalu berdoauntuk mereka. Isa lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kakibersama orang tua yang ditemui di pelabuhan, sementaraMaryam dan Merzangus menaiki kuda yang mereka sewa. “Kakek, maukah engkau aku ceritakan kisah tentang parapenghuni surga yang dirantai namun membuat semua orangheran kepadanya?” tanya Maryam. “Apa?” kata orang tua itu. “Adakah penghuni surga yangdiikat rantai?” Maryam mulai bercerita dengan kata-katanya yanglembut. “Tuhan kita adalah Zat Yang Mahatahu. Dia adalah juga Zat Yang Mahalembut, Mahatahu segala hal yangtersembunyi. Dengan limpahan anugerah dan karunia-Nya,Dia mewajibkan kita untuk menyembah, beribadah, kepada-Nya. Ibadah adalah panjatan rasa syukur seorang hamba. Yangterjadi, manusia sering mempermudah meninggalkan ibadah,meski diwajibkan bagi mereka. Lalu, bagaimana jika tidakdiwajibkan? Apa jadinya jika umat manusia menangguhkanibadah hingga waktu tua? Allah seolah-olah telah mengikatdiri kita dengan ibadah. Dia sangat cinta kepada para hamba-Nya yang terikat dengan rantai ibadah ini. Semoga Allahberkenan menjadikan kita sebagai hamba yang terikat denganiman dan cinta akan ibadah. Sungguh, betapa indah tali rantaiitu!” Mereka berdua tersenyum dan serempak mengucapkan,“Amin.” -o0o- Di Pnggr Sbuah olm Perjalanan Maryam bersama Isa, Merzangus, dan darwistua bernama Berdesyur telah hampir memasuki al-Qudssetelah melalui kota Gur. Kendaraan mereka hanya seekorkeledai. Mereka akan tinggal selama satu pekan sampai tibaHari Raya Fisih dan Sabat. Sambil mengucapkan salam kepada warga, merekaberjalan menuju pinggir sebuah kolam bernama Ab-i Hayatyang terletak di depan pintu Baitul Maqdis yang menghadaparah alun-alun. Benar seperti yang dikatakan Berdesyur. Saat itu, orang-orang yang menderita sakit telah berduyun-duyun memadatipinggir kolam Ab-i Hayat disertai keluarga dan kebanyakan cacat, buta, kusta, mandul, dan sebagianlagi mengalami gangguan jiwa. Sudah berhari-hari merekaberkumpul mengitari pinggiran kolam. Mereka bahkan relamembawa tempat tidur dan tikar demi dapat menunggukedatangan Hari Raya Fisih, sebuah hari untuk mengenangperistiwa pelarian Bani Israil dari perbudakan di Mesir. keyakinan pada masa itu, malaikat akan turunke kolam pada pagi Hari Raya. Siapa saja yang paling awalmencebur ke dalam kolam, ia akan mendapatkan penawardari segala macam penyakit dan segala permintaannyadikabulkan. Bahkan, ada orang yang kemudian menuturkanbahwa malaikat itu adalah putra Allah’. Padahal, Allah sendiriEsa, tak berputra dan tidak pula diputrakan. Keadaan inilahyang telah membuat Nabi Isa menangis. Keadaan ini tidak lain timbul akibat kebodohan dankemiskinan sehingga manusia kerap berputus asa. Merekapun terjerumus ke dalam kesalahan. Selain itu, sikap pararahib sebagai pembimbing umat yang memandang merekadengan jijik dan merendahkan semakin memperparahkeadaan. Para rahib itu telah teperdaya. Mereka terus-menerus mengumpulkan harta benda dan ikut terjun ke dalampolitik Romawi. Mereka meninggalkan kewajiban berdakwahkepada umat dan malah sibuk dengan urusan dunia. Keadaanseperti inilah yang membuat umat sangat butuh seorangpenyelamat. Dalam kerumunan orang-orang yang terbaring dipinggir kolam, Berdesyur memerhatikan setiap wajah untukmenemukan saudara kembarnya yang bernama dia menemukan seseorang yang sudah lanjut kurus, tinggal kulit dan tulang. Dalam keadaanseperti ini, tidak mungkin dirinya ikut berdesak-desakan kekolam. Dengan penuh kemarahan dan perasaan pedih, orangtua itu mulai berkata-kata... “Sudah 38 tahun aku di sini menantikan kedatangannyasetiap pagi pada Hari Raya Fisih. Namun, diriku hidupsebatang kara sehingga tidak ada seorang pun yang menuntun sampai ke pinggir kolam. Sudah 38tahun lebih aku menunggu. Namun, aku tidak juga bisa kesana, meski sekadar mendekat ke pinggir kolam. Ah... tidakada seorang pun yang sudi membantuku dan diriku tidak pulamemiliki tenaga. Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, dankemudian mengembuskan napas terakhir bersama denganpenderitaanku ini di sini. Dan mungkin, pada saat kematianku,tidak akan ada seorang pun yang peduli dengan jasadku.” Maryam sangat sedih melihat keadaan orang tua itu. Iasegera memberikan secangkir air segar. Ia ulurkan pula separuhroti kering untuk sedikit memberikan tenaga. Ardesyurmemerhatikan hal itu dengan penuh perasaan utang budi. “Wahai saudaraku, kini harapanmu untuk mendapatkankesembuhan telah berada di sampingmu. Dia adalah hambaAllah dan juga Rasul-Nya, Isa al-Masih. Insyaallah dia akanberdoa untuk kesembuhanmu sehingga engkau tidak lagi butuhuntuk masuk ke dalam kolam itu. Dengan izin Allah, engkaupasti akan mendapatkan kesembuhan,” kata Berdesyur. Nabi Isa terlihat sangat sedih menyaksikan keadaan orang-orang yang tertimpa musibah sakit itu. Sudah tiga kali ia menangis di dekat kolam. -o0o- “Wahai umat manusia!” seru Nabi Isa. “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikuAlkitab Injil dan menjadikan aku seorang nabi. Dia pula yangmenjadikanku seorang yang diberkati. Dia memerintahkankusalat dan zakat selama aku hidup serta berbakti kepadaibuku. Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagicelaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari akudibangkitkan. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataanyang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patutbagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telahmenetapkan sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya,Jadilah’! Maka jadilah sesuatu itu. Sesungguhnya Allah ituTuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalanyang lurus.” Kemudian, sambil menyebut dengan seizin Allah’ serayaberdoa, dengan izin Allah pula semua orang sembuhkan darisakitnya dalam seketika. “Sekarang, silakan Anda kembali ke rumah. Bawa ranjangdan tikarnya!” kata Nabi Isa. Itu adalah hari Sabat. Hari dilarang melakukan apa-apa. Mengumpulkan ranjang dan tikar untuk dibawa pulang kerumah melanggar adab di hari Sabat. Meski mereka merasatakut karena melanggar adat, kegembiraan telah sembuh darisakit yang selama ini mereka derita telah memberanikan dirimereka mengikuti anjuran al-Masih. Sementara itu, para rahib di Baitul Maqdis menganggapkejadian ini sebagai bentuk penentangan secara terang-terangan yang telah direncanakan sebelumnya. “Penentang ini telah sengaja melakukan semuanya demimenghina adat hari Sabat. Dia telah menghina adat kita. Secarasengaja dia menyembuhkan orang sakit dan menghidupkanorang mati di Hari Raya Sabat agar semua orang menaruhhormat kepadanya dan meninggalkan adat kita. Orang iniadalah ahli sihir, pembangkang yang akan menginjak-injak dan budaya kita. Jika dia masih melakukan hal yangseperti ini, budaya dan adat kita yang telah berlangsung selamaberabad-abad akan hilang ditelan bumi.” Sifat iri telah membuat Mosye menggigit jarinya karenatak kuasa menahan marah. Ia mengingkari hakikat yangbenar-benar telah nyata di depan mata. Sungguh, betapa menyedihkan keadaannya! -o0o- Orang-orang pun kembali ke rumah masing-masing… -o0o- Marym dn Buah Tn Merzangus baru saja kembali. Tugasnya sebagai bidantelah selesai. Tuan rumah yang dikunjunginya memberiimbalan sepiring penuh buah tin segar. Meski Merzangustelah menolak imbalan itu karena keadaan mereka yangmiskin, sang tuan rumah tetap memaksanya. “Mohon haturkan buah tin segar ini untuk Maryam. Kamiadalah keluarga yang sama sekali tidak memiliki Anda adalah orang terhormat rendah hati yang tidakakan mungkin menolak pemberian dengan setulus hati.” Dengan alasan inilah Merzangus menerima sepiringpenuh buah tin segar itu dengan senang hati. Buah tin segar itu berwarna hijau keunguan. Sebagiansudah begitu matang sampai pecah dan meleleh cairanmanisnya. Merzangus bertahmid kepada Allah yang telahmelimpahkan nikmat yang begitu segar, harum seperti misik,dan manis seperti madu. Maryam sangat menyukai buah tin, dan juga dua buah mulia yang telah dilimpahkan Allah sebagaianugerah kepada bangsa Palestina. sering berkata, “Manis madu buah tin ibaratperkataan seorang ahli hikmah. Jauh sebelum diriku menjadiseorang ibu, Allah juga telah menganugerahkan buah tinsehingga mihrab tempat diriku tumbuh besar bermandikanaroma wangi kesegaran madunya. Buah tin dan zaitunadalah kunci rahasia Palestina. Segala puji dan syukur hambapanjatkan kepada Allah, Tuhannya tin dan zaitun!” Berbinar-binar wajah Maryam saat melihat kedatanganMerzangus dengan sepiring penuh buah tin segar. Ia segerakumpulkan anak-anak yatim yang sedang menunggu di depanpintu. Gembira anak-anak yatim itu melahap buah tin Maryam semakin bahagia menyaksikan kegembiraananak-anak yatim itu. Ia belai rambut mereka. Maryam lalupergi menimba air dari sumur yang berada di dekat gubuknyaseraya mengajak anak-anak itu membasuh wajah itu, Maryam mengizinkan mereka untuk beberapalama bermain-main di sekitar sumur. Maryam sendiri duduk di bawah tenda yang tidak jauhdari tempat anak-anak yatim bermain. “Merzangus...!” panggil Maryam. “Tahukah kamu tentangkisah seorang penjual buah tin yang diceritakan Nabi Isa?” “Sebentar, biar saya panggil anak-anak kemari agar ikutmendengarkan cerita itu.” “Baiklah kalau begitu. Sekalian kita duduk-dudukmenunggu datang waktu salat.” Anak-anak yatim sudah berkumpul, duduk mengelilingiMaryam dengan suasana penuh kegembiraan. “Anak-anak!” kata Maryam mengawali cerita. “Pada suatu masa ada sebuah pasar yang teramat anehdibanding pasar-pasar pada umumnya. Ada seorang petani baik yang telah memetik buah tin yang segar darikebunnya untuk kemudian dijual di pasar itu. Namun, orang-orang yang datang untuk berbelanja di pasar itu sama sekalitidak melirik buah-buah tin yang segar dan baik itu. Merekajustru membeli buah tin mentah yang dipetik dengan melihat antusias para pembeli yang seperti itu, parapedagang jahat tidak ketinggalan untuk semakin berbuatjahat agar dapat menjadi kaya dengan cepat. Mereka memetiksemua buah tin yang masih mentah sebanyak-banyaknyauntuk segera dijual ke pasar. Dan ternyata, para pedagangitu mampu menjual buah tin dagangannya sesuai denganharapan. Para pembeli bahkan beramai-ramai memborongbuah tin itu dengan koin emas. Sementara itu, dagangan buahtin segar lagi baik milik seorang petani berhati baik samasekali tidak diminati. Sampai kemudian, semua orang ramai-ramai menderita sakit perut. Lagi, ada seorang tukang cuci yang mencuci pakaian milikpara pelanggannya dengan menggunakan air bersih dari sumurdi rumahnya. Pakaian para pelanggannya pun bersih orang ini justru tidak pernah mencuci pakaiannyasendiri. Tubuhnya bahkan dipenuhi kutu dan gatal karenapakaian yang dikenakannya begitu kotor.” Anak-anak yatim yang tadinya mendengarkan ceritadengan saksama kini tertawa sepuas-puasnya. “Sekarang wahai anak-anakku! Kalian pantas tertawamenyaksikan keadaan para orang tua yang seperti ini. Sungguhsayang, orang-orang yang sudah tua pun keadaannya dipenuhiironi. Ketahuilah, penjual buah tin itu adalah gambaranorang-orang dengan amal perbuatan mereka pedagang yang taat beribadah kepada Allah akan buah tin yang segar lagi baik, sementara para setanakan menipu manusia dengan berselimut di balik pun memilih berbuat dosa yang terasa manisterbungkus kebohongan. Padahal, dosa itu sesungguhnyaseperti buah tin yang pahit lagi menyakitkan. Sayang, manusiakebanyakan masih juga berpaling seraya memburu bujukansetan.” “Baiklah,” kata seoarang anak yatim yang pintar. “Kalauseorang yang tidak mencuci pakaiannya itu menggambarkanapa wahai Ibunda Maryam? Ataukah dia adalah gambaranseorang Mosye yang mengumpulkan dan menyiksa kamikarena telah mengemis di pasar?” Anak-anak yatim yang lain menyambut pertanyaan itudengan penuh tawa. “Ya benar. Tentu saja ia adalah seorang Mosye.” “Anak-anakku! Keadaan itu menggambarkan seorangyang berdakwah kepada orang lain namun dirinya sendirimengingkari apa yang dikatakannya. Orang-orang yangmengikuti apa yang dikatakannya benar-benar telah mendapatihakikat dan kebenaran sehingga menjadi bersih. Sayang, orangitu tidak mengikuti perkataannya sendiri, seorang munaikbermuka dua. Meski kata-katanya dapat membersihkan yanglain, ia tidak berarti sama sekali bagi dirinya sendiri.” Merzangus kemudian berseru... “Mari anak-anakku sekalian, sekarang sudah tiba waktusalat!” Hari bahkan sudah petang. Cahaya matahari telahberwarna jingga di seberang ufuk sana... -o0o- Sejti Sng Putra Allah mengutus Nabi Isa dan mendukungnya dengandalil-dalil serta mukjizat yang luar biasa. Ini terjadi karenakaumnya sangat keras kepala dan sombong. Bahkan, parapemimpin agama mereka ikut dalam barisan perusak danpembuat kejahatan. Hidayah dan nur yang telah dianugerahkanhilang lantaran kesombongan dan perbuatan zalim yangmereka lakukan. Allah juga menjadikan Maryam sebagai pendamping danpendukung putranya, yang juga sekaligus nabinya. Hidupnyayang pendek penuh dengan kesulitan-kesulitan yang wanita yang dipandang sebagai al-azizah atau wanitamulia dan terhormat yang telah menghadapi semua ujiandengan penuh kesabaran sepanjang hidupnya. Maryam adalah mukjizat agung yang telah dianugerahkanoleh Allah kepada Nabi Isa yang bersinar begitu adalah tamsil dari cahaya Ilahi. Lembut dan terang yangsenantiasa menjadi penopang, dinding tempat bersandar,serta selimut kehidupan bagi Isa dalam menunaikandakwahnya. umat Nabi Isa adalah orang-orang yang sangatsombong. Begitu banyak mukjizat yang dimiliki Nabi Isa dantidak pernah diberikan kepada nabi-nabi yang lain tak mampumeyakinkan dan meluruskan hati mereka. Pikiran dan hati para penduduk al-Quds tertutup rapatoleh dinding-dinding keingkaran yang begitu tebal sehinggamukjizat agung yang tampak di depan mata tidak diterimasebagai dalil oleh mereka, terutama soal kelahirannya yangtanpa seorang ayah. Padahal, mereka telah beriman kepadaNabi Adam dan Hawa yang tercipta tanpa seorang ayahdan ibu. Saat ini terjadi pada diri Nabi Isa, mereka justrumenyemburkan api itnah yang luar biasa. Salah satu hal yang membuat Allah murka kepada merekaadalah itnah kepada Maryam dengan tuduhan yang samasekali tidak terpuji. Kesalahan besar lainnya adalah membunuhNabi Zakaria dan Nabi Yahya. Padahal, keduanya adalahhamba dan utusan Allah yang diutus dari kalangan merekasendiri; kerabat dan keluarga mereka yang berbicara dalambahasa yang sama. Mereka dengan tega membunuhnya. Sungguh, hati mereka telah tertutup dengan tiraikeingkaran. Mukjizat Nabi Isa yang mampu mengubah burung darisegumpal tanah dan kemudian terbang tidak juga membuathati mereka luluh. Sebaliknya, mereka ingkar dan berkilahdengan berbagai sanggahan. “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tandamukjizat dari Tuhanmu...” Kekuatan untuk menghidupkan dengan tiupan telahAllah turunkan kepada Nabi Isa dengan perantaraanMalaikat Jibril. Malaikat Jibril juga telah meniupkan kekuatan kepada Maryam sehingga dia menjadi seorangibu yang mengandung Kalamullah, memikul tugas menjagaKalamullah. Demikianlah takdir seorang Maryam. Ia mengandung,memikul, merawat, dan mencurahkan kasih sayangnya... Dia adalah pengemban amanah. Sungguh, apa yang diterima Maryam dan Isa dari BaniIsrail adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima dan putranya sangat bertakwa menunaikan syariatMusa, berbicara dengan bahasa yang sama, dan berasal daribangsa mereka sendiri. Apalagi, Bani Israil bukanlah bangsayang belum pernah mengenal Tuhan. Kitab yang menjadipanduan dan dibaca sehari-hari telah memberitakan soalkedatangannya. Sayang, semua ini mereka tolak terang-terangan. Mereka memang telah menutup rapat-rapat hatidan jiwa dari menerima hakikat kebenaran. “Aku diutus untuk membenarkan kitab Taurat yang telahditurunkan sebelumku dan untuk menghalalkan beberapa halyang sebelumnya diharamkan untuk kalian. Aku membawamukjizat. Karena itu, takutlah kepada Allah dan taatlahkepadaku,” kata Isa dalam setiap menyampaikan dakwah. Bani Israil telah diharamkan memakan beberapa makanankarena perbuatan mereka yang sudah keterlaluan. Merekadilarang memakan hewan berkuku dan juga lemak dalamhewan ternak, seperti kambing dan sapi. “Semua ini adalah hukuman bagi mereka atas kezalimanyang telah diperbuatnya.” Iri dan dengkilah yang telah melandasi keingkaranmereka... harus Zakaria dan bukan aku?” begitulahpernyataan yang diungkapkan di antara para rahib. Pertanyaan-pertanyaan bernada iri dan kesombonganselalu berembus dari mulut dan hati mereka. “Mengapa Maryam dapat melihat malaikat sementara akutidak?” “Mengapa Isa yang mampu menghidupkan orang yangsudah mati, dan bukan aku?” Berpegang teguh pada adat yang mereka jadikan sebagaiagama adalah hal yang sejalan dengan keinginan hati itu akan semakin memberi kekuatan kepada para rahibuntuk mendapatkan harta dan juga otoritas politik. Merekamenyatakan diri sebagai pembimbing umat meski sebenarnyasebagai perusak. Ketika Isa berseru, “Allah adalah sesembahanku dan jugasesembahan kalian. Oleh karena itu, menghambalah kepada-Nya karena inilah jalan yang benar bagi kalian!”, mereka punmenentang seraya melakukan penyerangan. Suatu waktu, Nabi Isa dan Maryam menyadari sebuahrencana pembunuhan atas diri mereka. “Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka BaniIsrail, dia berkata Siapa yang akan membantuku menegakkanagama Allah?’ Para hawariun menjawab, Kamilah penolongagama Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah,bahwa kami adalah orang-orang muslim.” Maryam sangat mengasihi para hawariun. Sampai-sampai,pakaian yang mereka kenakan adalah hasil pintalan Maryamatau kaum wanita yang setia jadi pembantunya. Maryam jugamemanggil mereka dengan sebutan “anakku”. hawari yang Alquran telah bersaksi untuk merekaadalah Dua nelayan bersaudara bernama Petrus dan Andreas... Seorang ahli pajak bernama Matta... Kedua putra Zebedi bernama Yuhanna dan Yakub... Taddeus... Yahuda Toma.... Bartholomeus... Philiphus.. Yakub putra Alfeus... Gayyur Simun... Yahuda Iskariot pembangkang Para hawari ini telah berkata, “Kami beriman kepada apayang telah diturunkan Tuhan, kini catatlah kami ke dalamorang-orang yang bersaksi!” Mereka selalu menyertai Nabi Isa ke mana pun setiap perkataannya yang penuh dengan ajaranhikmah. Setelah kepergian Nabi Isa, mereka menyebar keseluruh penjuru dunia untuk mendakwahkan karena kezaliman dan tekanan yang selalu dilancarkanpara penguasa zalim, sebagian dari mereka telah wafatdengan syahid, sementara sebagian lagi dimasukkan ke dalampenjara. Semoga Allah menjadi pembela perjalanan yang ditempuhmereka... -o0o- Sepanjang hidup, Nabi Isa telah menjauhkan diri daripolitik. Isa yang tidak pernah tunduk kecuali kepada Allahjuga mau tidak mau dianggap sebagai pemeran politik atausosok yang dituduh para penguasa telah menggerakkanpenentangan. Karena itu, setiap penguasa merasa ajarantauhid yang didakwahkan Nabi Isa dianggap ancaman bagikekuasaannya. Penghormatan dan kecintaan penduduk kepada ibu danputranya itu kian hari dirasa makin mengguncang posisi politikpara penguasa. Padahal, apa yang diperjuangkan keduanyabukan pangkat dan dunia sebagaimana yang diperjuangkanpara penguasa itu. Ya, saat itu tata kehidupan Bani Israil dalam kondisi kacau kemelut. Ini disebabkan agama yang telah dijadikan alat untuk mendapatkan harta dan pangkat dunia. Saat para pemuka agama membicarakan agama, yangmereka katakan sama sekali kering dari ajaran dan hakikatsuci. Yang ada, agama yang telah diperbudak untuk agama akhirnya menimbulkan berbagai kezaliman,kerusakan moral. Singkatnya, segala segi kehidupan telahhancur dibuatnya. Tak heran jika dikatakan bahwa Ruh telah meninggalkanal-Quds’ sebelum Isa lahir dari rahim Maryam. Itulah salahsatu hikmah dari sebutan Ruhullah’ kepada Nabi Isa, yaitupenawar dahaga akan ruh bagi kota al-Quds yang kehidupannyatelah begitu materialistis dan dipenuhi hasrat duniawi. demikian, para penguasa selalu berlaku zalimterhadap Maryam. Maryam tidak pernah mengunjungi raja,tidak pula mendatangi istananya. Namun, setiap raja selalumembuntutinya. Terhadap aksi seperti itu, Maryam dan Isa telah berkatakepada umatnya, “Sebagaimana hikmah telah diserahkan olehmereka kepada kalian, serahkan pula dunia kepada mereka.” Sayang, kata-kata itu telah dimaknai dengan Hak Tuhanadalah untuk Tuhan, sementara hak Kaisar untuk Kaisar’.Ini membuat politik kezaliman dilancarkan dalam masaberkepanjangan. Padahal, sebagaimana pada kisah-kisah yangtelah kita coba ceritakan sebelumnya, Sang Ibu dan Putranyatidak pernah mengajarkan kezaliman. Kesabaran, ketabahan,dan kasih sayang justru dihadiahi perlakuan keji dari parapenguasa. -o0o- Marym dn Seeor Kijng Maryam sangat cinta pada bunga-bungaan, pada buahzaitun dan tin, pada keledai tunggangan milik Yusuf sangtukang kayu, pada pohon-pohon kurma, pada kupu-kupu,pada burung-burung, pada cicak, pada ikan.... Maryam sangat cinta dengan segala ciptaan Allah. Suatu hari, saat Isa sedang tidur di rumah, tiba-tiba datangseekor kijang mendekati rumah Maryam. Maryam tidak inginmembuat putranya terbangun dan tidak ingin pula kijang itulari menghindar. Ia hanya diam berdiri memandangi kijang itudari jendela. Seketika itu pula Maryam merasa mengenal kijang yang pernah menemani hari-harinya di Betlehemyang penuh kepedihan saat sang putra dilahirkan. Saat itu,kedatangan kijang yang juga sedang menyusui bayinya telahmenjadi hiburan dan teman bagi Maryam yang sedangmengasingkan diri selama empat puluh hari setelah ibu yang juga saling menyusui dan memandangi satusama lain. Kijang itu ternyata tidak takut dengan ajak anaknya mendekati Maryam dan Isa yang masih kijang itu meminum air dari tangan Maryam. kijang yang datang ini... Atau mungkin anak kijang itu yang kini telah menjadibesar? Dengan penuh tanya, Maryam terus memandangi kijangyang datang mendekati rumahnya itu. Ternyata, kijang itu menangis dan meneteskan air mata. Penuh kedua mata kijang dengan linangan air mata. Mengapa ia menangis? “Ya, Allah!” kata Maryam. “Jangan sampai terjadi sesuatu dengan anaknya!” Kemudian Maryam memerhatikan wajah anaknya yangsedang tertidur. Lelap tidurnya karena begitu lelah berjalandan bahkan berlari ke mana-mana untuk menunaikan tugasdakwah dari Allah sebagai nabi. Seorang yang hatinya setiapkali terasa remuk akibat kebengisan sebagian besar umatmanusia. Seorang nabi yang sama sekali tidak memiliki hartadunia apa-apa selain sehelai baju yang dikenakannya. Denganpenuh perhatian, Maryam terus memandangi wajah putranya. Jika saja Allah tidak berkenan mengaruniai kesabaran untuk berdakwah di jalan-Nya, baik Maryam maupun putranya tidak akan tahan dengan berat ujian kehidupan. Maryam terus memandang wajah putranya hinggameneteskan air mata dan mulai membasahi kaki putranya. Bagaikan mutiara tetes air mata Maryam terjatuh darikedua matanya. ditimba dari kedalaman sumur tempat Nabi Yusufdilemparkan. Laksana kobaran api cinta yang berubah menjadi tetesair mata untuk menyirami unggun api tempat Nabi Ibrahimdibakar. Isa al-Masih pun terbangun akibat tetesan air mata yangmembasahi kakinya. Ia segera bangkit sambil berucap salamhormat kepada ibunya. Isa melihat seekor kijang yang berjalan mendekatirumahnya. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman memahamibahasa burung-burung. Demikian pula dengan Nabi yang begitu bersih telah memberikan pemahamandengan cepat bahwa kijang itu sedang menangis untukanaknya, sebagaimana ibu yang sedang menangis karenanya. Maryam bersama putranya, semoga rahmat Allah tercurahbagi keduanya, segera mengikuti sang kijang. Ternyata, anak kijang yang masih kecil itu telah matitergeletak di dalam dinding sebuah gua karena dilukai parapemburu. Bukankah seekor kijang juga yang telah memberimakan kepada Nabi Ibrahim saat ia ditinggalkan di dindingsebuah gua? Maryam kembali memandangi wajah putranya denganlinangan air mata kasih sayang seorang ibu. Dalam catatan kitab-kitab terdahulu diriwayatkan bahwaIsa al-Masih dapat menghidupkan kembali anak kijang yangtelah mati itu dengan izin Allah. Demikianlah, orang-orang yang berlari menghindar dariraja dan orang-orang kaya akan mencatat kenangan merekatentang seekor kijang yang merana... -o0o- Marym dn Kam isin “Kita adalah makhluk teramat lemah, wahai saudara-saudaraku,” kata Maryam terhadap kaum perempuan yangmendatangi rumahnya. Padahal, kebanyakan orang yangbersandar di pintu rumahnya adalah dari kalangan fakir,yatim, atau kaum papa lainnya. Oleh karena itu, kelemahankodrat manusia tidak diperlukan sebagai pengecualian. Sebab,mereka memang kaum papa dan dipandang lemah oleh orang-orang kaya dan pengusaha. “Di mana pun kalian berada, takutlah senantiasa kepadaAllah. Setiap apa yang kalian makan, meski sesuap, harus darirezeki yang halal. Jadikanlah masjid-masjid sebagai orang yang mendukung rakyat yang lemah dan bukanorang yang memiliki kekuasaan di dunia. Ajaklah nafsumuuntuk menangis, hatimu untuk berzikir, dan badanmuuntuk terbiasa bersabar. Janganlah engkau menjadi orangyang merisaukan rezekimu di hari esok,” demikian tambahMaryam. Sayang, bukan hari esok, untuk sekarang pun mereka tidakmemiliki apa-apa dalam genggamannya. Dalam pandanganorang-orang yang butuh sesuap nasi ini, “hari esok” adalah yang amat panjang. Mereka sangat berharap dapatselamat melewatkan detik-demi detik yang sedang dialami. Lalu, mengapa Maryam masih juga berpesan tentangkesabaran? Dengan penuh kasih sayang, Maryam pun menerangkankepada kaum perempuan. “Suatu hari, seorang yang teramat fakir hidup di kotaal-Quds. Saking papanya, ia bahkan tidak memiliki rumahagar dapat berbaring saat tidur. Ia pun akhirnya tidak pernahmeninggalkan masjid. Kehidupan sehari-harinya dicukupidari pemberian sedekah para jamaah. Pada suatu hari, ketikaorang ini mengambilkan tongkat Nabi Uzair yang terjatuh,ia mendapatkan doa mustajab dari sang nabi. “SemogaAllah berkenan memberi sesuai dengan apa yang ada dalamhatimu.” Orang fakir itu pun berkata, “Dalam hatiku terdapatkeinginan untuk memiliki dua ekor kambing yangmenghasilkan susu yang banyak, wahai Nabi!” Sang nabi lalu memandangi wajah orang itu seolah-olahbertanya apakah tidak ada hal lain yang engkau minta?’ Meski tidak seberapa, para malaikat berkata, “Sayangsekali. Pedih rasanya mendengar permintaan itu.” Nabi Uzair pun heran. “Apa yang membuat berat permintaan itu?” pikir NabiUzair. “Dua ekor kambing bukan kekayaan yang dilarang danjuga perlu dirisaukan, bahkan ini adalah sebuah kebutuhan?” Sementera itu, dalam waktu yang cukup singkat, keduaekor kambing itu telah beranak pinak menjadi empat, delapan,tiga puluh, empat puluh, sampai-sampai dalam beberapa lamajumlahnya telah menjadi seribu ekor. Saking sibuk mengurusiternak, tidak ada waktu lagi untuk pergi ke masjid. Bahkan, keluar dari kota al-Quds untuk menetap di dulu biasa menunaikan salat secara berjamaah, kinihanya bisa seminggu sekali. Beberapa lama kemudian, iabahkan sama sekali tidak bisa berangkat ke masjid. Pekerjaandan kekayaannya telah membuatnya terlena. Beberapa lama kemudian, Nabi Uzair bertanya tentangkeadaan orang tersebut. Setelah mendapatkan jawaban, NabiUzair baru menyadari mengapa waktu itu para malaikatmenyayangkan permintaan tersebut. “Jika saja ia tetap tinggal di masjid dengan kehidupan yangsangat sederhana dari sedekah jemaah namun imannya tetapteguh....” Maryam melanjutkan perkataannya di hadapan para ibuyang telah berkumpul di rumahnya. “Wahai saudaraku! Dari cerita ini, kita paham bahwasetiap permintaan akan materi, yang sepintas hanya sebuahpermintaan yang wajar, sejatinya adalah sebuah perangkapdunia. Jika kekayaan akan memalingkan kita dari Allah,keadaan lapar tentu lebih baik daripadanya. Namun, kita jugamemohon perlindungan Allah dari kelaparan dan kefakiranyang justru malah memalingkan kita dari Allah.” Setelah selesai cerita Merzangus pun segera membagi-bagikan kue yang ada di keranjang kepada para tamu. Setiap kali Maryam menyinggung masalah kekayaan dankefakiran, ia selalu berpesan, “Awas, hati-hati! Jangan sampaikita berdiri dengan kedatangan seseorang karena sampai berbuat demikian, iman kita bisa hilang. Jikaada orang yang berhak untuk kalian hormati dengan berdiri,mereka adalah ayah dan ibu. Dan juga terhadap haiz danpembaca Taurat yang fasih, hormatilah kedatangan merekadengan berdiri.” juga berada di depan ibu dan para haiznya. Segeraia berdiri seraya memberi tempat kepada mereka. -o0o- Maryam dan Nabi Isa terikat pada syariat Musa . Meskidemikian, mereka justru mendapatkan perlakuan jahat daribangsanya. Para alim Bani Israil tidak juga mau menerimanyasebagai utusan dari Allah. Selain itu, kedudukan para rahib sebagai pemuka agama,yang secara politik dan ekonomi merupakan kedudukanmapan dalam kasta atas, membuat mereka kebal hukumdan memiliki status ekonomi tinggi. Mereka bisa membuatperaturan yang menguntungkan sekehendak hati. Bebas daripungutan pajak. Bebas membuat kebijakan demi kepentinganpolitik mereka. Menurut Maryam, mereka “telah beraktivitas dalamkeburukan”. Mereka menjual agama demi mendapatkan duniayang fana. Isa dan Maryam, setiap kali ada kesempatan, selalumenyampaikan apa yang telah dilakukan Bani Israil. “Kata-kata Anda sekalian adalah obat yang menyembuhkanpenyakit, namun perbuatan Anda sekalian adalah derita yangtidak bisa diobati.” Dan sungguh, tidak ada hal yang jauh lebih berbahayadaripada alim agama yang tidak sama antara perkataan danamal perbuatannya. Maryam sering mengatakan demikian tentang paraalim agama yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya. adalah orang-orang yang kata-katanya adalahmakanan, sementara amal perbuatannya racun!” Sepanjang hidup, Maryam selalu belajar dan mengajar. Dialah guru sejati, yang baik dan kuat perkataannya. Guru yang memberikan kesan tak terhapuskan. Baginda Rasulullah Muhammad sering bersabda saatputri beliau, Fatimah az-Zahra, bertutur kata baik lagi penuhhikmah. “Dalam bertutur kata penuh hikmah, engkau mirip sekalidengan wanita surga Maryam putri Imran, wahai putriku.” Suatu saat, asap dapur keluarga Rasulullah tidak mengepulselama beberapa hari. Fatimah lalu datang kepada Rasulullah dengan berlari membawa sepiring makanan yang mungkinia dapatkan dari hadiah tetangga. Senang sekali anggotakeluarga dengan kedatangan Fatimah. Saat itu Rasulullah bertanya kepadanya tentang asal makanan itu. Fatimah pundengan tersenyum manis menjawab, “Dari Allah, wahaiRasulullah. Dari Allah yang tiada terhitung limpahan rezeki-Nya.” Mendapat jawaban yang baik ini, Rasulullah menyanjungputrinya dengan bersabda bahwa dirinya mirip sekali denganMaryam. Rasulullah kemudian mencium keningnya. Fatimah dan Maryam sangat simetris, bayangan satu samalain dalam hal sikap dan sifat. 441
maryam bunda suci sang nabi pdf