Kecap panganteur kata keadaan (kata pengantar kata keadaan) : breg hujan, plong ngemplong, bray caang, jep jempe, cep tiis. Kembali ke pembahasan tentang "kata pengantar" yang dalam bahasa Sunda disebut "panganteur", seperti di dalam bahasa Indonesia, kata pengantar biasanya merupakan kata-kata yang diberikan oleh penerbit atau pengarang suatu Penggunaan bahasa Sunda kuno antara lain tercatat dalam prasasti berbahan batu alam seperti Prasasti Kawali di Ciamis, dan Prasasti Batutulis di Bogor, juga dalam prasasti berbahan pelat tembaga seperti Prasasti Kabantenan dari daerah Bekasi. [8] [9] Peninggalan lain yang mendokumentasikan penggunaan bahasa Sunda Kuno yaitu pada naskah-naskah Dalam bahasa Sunda terdapat kata-kata yang penulisannya sama dengan bahasa Indonesia. Namun, dalam artinya berbeda. Berikut diantaranya: 1. Mangga. Dalam bahasa Indonesia mangga mengandung makna salah satu buah-buahan. Untuk menyebut jenis mangga, di Sunda biasa disebut buah, misal buah aromanis, buah cengkir, buah gedong gincu, buah kawéni, dll. 1. Jenis Ciri Dalam bahasa Sunda terdapat beberapa jenis ciri, seperti berikut: a. Ciri Konstruksi, Ciri Fungsi, dan Ciri Semantik Dalam bahasa Sunda terdapat kata majemuk yang mengandung ciri konstruksi, fungsi, dan semantik sekaligus. Misalnya, adu tawar ‘tawar menawar’. Berikut ini beberapa ungkapan dalam bahasa Sunda beserta arti dan konteks yang ada di dalamnya: 1. Kuma manéh wé! Ungkapan ini lengkapnya dari kumaha man é h w é! mengandung arti "bagaimana kamu saja lah", "gimana kamu saja", atau "terserah elu!". Dalam bahasa Sunda lebih kasar biasa diungkapkan "kuma sia we!" Kata bilangan tingkatan/tahapan dalam bahasa Sunda memakai morfem ka-. Contoh: Urusan kahiji geus bérés, ayeuna dituluykeun ka gawéan kadua. (urusan pertama sudah selesai, sekarang dilanjutkan ke kerjaan kedua.) C. Kata Bilangan Kumpulan Contoh: Di rohangan tamu aya nu keur diuk duaan. (Di ruang tamu ada yang sedang duduk berdua.) vmNh7R.

contoh kata pengantar dalam bahasa sunda